Rabu, 16 Mei 2012

Makalah Surat Al-Asr Ayat 1-3


BAB I
PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Al-Qur’an adalah kitab yang oleh Rasulullah SAW dinyatakan sebagai Ma’dubatullah (Hidangan Ilahi). Hidangan ini membantu manusia memperdalam pemahaman dan penghayatan tentang Islam dan merupakan tentang pelita bagi umat islam dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
Di dalam Al-Qur’an terdapat 4 pokok kegitan terbebas dari kerugian (1) Beriman (2) Beramal Sholeh (3) Saling berwasiat kepada kebenaran (4) Saling berwasiat kepada kesabaran.
Tulisan ini dimaksudkan sekedar ikut memberikan sumbangan kecil dalam rangka menjelaskan bagaiman memanfaatkan waktu yang mengacu pada surat al-asr ayat 1-3
1.2 Rumusan Masalah
1.    Apa yang terkandung dalam surat Al-Asr ayat 1-3 ?
2.    Bagaiman cara manusia bisa terbebas dari kerugian ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.    Untuk mengatahaui yang terkandung dalam surat Al-Asr ayat 1-3
2.    Agar tahu bagaimana cara manusia bisa terbebas dari kerugian


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Makna Surat Al-Asr ayat 1-3
ÎŽóÇyèø9$#ur ÇÊÈ   ¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ   žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏJtãur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# (#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/ (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/ ÇÌÈ  
1)    Demi masa.
2)    Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3)    Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran[1].

B. Penafsiran
ŽóÇyèø9$#u

Al-Asr : Masa
`»|¡SM}$
Al-Insan : adalah satu Jenis Makhluk Tuhan yang dikenal dengan nama Manusia
اَلْخُسْر
Al-Khusr : atau al-Khusran, Artinya Berkurangnya atau lenyapnya modal (rugi). Maksudnya ialah tenggelamnya manusia kedalam hal-hal yang merusak dirinya
,ysø9$$
Al-Haqq : adalah suatu hakekat yang mantap dan kokoh, yang ditunjang oleh dalil kongkrit, atau bukti nyata dan peraturan yang dibawa oleh Nabi SAW
Žö9¢Á9$$
As-Sabr : kekuatan jiwa yang membuat manusia mampu menahan kesengsaraan dalam melakukan amal kebajikan sehingga, dengan kekuatan jiwa ini, seseorang akan mudah melewati berbagai rintangan di didalam rangka menuju tujuan yang mulia.
( Èd,ysø9$$Î/#öq|¹#uqs?ur
At-Tawsaubil Haqq :  Saling memberi wasiat antara sesama kepada suatu keutamaan dan kebaikan tidak diragukan lagi
( ÎŽö9¢Á9$$Î/#öq|¹#uqs?ur
At-Tawasaubis-Sabr : saling mewasiatkan antara sesama kepada sikap sabar. Dan kenyataan ini tidak bisa diterima dan tak bermanfaat kecuali jika seseorang terlebih dahulu harus menyempurnakan dirinya (Dapat memberi contoh) .jika tidak demikian halnya maka bernarlah apa yang dikatakan oleh Abul Aswad Ad-Dualy dalam bait syair berikut ini : [2]
يا يها الرجل المعلم غير ه ذ هلا لنفسك كان ذ التعليم
C. Penjelasan
ŽóÇyèø9$#ur
Allah SWT. Bersumpah dengan memakai Masa, sebab mas itu mengandung banyak pristiwa dan contoh yang menunjukkan kekuasaan-Nya, disamping menunjukkan betapa bijaksananya Allah. Coba lihat, apa yang terkandung dalam masa itu. Misalnya, bergantinya antara siang dan malam, yang keudanya merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah Hal ini seperti dalam firman Allah :
ô`ÏBur ÏmÏG»tƒ#uä ã@øŠ©9$# â$yg¨Y9$#ur ߧôJ¤±9$#ur ãyJs)ø9$#ur
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. (Q.S. Fussilat : 37)
Dan lihatlah apa yang terjadi di dalamnya : bahagia, sengsara, sehat dan sakit, kaya, miskin, santai, capai, susah, bergembira dan lain sebagai-nya. Semua itu menunjukkan kepada orang-orang yang berakal waras, bahwa alam semesta ini ada yang menciptakan dan mengaturnya. Seharus-nya, Allah -lah yang disembah dan diminta, sehingga dapat menghilang-kan segala bentuk kesusahan dan menarik kebaikan. Tetapi, kaum kafir mengaitkan bencana dan berbagai peristiwa kepada masa. Mereka menga-takan, "Bencana ini bersumber dari masa, atau masa itu adalah masa paceklik.
Kemudian Allah mengajarkan kepada mereka bahwa masa itu ada­lah salah satu di antara makhluk Allah. Masa itu merupakan wadah yang di dalamnya terjadi berbagai peristiwa baik atau buruk. Jika seseorang tertimpa musibah, maka semua itu karena perbuatannya sendiri, dan masa (zaman) tidak ikut bertanggung jawab.
¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz
Sesungguhnya manusia itu adalah mgi dalam amal perbuatannya, kecuali orang-orang yang Allah kecualikan. Perbuatan manusia itu me­rupakan sumber kesengsaraannya sendiri. Jadi, sebagai sumbemya bukan-lah masa atau tempat. la sendirilah yang menjerumuskan dirinya kc dalam kehancuran. Dosa seseorang terhadap Yang Maha Menciptakan dan Yang Maha Menganugerahi kenikmatan dan dapat dirasakan olehnya, adalah per-buatan yang paling berdosa. Hal inilah yang menyebabkan hancurnya diri sendiri.
Yakinlah dengan i'tikad yang benar. Bahwa alam semesta ini hanya memiliki satu Tuhan Yang Maha Menciptakan dan yang memberikan rida kepada orang yang taat, dan murka kepada orang-orang yang berbuat mak-siat. Dan yakinlah bahwa di antara keutamaan dan keburukan itu sangat berbeda. Dengan demikian, perbedaan ini dapat dijadikan sebagai pen-dorong untak berarnal baik atau kebajikan. Jadi, setiap orang itu haruslah bisa bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, atau kebaikan seseorang hendaknya dapat dirasakan oleh orang lain.
Kesimpulannya, bahwa perbuatan mereka itu membuang hal-hal yang bersifat sementara, dan lebili memilih hal-hal yang bersifat abadi. Alangkah beruntungnya mereka dalam transaksi ini, dan betapa baiknya perilaku mereka.
(#öq|¹#uqs?ur Èd,ysø9$$Î/
Mereka saling berwasiat antar sesama agar berpegang pada kebenar-an yang tak diragukan lagi, dan kebaikan-kebaikan itu tidak akan lenyap bekas-bekasnya, baik di dunia maupun di akhirat. Hal yang baik ini ter-simpulkan di dalam iman kepada Allah, mengikuti ajaran-ajaran Kitab-Nya dan mengikuti petunjuk-petunjuk Rasulullah dalam seluruh tindakan, baik mengenai perjanjian atau perbuatan dan lain sebagainya.
 (#öq|¹#uqs?ur ÎŽö9¢Á9$$Î/
Mereka saling mewasialkan antar sesama kepada kesabaran dan dan menekankan diri untuk tidak berbuat maksiat, yang biasanya disenangi oleh ma­nusia yang nalurinya senang terhadap hal-hal seperti ini. Di samping iiu, sabar dalam taat kepada Allah, yang biasanya sangat berat dilaksanakan oleh umat manusia Juga bersabar dalam menghadapi berbagai cobaan Allah uniuk menguji hamba-hamba-Nya. Semuanya itu diterima dcngan rela hati, lahir dan batin. Di dalam rangka menyelamatkan diri dari kerugian ini, maka umat manusia harus mengetahui kebenaran, kemudian mengikatkan dirinya dengan kebenaran tersebut, di samping memantapkan di dalam hati. Kemudian, ia akan mengajak kepada kawan-kawan agai menempuh jalan kebenaran ini, di samping menjauhkan diri dari dugaan dan khayalan tidak menejuu yang menggoda jiwa dan tak ada dalil yang bisa dipegang untuknya[3].
D. Munasabah
Pada surah sebelumnya, Allah menjelaskan tentang keadaan orang-crang yang har.ya gemar menyombongkan diri dengan memperbanyak harta dan hal-hal lain yang dapat melupakan taat kepada Allah. Di dalam surah ini, Allah menjelaskan bahwa wau .manusia itu selalu cenocrung kepada kerusakan dan membawa dirinya dalam kehancuran. Kecuali orang-orang mendapal pemeliharaan Allah, dan jiwanya dibersihkan dari kecenderungan-kecenderungan yang merusak. Jadi, seakan-akiin isi su­rah ini merupakan sebab dari isi surah sebelumnya. Hanya saja, di da'.am surah sebelumnya dijelaskan tentang sifat-sifat orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya dan menguculi selan, sehingga dirinya berada dalam kehancuran. Di dalam surah ini dijelaskan tcntang orang yang mempercaniik dirinya dengan perwatakan yang baik. Karenanya, ia ber-iman kepada Allah dan bcramal saleh, di samping saling mcmberi wasiat agar berpegang teguh kepada kebenaran dan sabar dalam menghadapi tantangan-tantangan.
E.  Waktu
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia paling tidak terdapat empat arti kata “Waktu” :
1.  Seluruh rangkaian saat yang telah berlalu, sekarang dan yang akan datang
2.  Saat tertentu untuk menyelesaikan sesuatu
3.  Kesempatan, Tempo atau peluang
4.  Ketika atau saat terjadi sesuatu
Al-Qur’an mengunakan beberapa kata untuk menunjukkan makna diatas seperti :
a)  Ajal : Untuk menunjukkan berakhirnya sesuatu, seperti berakhirnya usia manusia atau masyarakat.
b)  Dahr digunakan untuk saat berkepanjangan yang dilalui alam raya dalam kehidupan dunia ini, yaitu sejak diciptakannya sampai punahnya alam semesta ini
c)  Waqt digunakan dalam waktu batas akhir kesempatan atau peluang untuk menyelesaikan suatu pristiwa. Karena itu sering kali Al-Qur’an mengunakannya dalam konteks kadar tertentu dari suatu masa.
d)  Ashr kata ini bisa diartikan waktu menjelang terbenamnya matahari tapi juga dapat diartikan sebagai “masa” secara mutlak. Makna terakhir ini diambil berdasarkan asumsi bahwa ‘Ashr” merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan manusia. Kata ashr sendiri bermakna perasaan seakan –akan masa harus digunakan oleh manusia untuk memeras pikiran dan keringat dan hal ini hendaknya dilakukan kapan saja sepanjang masa.
1)  Mengisi Waktu
Al-Qur’an memerintahkan ummatnya untuk memanfaatkan waktu semaksimal mungkin bahkan dituntut manusia untuk mengisi waktu ashr (Waktu) nya dengan berbagai amal dengan mempergunakan semua daya yang dimilikinya.
Dari sini ditemukan bahwa Al-Qur’an mengecam secara tegas orang yang mengisi waktunya dengan bermain tanpa tujuan tertentu misalnya kanak-kanak. Atau melengahkan sesuatu yang lebih penting seperti sebagian remaja sekedar mengisi waktunya untuk berhias, atau menumpuk harta benda dan memperbanyak anak dengan tujuan berbangga seperti halnya banyak dilakukan orang tua.
Kerja atau amal dalam bahasa Al-Qur’an sering kali dikemukakan dalam bentuk indefinitif (Nakiroh) bentuk ini oleh pakar bahasa dipahami sebagai memberi makna umum sehingga amalan yang dimaksud mencakup segalam macam jenis  kerja perhatikan mislanya Firman Allah  SWT dalam Surat Ali Imran ayat 195 :
Iw ßìÅÊé& Ÿ@uHxå 9@ÏJ»tã Nä3YÏiB `ÏiB @x.sŒ ÷rr& 4Ós\Ré&
Aku (Allah) tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan.
Bahkan Al-Qur’an tidak hanya memerintahkan asal bekerja sama, tapi bekerja dengan sungguh-sungguh sepenuh hati. Al-Qur’an tidak memberi peluang kepada seseorang yang tidak melakukan suatu aktifitas kerja sepanjang saat yang dialaminya dalam kehidupan dunia ini. Surat Al-Ash dan dua ayat terakhir dari surat Alam Nasrah menguraikan secara gamblang mengenai tuntunan diatas.
2)  Menyia-nyiakan waktu
Jika anda bertanya apakah akibat yang akan terjadi jika kita menyia-nyiakan waktu? salah satu jawaban yang paling gamblang adalah ayat pertama dan kedua surat Al-Ashr. Allah memulai surat ini dengan bersumpah Wal Ashr (Demi Masa) untuk membantah anggapan sebagian orang yang mempersalahkan waktu dalam kegagalan mereka, tidak ada sesuatu yang dinamai masa sial atau masa mujur karena yang berpengaruh adalah kebaikan dan keburukan usaha seseorang dan Allah juga bersumpah dengan ashr yang arti harfiyahnya adalah memeras sesuatu sehingga ditemukan hal yang paling tersembunyi padanya untuk menyatakan bahwa Demi masa saat manusia mencapai hasil setelah memeras tenaganya, sesungguhnya ia merugi apapun hasil yang dicapainya itu kecuali jika ia beriman dan beramal sholeh.
Kerugian tersebut baru disadari setelah berlalunya masa yang berkepanjangan yakni paling tidak akan disadari pada waktu ashr kehidupan menjelang hayat terbenam[4].
¨bÎ) z`»|¡SM}$# Å"s9 AŽô£äz ÇËÈ  
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
Masa adalah modal utama manusia. Apabila  tidak diisi dengan kegitan, waktu akan berlalu begitu saja ketika waktu berlalu begitu saja. Jangankan keuntungan diperoleh modalpun telah hilang. Sayyidina Ali Bin Abi Thalib ra pernah berkata : “ Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih bisa diharapkan perolehannya lebih banyak dihari esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini tidak mungkin kembali esok.[5]
BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
1)     Surat Al-Asr ayat 1-3 menerangkan tentang “Memanfaatkan Waktu dengan empat pokok kegiatan terbebas dari kerugian”
2)     Cara manusia agar terbebas dari kerugian yaitu :
-        Beriman
-        Beramal Sholeh
-        Saling Berwasiat pada kebenaran
-        Saling berwasiat pada kesabaran
B. Saran
Tulisan ini dimaksudkan sekedar  ikut memberikan sumbangan kecil dalam rangka menjelaskan bagaimana memanfaatkan waktu yang mengacu pada surat Al-Asr ayat 1-3.
Akhirnya mengingat bahwa segala sesuatu tidak ada yang sempurna, maka jika para pembaca ada yang menjumpai kekeliruan pada penulisan ini, asupan pikiran dan saran dari para pembaca merupakan ilmu bagi penulis. Harapan kami semoga pembaca puas dengan adanya makalah ini.


DAFTAR PUSTAKA

1)     Al-Maraghi, Ahmad Mustofa. Tafsir Al-Maraghi. Toha Putra. Semarang.1974
2)     Jalaluddin Muhammad Bin Akhmad Al-Makhalli dan Al-Syekh Mutabakhar. Kitab Jalalain. Surabaya
3)     Shihab, Quraish, Tafsir Al-Misbah. Lantera Hati. Jakarta.2002. Vol.15
4)     Zuhri, Muhammad Drs, Terjemah Juz Amma. Pustaka Amani. Jakarta. 2007





[1] Terjemah Juz’Amani. Pustaka Amani
[2] Tafsir Al-Maraghi Hal : 409
[3] Tafsir AL-Maraghi. Hal 410-411
[4] Tafsir Al-Misbah. Volome. 15
[5] Kitab Jalalain Hal. 270

World Clock