Senin, 02 April 2012

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)




Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyaroh Dalam Mengatasi Rendahnya Kemampuan Berbicara dengan Menggunakan Bahasa Arab Pada Materi Bahasa Arab di kelas VII- di MTS Darul Ulum Gondang Bangil. Tahun Pelajaran 2011/2012

A.      Latar Belakang
Pendidikan Bahasa Arab sudah dimulai sejak di sekolah tingkat dasar (Madrasah ibtidaiyah). Pendidikan itu dilanjutkan di sekolah menengah tingkat pertama (Madrasah tsanawiyah). Aktivitas pembelajaran berjalan biasa-biasa saja. Kalau ada masalah pada tingkat ini tidak begitu mendapat perhatian, karena segera dimaklumi bahwa pelajaran bahasa Arab belum mendapat perhatian begitu serius untuk pelajar setingkat ini.
Di samping itu juga masih ada anggapan bahwa pelajar tingkat tsanawiyah adalah pelajar yang belum lama mempelajari bahasa Arab sehingga masalah yang timbul dipandang sebagai suatu kewajaran dan tidak menimbulkan kerisauan. Lain halnya apabila masalah itu muncul di sekolah menengah tingkat atas (aliyah). Para pengajar akan merasakan langsung masalah-masalah dalam pendidikan bahasa Arab di tingkat ini. Masalah tersebut tidak lagi bisa dianggap sebagai masalah yang dapat dimaklumi begitu saja seperti ketika di tingkat tsanawiyah. Dengan demikian permasalahan pendidikan bahasa Arab baru muncul di tingkat aliyah, karena mulai mendapat perhatian ‘agak’ serius.
Misalnya dalam hal keterampilan berbicara berbahasa arab, keterampilan berbicara bahasa arab merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh siswa dalam rangka mengembangkan kemampuan berbahasa asing, dalam hal ini bahasa Arab. Metode yang digunakan harus mampu bisa membuat siswa tertarik dan senang dalam proses pembelajaran. Hal inilah yang disinyalir masih jarang atau bahkan tidak dilaksanakan sama sekali oleh beberapa sekolah yang mengajarkan bahasa Arab.
Dari sinilah muncul beberapa masalah yang menjadi akibatnya, antara lain : siswa tidak menyukai pelajaran bahasa Arab karena pembelajaran yang monoton, atau siswa merasa kesulitan untuk mempelajari bahasa Arab, khususnya berbicara bahasa Arab. Hal seperti ini juga dialami oleh siswa kelas VII MTs Darul Ulum Gondang Bangil.
Berdasarkan pengalaman penulis di lapangan, rendahnya kemampuan berbicara siswa menggunakan bahasa arab dalam belajar rata-rata dihadapi oleh sejumlah siswa yang memiliki minat sedikit untuk belajar. Sehingga siswa kurang mampu berbicara menggunakan bahasa arab. Hal ini disebabkan karena guru dalam proses belajar mengajar hanya menggunakan metode ceramah dan hanya terpaku dengan adanya buku panduan serta lembar kerja siswa (LKS) tanpa menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa.
Untuk itu dibutuhkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru dengan upaya membangkitkan minat dan motivasi belajar siswa, misalnya dengan membimbing siswa untuk menggunakan mufrodat yang telah diberikan guru untuk berbicara kepada siswa yang lainnya, sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu berbicara menggunakan bahasa arab.
Berdasarkan uraian tersebut di atas penulis mencoba menerapkan salah satu metode pembelajaran, yaitu metode Thoriqoh Mubasyarah untuk mengungkapkan apakah dengan model penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa. Penulis memilih metode pembelajaran ini supaya mengkondisikan siswa untuk terbiasa berbicara menggunakan bahasa arab.
 Dalam metode Thoriqoh Mubasyarah siswa lebih aktif dalam pembelajaran bahasa arab. sedang guru berperan sebagai pembimbing atau pemberi materi dengan menggunakan media pembelajaran yang bersifat penunjang.


Dari latar belakang tersebut di atas maka penulis dalam penelitian ini mengambil judul "Efektifitas Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah dalam Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Arab Siswa Di Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.

B.       Masalah yang diangkat oleh peneliti:
1.      Rendahnya kemampuan siswa dalam hal berbicara menggunakan bahasa Arab.
2.      Guru hanya menggunakan metode ceramah.
3.       Guru hanya terpaku dengan adanya buku panduan serta lembar kerja siswa (LKS).
4.      Guru tidak menggunakan alat peraga atau media pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan berbicara bahasa arab siswa.

C.      Solusi
            Penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah, misalnya dengan cara membimbing siswa untuk menggunakan mufrodat yang telah diberikan guru untuk berbicara kepada siswa yang lainnya, sehingga sedikit demi sedikit siswa mampu berbicara menggunakan bahasa arab.

D.      Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka permasalahan yang hendak di kaji dapat dirumuskan sebagai berikut :
  1. Bagaimana pelaksanaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam mengatasi kesulitan berbicara bahasa Arab pada siswa kelas kelas Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
  2. Bagaimana pengaruh metode Thoriqoh Mubasyarah dalam meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab siswa di kelas Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
E.       Tujuan Penelitian
Sesuai dengan masalah yang hendak di kaji tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk :
  1. mengetahui pengaruh dari penerapan Thoriqoh Mubasyarah pada siswa  Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
  2. mengetahui peningkatan kemampuan bebicara bahasa arab siswa setelah diterapkannya Thoriqoh Mubasyarah pada siswa  Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.?
.
F.       Hipotesis Tindakan
Dengan menggunakan Metode Thoriqoh Mubasyarah Dapat meningkatkan kemampuan berbicara menggunakan bahasa Arab pada siswa Kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.

G.      Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian, diharapkan dapat meberikan manfaat, antara lain:
1.         Lembaga
Sebagai pemberi informasi tentang hasil dari penggunaan metode Thoriqoh Mubasyarah dalam proses belajar mengajar khususnya Bahasa Arab, serta sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga dalam memberikan kebijakan kepada para guru dalam penyampaian materi Bahasa Arab.
2.         Guru
Agar guru lebih mudah dalam menyampaikan materi yaitu secara praktis, efektif dan efesien dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal, serta untuk menambah wawasan tentang penggunaan metode pembelajaran.



3.         Siswa
Siswa agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru serta lebih mudah dalam memotivasi kegiatan belajar materi Bahasa Arab khususnya dalam hal berbicara menggunakan bahasa Arab.

H.      Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:
1.         Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah rendahnya kemampuan berbicara bahasa Arab siswa di kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.
2.         Penelitian tindakan kelas ini dikenakan pada siswa kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil.
3.         Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MTs. Darul Ulum Gondang Bangil..
4.         Dalam penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2011/2012.
5.          Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi siswa dalam kemampuan berbicara dengan  menggunakan bahasa arab.

I.         Definisi Operasional
Variabel Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan hal-hal sebagai berikut:
1.    Metode Langsung adalah metode bahasa yang dalam pelaksanaannya menolak pemakaian bahasa ibu pelajar. Metode ini memiliki tujuan yang terfokus pada peserta didik agar dapat memiliki kompetensi berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan belajar mengajar bahasa Arab dilaksanakan dalam bahasa Arab langsung baik melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan secara langsung dengan bahasa peserta didik dihindari.

2.    Kemampuan berbicara adalah :
Kemampuan yang dimiliki  seseorang dalam berkomunikasi menggunakan bahasa tertentu, dalam hal ini khususnya mampu atau bisa berbicara dengan menggunakan bahasa arab dengan baik dan benar.

J.        Kajian Pustaka
1.         Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
a.    Sejarah Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
Metode yang lazim digunakan dalam pengajarannya adalah metode langsung (tariiqah al – mubasysyarah). Munculnya metode ini didasari pada asumsi bahwa bahasa adalah sesuatu yang hidup, oleh karena itu harus dikomunikasikan dan dilatih terus sebagaimana anak kecil belajar bahasa.
Berdasarkan asumsi yang ada dalam proses berbahasa antara Ibu dan anak, maka F.Gouin (1980-1992) mengembangkan suatu metode yang diberi nama dengan metode langsung (thariqah mubasyarah), sebuah metode yang sebenarnya juga pernah digunakan dalam dunia pembelajaran bahasa asing abad XV). Metode ini mendapatkan momentum yang baik sejak jaman Romawi ( pada awal abad ke-20) di Eropa dan Amerika, serta digunakan baik dinegara Arab maupun di negara-negara Islam di Asia termasuk Indonesia pada waktu yang bersamaan.
b.    Definisi Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
Dari sejarah singkat distas adapat diartikan bahwa Metode Langsung adalah metode bahasa yang dalam pelaksanaannya menolak pemakaian bahasa ibu pelajar.
Metode ini memiliki tujuan yang terfokus pada peserta didik agar dapat memiliki kompetensi berbicara yang baik. Karena itu, kegiatan belajar mengajar bahasa Arab dilaksanakan dalam bahasa Arab langsung baik melalui peragaan dan gerakan. Penerjemahan secara langsung dengan bahasa peserta didik dihindari.
c.    Karakteristik Metode Thoriqoh Mubasyarah
Metode ini memiliki beberapa karakterisktik, diantaranya adalah:
1)        Memberi prioritas tinggi pada keterampilan berbicara sebagai ganti keterampilan membaca, menulis dan terjemah.
2)        Basis pembelajarannya terfokus pada teknik demonsratif; menirukan dan menghafal langsung, dimana murid-murid mengulang-ngulang kata, kalimat dan percakapan melalui asosiasi, konteks dan definisi yang diajarkan secara induktif yakni berangkat dari contoh-contoh kemudian diambil kesimpulan
3)        Mengelakan jauh-jauh penggunaan bahasa ibu pelajar
4)        Kemapuan komunikasi lisan dilatih secara tepat melalui Tanya jawab yang terancang dalam pola interaksi yang bervariasi
5)        Interaksi antara guru dan murid terjalin secara aktif, dimana guru berperan memberikan stimulus berupa contoh-contoh, sedangkan siswa hanya merespon dalam bentuk menirukan, menjawab pertanyaan dan memperagakannnya.
d.   Kelebihan dan Kekurangan Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
Diantara kelebihan-kelebihan Metode Langsung (الطريقة المباشرة) yang di ungkapkan oleh para pakar bahasa:
1)        Kita dapat menhindarkan diri dari menyuruh pembelajar menghafal bahasa baku yang baku yang kadang-kadang tidak sesuai dengan pemakaian bahasa yang sesungguhnya dalam masyarakat.
2)        Perhatian dan kegiatan-kegiatan pembelajar akan lebih besar daripada menerima pelajaran secara verbalistik. Perhatian pembelajar merupakan tumbuh dengan sewajarnya tanpa desakan yang dibuat-buat.
3)        Pembentukan kepribadian pelajar agar mampu berbicara secara spontanitas dengan tata bahasa yang fungsional.
4)        Mengontrol kebenaran pengujaran siswa sebagaiman penutur aslinya.
e.    Kekurangan Metode Langsung (الطريقة المباشرة)
Meskipun metode ini banyak kelebihan dibanding metode-metode yang lain, tidak bisa dimungkiri bahwa pada metode ini terdapat juga kritikan-kritikan pedas yang dilontarkan oleh beberapa pakar bahasa.
1)        Tidak semua vokabuler dapat diajarkan dengan cara menghubungkan secara langsung benda, situasi atau pekerjaan yang digambarkannya. Sebagian harus dijelaskan dengan memberikan sinonim, antonim, definisi, penjelasan-penjelasan atau dalam pemakaiannya. Oleh karena itu banyak kesukaran yang dihadapi dan kesalahan-kesalahan mudah terjadi.
2)        Pembelajar cendcrung secara diam-diam menterjemahkan lebih dahulu dalam hati kata-kata bahasa baru itu ke dalam bahasa ibunya dalam usahanya mencari persamaan pengertian yang dikemukakan dalam bahasa baru itu. Dalam hal ini tampak metode langsung lebih kompleks daripada metode terjemahan.
3)        Jika semua kata harus diajarkan demikian, kemajuan dalam pelajaran membaca pada taraf- taraf permulaan cenderung menjadi lambat. Pembelajar memperoleh pengetahuan kata-kata secara berlebih-lebihan. Sedangkan penguasaan dalam pemakaiannya tidak seberapa.
4)        Pembelajar memperoleh kesukaran tentang bentuk-bentuk tata bahasa oleh karena media dalam menerangkan bentuk-bentuk bahasa ini merupakan sumber kesukaran. Hanya di kelas-kelas lebih tinggi pembelajar dapat dianggap mampu berpikir dalam bahasa itu.


5)        Jika pengajar dapat menciptakan suasana pembelajar belajar bahasa ibunya, kita dapat mengharapkan hasil pengajaran yang baik, tetapi suasana kelas yang seperti itu hanya berlangsung dalam waktu yang pendek, sedangkan suasana yang persis sama jarang dapat dipertahankan untuk waktu yang lama.
6)        Metode langsung tidak mengemukakan sesuatu tentang pemilihan bahan, penentuan urutan bahan dan sangat sedikit mengemukakan cara-cara penyajian bahan, kecuali hanya mengemukakan bahwa pengunaan bahasa ibu dan terjemahan ke dalam bahasa ibu dilarang.
f.     Petunjuk Penggunaan Metode Thoriqoh Mubasyarah
Bentuk Pelaksanaan Pelaksanaan metode langsung secara murni dapat digambarkan sebagai berikut. Mula mula anak-anak disuruh meniru perbuatan pengajar dan diiringi dengan berbicara (perkataan atau kalimat yang menggambarkan perbuatan itu). Kemudian gerak dan berbicara ini dilanjutkan dengan dialog ringkas, percakapan segi-tiga, berempat, dan seterusnya sampai akhirnya pelajaran menjadi sebuah sandi. wara kecil, penuh dengan gerak gerik dan penggunaan bahasa. Kemudian pelajaran dilanjutkan dengan permainan yang lebih panjang.
Contoh sederhana:
Seorang guru menghidupkan tape recorder yang berisikan tentang sejarah imam Syafi’iy (dengan bahasa arab) dalam waktu 10 menit dan siswa diminta untuk mendengarkan secara seksama, setelah itu tape recorder dibunyikan sekali lagi (untuk pemantapan bagi siswa) kemudian beberapa siswa dimintai untuk maju kedepan untuk memperagakan apa yang telah mereka dengar tadi.




2.         Kemampuan berbicara
Bahasa merupakan alat komunikasi yang secara esensial, umum dan bersifat sosial karena dalam komunikasi selalu ada dua pihak yang terlibat, yaitu sebagai pemberi materi dan penerima informasi. Informasi yang dimaksud pada dasarnya dapat dibagi atas dua jenis yaitu sebagai berikut:
a.         Informasi kognitif: informasi yang berkaitan dengan penalaran, seperti pengrtian-pengertian, asumsi-asumsi, dan pikiran-pikiran tentang sesuatu.
b.        Informasi afektif: informasi yang berkaitan dengan perasaan sedih, rasa sakit, solidaritas, kegembiraan, dan pengharapan.
Kedua fungsi tersebut diatas, yang paling dominan adalah fungsi kognitif. Dalam berkomunikasi ada dua macam, yakni komunikasi lisan dan komunikasi tulisan. Berdasarkan sistem komunikasi dalam kemampuan berbahasa ada empat kemampuan yang harus dibina dan dikembangkan, yaitu sebagai berikut:
a.         Menyimak
b.        Berbicara
c.         Membaca
d.        Menulis
Dua kemapuan berbahasa pertama diperoleh sebagai komunikasi lisan, yakni menyimak dan berbicara serta kemampuan berbahasa lainnya sebagai komunikasi tertulis, yaitu membaca dan menulis. Urutan pemerolehan kemampuan berbahasa seseorang mulai dari menyimak lalu mulai berbicara, membaca kemudian menulis. Hal ini diperoleh waktu masih anak-anak, namun ketika seseorang sudah mulai berusia dewasa, maka pemerolehan bahasa selanjutnya keempat kemampuan itu sudah berfungsi integral dalam arti saling mendukung.


Keterampilan berbicara adalah kemampuan mengungkapkan pendapat atau pikiran dan perasaan kepada seseorang atau kelompok secara lisan, baik secara berhadapan ataupun dengan jarak jauh. Moris dalam Novia (2002) menyatakan bahwa berbicara merupakan alat komunikasi yang alami antara anggota masyarakat untuk mengungkapkan pikiran dan sebagai sebuah bentuk tingkah laku sosial. Sedangkan, Wilkin dalam Maulida (2001) menyatakan bahwa tujuan pengajaran bahasa Inggris dewasa ini adalah untuk berbicara. Lebih jauh lagi Wilkin dalam Oktarina (2002) menyatakan bahwa keterampilan berbicara adalah kemampuan menyusun kalimat-kalimat karena komunikasi terjadi melalui kalimat-kalimat untuk menampilkan perbedaan tingkah laku yang bervariasi dari masyarakat yang berbeda.[1]
K.      Metode Penilitan
1.         Jenis Penelitian
Dalam penelitian ini peneliti memilih pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara lain dari pengukuran.[2]
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan pembelajaran dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran.
Menurut T. Raka Joni dalam F.X Soedarsono penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi-kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.[3]
Penelitian ini dilaksanakan di VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil. yang terletak di Jl. Cucut No: 145 Gondang Bangil, MTs. Darul Ulum merupakan salah satu Sekolah yang berada di Bangil di bawah naungan Departemen Agama.
Penelitian ini akan difokuskan pada peserta didik kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil. yang berjumlah 36 siswa pada saat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran Bahasa Arab.
2.         Kehadiran Peneliti
Pada penelitian ini, peneliti sebagai mahasiswa dan merencanakan kegiatan berikut :
a.         Menyusun angket untuk pembelajaran dan menyusun rencana program pembelajaran.
b.        Observasi tempat serta melakukan perizinan observasi kepada kepala sekolah.
c.         Mengumpulkan data dengan cara mengamati kegiatan pembelajaran dan wawancara kepada guru pengajar mata pelajaran bahasa arab untuk mengetahui proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru kelas.
d.        Melaksanakan rencana program pembelajaran yang telah dibuat.
e.         Melaporkan hasil penelitian.
3.         Lokasi Penelitian.
Penelitian dilaksanakan di MTs. Darul Ulum Gondang, Kecamatan Bangil, Kabupaten Pasuruan.
4.         Data dan sumber.
Data dalam penelitian ini adalah kemampuan berbicara siswa dalam menggunakan bahasa arab. Data untuk hasil penelian diperoleh berdasarkan nilai ulangan harian (test) dan hasil wawancara peneliti dengan guru serta peneliti dengan siswa.Sumber data penelitian adalah siswa kelas VII MTs. Darul Ulum Gondang Bangil sebagai obyek penelitian.
5.         Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sebagai berikut :
a.         Wawancara
Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan. Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa.
b.        Angket
Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi terkait dengan respon  atau tanggapan siswa terhadap penerapan metode audio-lingual.
c.         Observasi
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berbicara bahasa arab siswa yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun. Obsevasi dilakukan oleh peneliti perseorangan.
d.        Test
Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk tanya jawab agar dapat mengasah kemampuan berbicara bahasa arab siswa.
e.         Catatan lapangan
Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan semua  data yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian ini.
f.         Analisis data
Proses analisis data dimulai dengan menelah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu wawancara, pengamatan, yang sudah ditulis dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar foto, dan sebagainya.
6.         Tahap-tahap Penelitian.
Berdasarkan observasi awal yang dilakukan proses pembelajaran yang dilakukan adalah model pembelajaran dengan menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh.Penelitian ini akan dilaksanakan  dalam 2 siklus . Setiap siklus tediri dari perencanaan, tindakan, penerapan tindakan, observasi, refleksi.

Siklus I:
a.        Perencanaan
Sebelum melaksanakan tindakan maka perlu tindakan persiapan atau perencanaan. Kegiatan pada tahap ini adalah :
l  Penyusunan RPP dengan metode audio-lingual yang direncanakan dalam PTK.
l  Penyusunan lembar masalah/lembar kerja siswa sesuai dengan indikator pembelajaran yang ingin dicapai
l  Membuat  soal test yang akan diadakan untuk mengetahui hasil pembelajaran siswa.
l  Memberikan penjelasan pada siswa mengenai teknik pelaksanaan model pembelajaran dengan menggunakan metode audio-lingual yang akan dilaksanakan.
b.        Pelaksanaan Tindakan
1)        Melaksanakan kegiatan sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat.
                    Dalam pelaksanaan penelitian guru menjadi fasilitator selama pembelajaran, siswa dibimbing untuk belajar bahasa Arab dengan menggunakan model pembelajaran dengan menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh. Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah:
2)        Guru memberikan materi berbahasa arab menggunakan metode Thoriqoh Mubasyaroh dengan media yang telah dipersiapkan seperti kaset, video atau suara dari guru langsung.
3)        Siswa diharapkan mendengarkan dengan baik serta memahami materi bahasa arab yang tengah di dengarnya.
4)        Setelah mendengarkan dan memahami guru menyuruh siswa menjelaskan kembali materi yang telah di dengarnya dengan menggunakan bahasa arab yang baik dan benar.
5)        Guru memberikan soal tanya jawab kepada siswa sesuai dengan materi yang telah diberikan.
6)        Guru memberikan test dengan model Test Isian.
7)        Kegiatan penutup
Di akhir pelaksanaan pembelajaran pada tiap siklus, guru memberikan test secara tertulis untuk mengevalausi hasil belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
c.         Observasi
Pengamatan dilakukan selama proses proses pembelajaran berlangsung dan hendaknya pengamat melakukan kolaborasi dalam pelaksanaannya.
d.        Refleksi
Pada tahap ini dilakukan analisis data yang telah diperoleh. Hasil analisis data yang telah ada dipergunakan untuk melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil yang ingin dicapai.
Refleksi daimaksudkan sebagai upaya untuk mengkaji apa yang telah atau belum terjadi, apa yang dihasilkan,kenapa hal itu terjadi dan apa yang perlu dilakukan selanjutnya. Hasil refleksi digunakan untuk menetapkan langkah selanjutnya dalam upaya untuk menghasilkan perbaikan pada siklus II.
Siklus II:
Kegiatan pada siklus dua pada dasarnya sama dengan pada siklus I  hanya saja perencanaan kegiatan mendasarkan pada hasil refleksi pada siklus I sehingga lebih mengarah pada perbaikan pada pelaksanaan siklus I.

DAFTAR PUSTAKA

 Anselm,dkk, 1997.  Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik danTeori   Grounded), Penyadur Junaidi Ghony, P T Bina Ilmu
Soedarsono, F.X, AplikasiPenelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan           Nasional




[2] Anselm,dkk, Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik danTeori Grounded), 1997. Penyadur Junaidi Ghony, P T Bina Ilmu, hlm. 11
[3] Soedarsono, F.X, AplikasiPenelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan Nasional, hlm. 2

1 komentar:

  1. aslm wr wb!
    mohon bs ikut ngopi proposal ptknya pak, jazaakumullah ahsanal jazaa'

    BalasHapus

World Clock