Selasa, 17 April 2012

Pemikiran Al-Ghazali Tentang Pendidikan


Nama lengkap Al- Ghazali adalah Abu Hamid Muhammad Ibn Muhammad at-Thusi Al-Ghazali yang dilahirkan pada 19 Desember 1111 M. Dia dikenal seorang pemikir Islam sepanjang sejarah Islam, seorang teolog, seorang filosof, dan sufi termashur. Dia dilahirkan di kota Ghazlah, sebuah kota kecil dekat Thus di Khurasan, yang ketika itu merupakan salah satu pusat ilmu pengetahuan di dunia Islam dan dia meninggal dikota Thus setelah mengadakan perjalanan untuk mencari ilmu dan ketenangan batin. Nama Al-Ghazali dan at-Thusi dinisbahkan kepada tempat kelahirannya. Dia lahir dari keluarga yang taat beragama dan hidup sederhana. Ayahnya seorang pemintal Wol di kota Thus. Latar belakang pendidikannya dimulai dengan belajar al-qur`an pada ayahnya sendiri. Sepeninggal ayahnya, dia dan saudaranya dititipkan pada teman ayahnya yang bernama Ahmad ibn Muhammad al-Raziqani seorang sufi besar. Dari teman ayahnya tersebut, Al-Ghazali mempelajari ilmu fiqh, riwayat hidup para wali, dan kehidupan spiritual mereka. Selain itu, dia juga belajar menghapal syair-syair tentang mahabbah (cinta) kepada Tuhan, al-qur`an dan sunnah.[1]

Dalam kehidupannya, dia belajar ilmu pengetahuan dasar di kota Thus, salah satu kota Khurasan wilayah Parsi, dan kemudian pindah ke Nisaphur dan dikota ini dia berguru dengan ulama besar Imam al-Haramain Abi al-Ma`âli al-Juwaini (w.1016 M.) ahli fiqh Syafi`iyah waktu itu. Berkat ketukunan dan kerajinan yang luar biasa dan kecerdasannya yang tinggi, maka dalam waktu yang singkat, Al-Ghazali menjadi ulama besar dalam madzhab Syafi`i dan dalam aliran `Asy`ariah sehingga dia dikagumi oleh gurunya al-Juwaini dan juga oleh para ulama pada umumnya. Setelah al-Juwaini wafat, Al-Ghazali meninggalkan Nisaphur menuju sebuah kota al-Askar. Di tempat inilah dia bertemu dengan Wazîr Nizâmu al-MulkWazîr dari sultan Malik Syah al-Saljuki. Pada waktu itu beberapa ulama terkemuka bersama-sama dengan para wazir bersepakat mengadakan tukar pikiran dan diskusi dengan Al-Ghazali. Dalam pertemuan ilmiah tersebut terjadi perdebatan diantara mereka. Di saat itulah nampak keunggulan dan kelebihan al-Ghazali sehingga para ulama memberi gelar dengan Fuhuhul Iraq toko ulama Iraq.[2]
Dengan demikian, meningkatlah kedudukan al-Ghazali dihadapan wazîr dan akhirnya dia diangkat sebagai guru besar di Madrasah Nizâmu al-Mulk di Bagdad[3] pada tahun 484 H., suatu perguruan Tinggi yang mahasiwanya kebanyakan para ulama. Dia sangat disegani dan dicintai, karena kehalusan bahasa dan keilmuannya. Empat tahun lamanya dia mengajar di madrasah tersebut. Tumbuhlah dalam jiwanya perasaan zuhud dari kehidupan duniawi, sehingga ditinggalkannya jabatan ini karen ingin hidup uzlah. Dia pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji kedua kalinya pada tahun 488 H.dan terus melanjutkan perjalanan ke Damaskus. Di negeri ini dia hidup menyepi dan menjauhkan diri dari segala kesibukan duniawi. Kemudian pergi ke Mesir tinggal beberapa waktu di Iskandariah, lalu kembali ke kampung halamannya Thus. Di sini dia menyibukkan diri dengan karang-mengarang kemudian pergi ke Nisaphur untuk memberikan pengajian. Tapi akhirnya dia kembali ke Thus lagi menghabiskan sisa hidupnya untuk memberikan pengajaran dan beramal kebajiakn dan hidup sebagai sufi.[4]
Bertolak dari perjalanan hidupnya di atas, lebih  dari 70 karya al-Ghazali meliputi berbagai ilmu pengetahuan, beberapa di antaranya yang termashur sebagai berikut: pertamaIhyâ ulûm al-dîn; kitabnya yang sangat penting dan mashur mengenai ilmu kalam, tasawuf dan ahlak.[5] Kedua,`Ayyuhal Walad, sebuah buku tentang akhlak. Yang penting dalam buku ini yaitu gambaran tentang pemikirannya, riwayat studinya serta kedudukan yang dicapai di antara filosof-filosof Islam dan pengaruhnya terhadap filsafat pada zamannya.[6] Ketiga, Fatihatul Ulûm, kitab ini menerangkan tentang signifikansi ilmu pengetahuan dalam kontek taqarrub kepada Allah. Di samping itu juga, dia menjelaskan tentang arti penting kedudukan keihlasan di antara ilmu dan amal.[7]
            Dari beberapa karya al-Ghazali di atas, menunjukkan bahwa keberadaannya dikenal sebagai seorang tokoh sufi, ternyata memiliki perhatian sangat serius terhadap persoalan pendidikan. Tulisan ini akan mengkaji tiga persoalan pokok pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan, yaitu pengertian dan tujuan pendidikan, kurikulum dan proses belajar mengajar dan metode pengajaran.
Pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan
Dalam mengungkapkan pemikiran al-Ghazali mengapa memiliki interes terhadap pendidikan, karena dia pernah menjadi guru pada masa sultan Malik Syah dari Daulah Bani Saljuk pada pertengahan abad kelima hijriah di madrasah Nidzâmiyah.[8] Madrasah ini dibangun pada tahun 457 H., olehNizâmu al-Mulk.
Dalam madrasah ini materi pelajaran yang diberikan kepada murid hanya terbatas ilmu syari`ah. Madrasah tersebut tidak mengajarkan ilmu-ilmu hikmah (sciences). Hal ini terbukti bahwa ulama yang mengajar di madrasah tersebut adalah ulama di bidang syari`ah seperti Abu Ishâq al-Syairazi, Imam al-Ghazali, dan al-Qazwaini. Sedangkan para ulama yang ahli dalam bidang filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan umum tidak ikut memberi kuliah. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendiri dan pengajar madrasan Nidzâmiyah bukan orang yang menaruh minat terhadap pengetahuan dan bukan pula pendukung untuk penelitian ilmiah, sehingga pada zaman Nidzâm al-Mulk ini dikenal sebagai zaman mundurnya filsafat. Tetapi pada zaman ini menitikberatkan pada pendidikan agama dan bukan pendidikan umum.[9] Selama proses belajar mengajar yang dilakukan al-Ghazali di madrasah tersebut, dia menemukan berbagai persoalan antara lain; Abu Ishaq al-Syairazi tidak mau mengajar di madrasah ini dengan alasan bahwa dana yang digunakan dalam pembiayaan proses belajar adalah dana dari harta dzalim, dana yang digunakan dalam pembangunan madrasah adalah harta yang tidak halal, pelajaran yang diberikan di madrasah tersebut lebih menekankan pada pelajaran syari’ah dan pelajaran ilmu hikmah (sciences) tidak diberikan dan tidak menjadi salah satu materi pelajaran yang akan diajarkan. Demikianlah keadaan Nidzâmiyah tempat Imam al-Ghazali mengajar selama kurang lebih empat tahun. Kondisi tersebut membekas dalam hati al-Ghazali sehingga dia mulai berpikir bagaimanakah proses pendidikan itu. Dari proses berpikir tersebut akhirnya mendorong dia untuk keluar dari madrasah dan pergi ke Syam dan hidup di masjid al-Umawi sebagai seorang hamba yang taat beribadah. Dia meninggalkan kemewahan dan mendalami suasana ruhaniyah serta mensucikan diri dari noda duniawi.[10]
Dari perjalanan pengembaraan tersebut akhirnya dia kembali ke Bagdad untuk meneruskan mengajar lagi. Namun penampilannya berbeda dengan sebelumnya. Sewaktu pertama berada di Bagdad dia tampil sebagai guru ilmu-ilmu agama, sedangkan kali ini dia tidak saja seorang imam dan tokoh agama yang sufi, melainkan seorang guru yang telah benar-benar mengarifi ajaran Rasulullah sehingga telah mendarah daging pada dirinya, dan akhirnya dia menemukan makna pendidikan yaitu proses menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik.[11]
Bertolak dari perjalanan al-Ghazali dalam proses belajar dan mengajar di Madrasah Nidzâmiyah, dan pengembaraan serta hidup sebagai hamba di masjid al-Umawi dapat membentuk prilaku dia yang religius, dibuktikan ketika dia kembali ke Bagdad untuk mengajar kembali dengan visi yang berbeda dari visi sebelumnya, yang secara umum memiliki ciri khas yaitu warna religius dan kerangka etik yang mewarnai ciri khas dia tentang makna pendidikan Islam.Oleh sebab itu, dia tidak hanya terkenal sebagai seorang guru agama tetapi juga sebagai seorang imam dan tokoh agama yang sufi yang telah benar-benar mengarifi ajaran Rasulullah sehingga dia lebih cenderung  ke proses menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik sebagai upaya manusia dalam mendekatkan dirinya pada Allah SWT.
Pengertian dan Tujuan Pendidikan Menurut Al-Ghazali
Pengertian pendidikan menurut al-Ghazali adalah menghilangkan ahlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik[12]. Dengan demikian pendidikan merupakan suatu proses kegiatan yang dilakukan secara sistematis untuk melahirkan perubahan-perubahan yang progressive pada tingkah laku manusia.
Dari pengertian di atas, al-Ghazali menitikberatkan pada prilaku manusia yang sesuai dengan ajaran Islam sehingga di dalam melakukan suatu proses diperlukan sesuatu yang dapat diajarkan secara indoktrinative atau sesuatu yang dapat dijadikan mata pelajaran. Hal ini didasarkan pada batin manusia yang memiliki empat unsur yang harus diperbaiki secara keseluruan serasi dan seimbang. Keempat unsur tersebut meliputi: kekuatan ilmu, kekuatan “ghadhab” (kemarahan), kekuatan syahwat (keinginan), dan kekuatan keadilan. Dengan terintegrasinya keempat unsur tersebut dalam diri manusia, maka diharapkan dapat melahirkan keindahan watak manusia.
Sedangkan tujuan pendidikan yang diinginkan oleh al-Ghazali adalah taqarrub pada Allah dan kesemprnaan manusia untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan, menonjolkan karakteristik religius moralis dengan tidak mengabaikan urusan keuniaan sekalipun hal tersebut merupakan alat untuk mencapai kebahagiaan hidup di akhirat. Hal ini sebagaimana yang dia katakan dalam bukunya yang cukup terkenal (Ihyâ Ulûm al-Dîn yang disitir oleh Fhathiyah Hasan Sulaiman) sebagai berikut:
Dunia adalah ladang tempat persemaian benih-benih akhirat. Dunia adalah alat yang menghubungkan seseorang dengan Allah. Sudah barang tentu, bagi orang yang menjadikan dunia hanya sebagai alat dan tempat persinggahan, bukan bagi orang yang menjadikannya sebagai tempat tinggal yang kekal dan negeri yang abadi.[13]
            Bertolak dari pendapat di atas, maka secara jelas dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan menurut al-Ghazali adalah kesempurnan manusia di dunia dan akhirat dimana manusia dapat mencapai kesempurnaan melalui pencaharian keutamaan dengan menggunakan ilmu dan keutamaan itu akan memberinya kebahagiaan didunia serta mendekatkannya kepada Allah, sehingga dia akan mendapatkan pula kebahagiaan di akhirat nanti. Meskipun demikian, al-Ghazali tidak membuat lupa akan pentingnya menuntut ilmu yang bersifat fardhu kifâyah. Karena ilmu itu sendiri memiliki beberapa keistimewaan dan kebaikan serta berkaitan dengan perkembangan zaman dan tuntutan masyarakat tertentu. Dalam artian, ilmu memiliki nilai-nilai, dan dengan ilmu seorangkan mendapatkan kenikmatan dan kesenangan tanpa melupakan sumbernya. Disamping itu, ilmu-ilmu tersebut tidak bertentangan dengan ajaran-ajaran agama Islam. Namun, al-Ghazali lebih menekankan pada ilmu-ilmu yang bersifat fardhu `ain sebab ilmu dapat menyampaikan seseorang kepada kebahagiaan yang abadi. Jalan itu hanya dapat dicapai dengan ilmu dan amal. Dengan kata lain, pangkal kebahagiaan di dunia dan akhirat adalah ilmu. Jadi ilmu adalah amal yang paling utama baik yang bersifat fardhu  `ain maupun fardhu kifâyah.
Kurikulum Menurut al-Ghazali
            Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebgai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar di suatu lembaga pendidikan. Dalam kaitannya dengan rencana dan isi, al-Ghazali tidak mengutarakan secara jelas berkenaan dengan sistem jenjang tertentu. Tetapi dia membagi kurikulum dalam dua peringkat, yaitu; (1). Peringkat dasar, dan (2). Peringkat menengah dan tinggi.[14]
1). Peringkat dasar.
            Kurikulum peringkat dasar ini meletakkan pengajian al-Quran sebagai azasnya. Secara terperinci, mata pelajaran yang seharusnya diajarkan meliputi:
a.       Belajar mengenal huruf dan membaca.
b.      Belajar membaca al-Qur`an
c.       Menulis beberapa ayat setiap hari dan menghafalnya.
d.      Mempelajari hadits Rasullulah.
e.       Mempelajari kata-kata, ucapan dan cerita-cerita nabi dan cerita-cerita yang berkaitan dengan keagungan Islam yang menekankan aspek akhlak, kemasyarakatan dan kejiwaan.
            Tujuan dari materi penyusunan kurikulum untuk peringkat dasar ini adalah untuk melahirkan rasa cinta terhadap kemuliaan di dalam pikiran kanak-kanak, untuk menanamkan di hati mereka dengan kepribadian yang murni, mulia, akhlak yang baik (uswah hasanah), keperwiraan, kejujuran, keadilan, persaudaraan dan perasaan persamaan.
            Adapun kurikulum peringkat ini lebih menekankan pada kemampuan dan keterampilan dalam menulis dan membaca. Sedangkan usia yang dikategorikan masuk dasar ini adalah sampai usia baligh tahun. Oleh karena itu, al-Ghazali menyarankan bahwa hendaknya seseorang telah mengantarkan anak dalam usia 6 tahun ke sekolah untuk belajar.
2). Peringkat Menengah Dan Tinggi.
            Dalam peringkat menengah dan tinggi ini, kurikulum yang digunakan lebih menekankan pada pencapaian suatu mata pelajaran tertentu secara tuntas, bukan kelulusannya. Materi pelajaran yang diajarkan pada peringkat ini meliputi; a). Mata pelajaran wajib (fardhu `ain), dan b). Mata pelajaran pilihan (fardhu kifâyah).
a). Mata pelajaran wajib (fardhu  `ain)
            Pembagian mata pelajaran yang dilakukan al-Ghazali tersebut selaras dengan pembagian ilmu yang diperkenalkan oleh dia dengan dilakukan sedikit tambahan dan penyesesuaian. Al-Ghazali berpendapat bahwa tidak semestinya semua ilmu dimasukkan ke dalam kurikulum walaupun pada dasarnya tidak merupakan suatu kesalahan sekitarnya ilmu-ilmu tersebut tidak dimasukkan. Dalam kaitannyan dengan ilmu yang bersifat fardhu  `ain (mata pelajaran wajib), al-Ghazali membaginya dalam dua bagian yaitu ilmu amali agama dan ilmu wahyu.
            Dalam hubungannya dengan tujuan proses belajar mengajar di kelas, al-Ghazali lebih mengutamakan pengajaran ilmu `amali daripada ilmu wahyu karena ilmu tersebut sangat penting bagi pelajar dalam peringkat menengah atau yang sudah baligh sebab ilmu ini lebih menekankan pada aspek menunaikan tuntutan-tuntutan agama yang wajib. Al-Ghazali berkeyakinan bahwa tanpa pemahaman terhadap ilmu-ilmu ini para pelajar tidak akan memahami Islam. Karenanya ilmu tersebut perlu diajarkan pada peringkat ini. Sedangkan usia yang dimasukkan dalam kategori ini adalah sekitar umur 15 hingga 17 tahun.
            Adapun unsur-unsur yang masuk dalam kategori ilmu amali agama yaitu; 1) kepercayaan, 2) amalan yang diwajibkan, dan 3) amalan yang dilarang.
1.      Kepercayaan
            Dalam unsur kepercayaan ini mengandung pengajaran tentang pengakuan syahadah dan pengertian pengakuan tersebut. Hal ini diberikan pada peringkat permulaan yaitu membuat pengakuan tanpa melakukan kajian yang mendalam atau tanpa harus menunjukkan bukti. Hasil dari pengajaran tentang pengakuan syahadah adalah tertanamnya keyakinan terhadap adanya surga dan neraka, hari kebangkitan dan hari perhitungan yang merupakan asas-asas penting yang perlu diperkenalkan.
2.      Amalan yang diwajibkan
                  Unsur-unsur yang masuk dalam amalan yang diwajibkan ini adalah mata pelajaran sebagai berikut:
a.       Mata pelajaran yang berkaitan dengan cara mengambil wudhu dan sembayang
b.      Mata pelajaran yang berkaitan dengan cara mengerjakan puasa dan kaidah yang bersangkutan dengannya.
c.       Mata pelajaran yang berkaitan dengan zakat
d.      Mata pelajaran yang berkaitan dengan mengerjakan ibadah haji dan keadaan-keadaan yang bersakutan dengannya.[15]
Pemberian mata pelajaran tersebut dalam unsur amalan yang diwajibkan pada peringkat menengah karena mata pelajaran yang diajar diperingkat ini lebih ditekankan kepada mereka yang telah mencapai umur baligh, yaitu mereka yang berumur antara 15 hingga 17 tahun, sebab dalam usia ini mereka sudah dikenai hukum menjalankan kewajiban sebagai umat Islam atas dasar hukum-hukum Islam.
3.      Larangan
Dalam unsur larangan ini meliputi larangan dari segi pengucapan, penglihatan, pemakaian, makanan dan minuman. Tetapi larangan tersebut diajarkan dengan mengkaitkan dengan lingkungan dan kegunaannya.
b). Mata Pelajaran Fardhu Kifâyah
            Al-Ghazali membagi mata pelajaran fardhu kifâyah ke dalam dua jenis mata pelajaran, yaitu: 1) ilmu syar’iyyah, dan ilmu keduniaan.
1.      Ilmu Syar’iyyah
Ilmu ini yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh dari Nabi, bukan ilmu-ilmu yang datang dari hasil kajian eksperimen. Ilmu tersebut terbagi menjadi empat bagian yaitu; a) sumber, b) cabang, c) ilmu-ilmu alat, dan ilmu tambahan.[16]
a.       Sumber (usûl)
Yang termasuk dalam bagian sumber adalah Kitab Allah yaitu al-qur’an, sunnah-sunnah rasul, persetujuan ke semua orang Islam, dan sirah para sahabat.
b.      Cabang-cabang (furu’)
Yang termasuk dalam cabang adalah kesemua perkara yang telah diambil dari sumber-sumber di atas. Ia juga merupakan pemahaman lanjutan terhadap apa yang telah diutarakan oleh sumber-sumber asas. Secara umum, cabang-cabang tersebut hal-hal yang berkaitan dengan keputusan undang-undang hasil ijtihad.
c.       Ilmu-ilmu alat (muqaddimât)
Yang termasuk dalam ilmu-ilmu alat adalah sekumpulan mata pelajaran yang bersifat alat di dalam usaha untuk memahami ilmu-ilmu syar’iyyah. Ilmu ini mengandung dua hal yaitu; 1) ilmu linguistik dan ilmu nahwu yaitu alat untuk memahami ilmu yang berkaiatan dengan al-qur’ân dan hadîts Rasulullah. Karena kedua kitab tersebut ditulis di dalam bahasa `Arab. 2) ilmu tulisan yang merupakan alat menyimpan bahan-bahan.
d.      Ilmu-ilmu tambahan (Mutammimât)
Ilmu yang termasuk dalam kategori ini adalah ilmu yang berhubungan dengan ilmu tentang al-qur’an dan bagian-bagiannya yang meliputi tiga bagian yaitu; 1) ilmu tajwîd yaitu ilmu yang bersifat untuk memperbaiki bacaan dan sebutan bunyi huruf-huruf yang berbeda, 2) ilmu tafsir yaitu ilmu yang berkaitan dengan ayat-ayat al-qur’an, dan 3) ilmu yang berkaitan dengan pengajaran al-Qur’ân yaitunasîkh dan mansûkh serta yang berhubungan dengan ‘âm dan khâs yang juga disebut dengan istilah ilmu usûl fiqh yaitu yang berkaitan dengan prinsip-prinsip undang-undang.
2.      Ilmu Keduniawiaan
Ilmu keduniawiaan terbagi menjadi tiga hal, yaitu ilmu mahmud, ilmu madhmun, dan ilmu mubah.[17] Sedangkan untuk tujuan proses belajar mengajar, ilmu-ilmu yang boleh diajarkan di kelas adalah ilmu-ilmu yang bersifat mahmud dan mubah saja.
Ilmu yang bersifat mahmud terkandung dalam mata pelajaran sebagai berikut;
a.       Mata pelajaran yang berkaitan dengan ilmu perobatan.
b.      Mata pelajaran yang berkaitan dengan ilmu hisab
c.       Mata pelajaran yang berkaitan dengan pertanian
d.      Mata pelajaran yang berkaitan dengan politik
e.       Mata pelajaran yang berkaitan dengan tenunan dan jahitan
f.       Mata pelajaran yang berkaitan dengan undang-undang. Yakni Undang-undang dunia yang digunakan untuk menuju ke jalan akhirat.
Sedangkan ilmu-ilmu yang bersifat mubah meliputi kumpulan ilmu falsafah. Yang tergolong dalam ilmu-ilmu tersebut antara lain; ilmu algebra dan hisâb, ilmu logika, ilmu ketuhanan, dan ilmu fisika.
Ilmu algebra dan hisab dimubahkan karena ilmu ini tidak membawa kesesatan. Ilmu logika karena ilmu ini berhubungan dengan kajian tentang tabi’i, keadaan dan definisi bukti untuk memperkuathujjah dan pembuktian. Dan ilmu ketuhanan karena ia merupakan ilmu yang menguraikan perkara-perkara yang berkaiatan dengan ketuhanan seperti sifat dan sebagainya.
Kemudian ilmu logika dan ilmu ketuhanan digabungkan dalam satu ilmu yang disebut dengan teologi. Menurut al-Ghazali, ilmu teologi adalah ilmu yang memuat perdebatan dan penghujahan namun ilmu ini tidak membawa ke jalan akhirat. Lebih lanjut, ia berpendapat usaha ahli-ahli teologi bukanlah untuk memperbarui pengakuan hati.
Sedangkan ilmu fisika merupakan ilmu yang berkaitan dengan pelbagai sifat unsur fisika yang berbeda, tabi’i dan perubahan yang berlaku atas mereka. Tetapi kadangkala ilmu ini bertentangan dengan kebenaran agama.
Adapun ilmu yang termasuk tidak berfaidah adalah ilmu sihir, talismatik, silap mata, nujûm dan sejenisnya. Ilmu tersebut tidak wajar dimasukkan dalam kurikulum. Di samping itu, al-Ghazali juga tidak membenarkan ilmu-ilmu yang berkaiatan dengan ukiran patung, lukisan, dan kesenian lain yang disebut dalam teknologi modern sebagai fine arts dimasukkan juga dalam kurikulum karena ilmu ini melahirkan perasaan kurang sehat, menggalakkan kegairahan kepada kebendaan serta tidak bernilai dari segi moral, keruhanian dan juga tidak membantu untuk merealisasikan eksistensi manusia dan juga Allah. Meskipun demikian, al-Ghazali masih memberikan alternatif berupa perimbangan di antara orientasi keduniaan dan keakhiratan dan di antara orientasi sekuler dengan keagamaan di dalam kurikulum.
PBM dan Metode Pengajaran
Proses belajar mengajar (PBM) atau transformasi ilmu pengetahuan yang dicari oleh manusia, manurut al-Ghazali adalah datangnya dari Allah yaitu Allah menyampaikan ilmu tersebut kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Allah adalah guru yang utama sedangkan Malaikat Jibril adalah yang kedua, dan guru yang ketiga adalah Nabi Muhammad.[18] Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa semua manusia di bumi ini mendapat ilmu dari para Nabi. Oleh sebab itu, dunia ini dianggap suatu institusi pendidikan yang besar dan proses pembelajaran dimulai dari pendidikan agama atau pembelajaran corak agama.
Menurut al-Ghazali, guru dalam pengertian akademik ialah seseorang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain atau seseorang yang menyertai sesuatu institusi untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para pelajarnya. Dalam kitab lain, dia juga memberikan definisi guru sebagai seorang yang menyampaikan suatu yang baik, positif, kreatif atau membina kepada seseorang yang berkemauan tanpa melihat umur walaupun terpaksa melalui pelbagai cara dan strategi dengan tanpa mengharapkan ganjaran (gaji).
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, dia membagi tugas yang harus dilakukan oleh pelajar dan guru agar tercapai komunikasi yang baik antar keduanya.
1.      Tugas pelajar dalam PBM
a.       Sebelum belajar, seorang pelajar harus membersihkan dirinya dari kecenderungan yang buru dan perangai yang jelek. Ini disebabkan ilmu itu tempatnya di hati. Di samping itu, mencari ilmu seperti melakukan penyembahan hati serta berdo’a untuk kemurnian kehadirannya. Jadi, seandainya seorang pelajar memiliki perangai yang buruk, mungkin mendapatkan ilmu tetapi ilmu yang diperoleh tidak berfaidah baginya.
b.      Pelajar semestinya memperhatikan secara penuh kepada ilmu yang dipelajari dan tidak memalingkan perhatian kepada masalah-masalah lain.
c.       Pelajar tidak seharusnya menghina guru dan berbagai sikap meninggikan diri kepada guru, tetapi sebaliknya dia harus meyakini dan menghormati gurunya.
d.      Pelajar yang berada pada tingkat pemula hendaknya mendalami satu pendapat saja dan jangan terlebih dahulu mengkaji pelbagai pendapat.
e.       Pelajar tidak seharusnya mempelajari semua mata pelajaran tetapi dia harus membuat pilihan dan mendahulukan yang terpenting di antara yang ada.
f.       Pelajar seharusnya mendahulukan mempelajari ilmu yang utama terlebih dahulu.
g.      Pelajar seharusnya menentukan, menilai dan memastikan nilai ilmu-ilmu tersebut sehubungan dengan nilai-nilai agama.
Adapun karakteristik belajar yang perlu dimiliki murid dalam PBM adalah sebagai berikut;
a.       Belajar merupakan ibadah
b.      Memiliki landasan keagamaan dalam belajar
c.       Sikap sufi dalam menghadapi ilmu
d.      Memiliki pandangan dasar yang mantap sebelum berdiskusi
e.       Pertautan antar berbagai ilmu (interdisipliner)
f.       Belajar secara bertahap
g.      Memahami urutan (sequence) dalam mengkaji suatu ilmu
h.      Memahami nilai berbagai ilmu
i.        Mengerti tujuan belajar
j.        Dapat memanfaatkan ilmu yang dikaji[19]
2.      Langkah-langkah dalam PBM
Langkah-langkah yang dilakukan baik oleh guru maupun murid dalam PBM sebagai berikut; diam, mendengar, mengulangi, melakukan dan memberitahukan.[20]
3.      Strategi yang dapat dipilih guru dalam PBM
a.       Guru hendaknya melahirkan perasaan simpati kepada pelajarnya seolah-olah mereka adalah anaknya sendiri
b.      Guru tidak seharusnya merasakan pelajarannya menjadi beban padanya bahkan harus memiliki perasaan bahwa mengajar adalah kewajiban atas pelajarnya
c.       Guru seharusnya memberi nasehat kepada pelajar tentang pengkajian mereka dan tidak seharusnya memberi tugas diluar kemampuan dan keupayaan mereka, dalam arti pendidikan harus didasarkan pada kemampuan pelajar
d.      Guru hendaknya mengetahui kemampuan pelajarnya dalam memahami pelajaran
e.       Guru hendaknya memberikan pelajaran dengan mendasarkan pada perbedaan pelajarnya.
4.      Metode mengajar
Berdasarkan pada tulisan al-Ghazali tentang pendidikan, dia belum pernah menjelaskan tentang metode mengajar secara umum, kecuali tentang agama. Dia pernah menulis metode khusus pendidikan agama untuk anak-anak yang dilengkapi dengan metode pendidikan akhlak yang terpuji dan dilengkapi dengan keutamaan. Perhatiannya terhadap pendidikan agama dan akhlak ini sejalan dengan pandangan-pandangan mengenai pendidikan.
Peristiwa pendidikan al-Ghazali adalah menuntut adanya komunikasi timbal balik antara dua manusia, yaitu guru dan murid. Berkaitan hal ini, di dalam berbagai karyanya tentang pendidikan, dia telah memberikan tempat khusus yang sukup besar mengenai pertautan antara kedua belah pihak. Menurut pandangannya, guru dan murid merupakan dua pihak yang saling beridentifikasi (saling menyesuaikan diri). Oleh sebab itu, menurunya guru harus mengenali muridnya baik saat mengajar maupun di saat dalam hubungan sosial.
Keberhasilan suatu pendidikan banyak ditentukan oleh adanya hubungan kasih sayang dan kecintaan antara guru dan murid. Hubungan ini menjamin murid untuk merasa aman tenteram berdampingan dengan gurunya sehingga tidak merasa takut kepadanya atau lari dari ilmunya. Al-Ghazali berpendapat bahwa profesi keguruan merupakan profesi yang paling mulia dan paling agung. Pandangannya ini diperkuat dengan menukil ayaat-ayat Allah dan hadits-hadits nabi. Dalam banyak kesempatan, dia selalu menguatkan kedudukan guru yang tinggi, agung dan senantiasa ditempatkan dalam barisan para nabi. Hal ini dapat dilihat dari pernyataannya dalam karyanya Ihyâ  Ulûm al-Dîn sebagai berikut;
“…Makhluk yang paling mulia di muka bumi ialah manusia. Sedangkan yang paling mulia dari penampilannya adalah kalbunya. Guru selalu menyempurnakan, mengagungkan dan mensucikan kalbu itu, serta menuntunnya untuk dekat kepada Allah. Oleh karena itu mengajarkan ilmu tidak hanya termasuk aspek ibadah kepada Allah saja tetapi juga khilafah Allah. Dikatakan termasuk khilafah Allah, karena kalbu orang alim telah dibukakan oleh Allah untuk menerima ilmu yang merupakan sifat Allah yang paling khusus. Orang alim ibarat bendaharawan yang mengurusib khazanah Allah yang paling berharga. Dia diijinkan untukmenafkakan dari sebagian khazanah itu kepada setiap yang membutuhkannya. Adakah kedudukan seorang hamba sebagai perantara antara Rabnya dengan makhluknya untuk mendekatkan mereka pada Allah serta menuntun mereka menuju surga, tempat kembali mereka?”[21]
Di samping hal di atas, dia mengumpamakan pencapain ilmu sebagaimana mengumpulkan harta. Baik orang mencapai ilmu maupun orang yang mengumpulkan harta, mungkin akan berada dalam salah satu di antara empat keadaan berikut ini:
1.      Dia mendapatkan harta atau ilmu, kemudian menyimpan tanpa memanfaatkannya untuk kepentingan apapun.
2.      Dia menyimpan harta atau ilmunya, lalu memanfaatkannya agar dia berkecukupan.
3.      dia mendapatkan ilmu atau harta, kemudian memanfaatkannya untuk pribadinya.
4.      dia mendapatkan ilmu atau harta, kemudian memanfaatkannya atau menyebarkannya untuk menolong orang lain.[22]
      Berkaiatan dengan pencarian ilmu dan harta tersebut, al-Ghazali mengatakan bahwa ilmu dapat diperoleh seperti halnya memperoleh harta, melalui empat tingkat yaitu; a) tingkat pencarian dan pengupayaan, b) tingkat ketercapaian, dalam arti ilmu mencukupi apa yang diperlukan, c) tingkat pengkajian evaluasi yaitu pengkajian dan pemikiran tentang apa yang dicapai serta bagaimana memanfaatkannya, d) tingkat insight, merupakan tingkat yang paling mulia dan agung dikerajaan langit.[23]
      Al-Ghazali memandang tingkat keempat sebagai tingkat yang paling mulia, sebab barangsiap berilmu, membimbing manusia dan memanfaatkan ilmunya bagi orang lain, bagaikan “matahari”, selain menerangi dirinya juga menerangi orang lain. Dia bagaikan minyak kasturi yang harum dan menyebabkan keharuman kepada orang yang berpapasan dengannya.
      Adapun dasar-dasar mengajar metode yang disarankan al-Ghazali adalah sebagai berikut: a). Adanya hubungan kasih sayang antara guru dan murid, b) adanya keteladanan guru, c) memahami karakteristik murid teladan yang meliputi: rendah hati, mensucikan diri dari keburukan, taat dan istiqamah, d) memiliki keluasan pandangan dan ilmu, e) belajar tahap demi setahap, f) memperhatikan perbedaan intelektual murid, g) pemantapan pemahaman, dan h) pemanfaatan kepribadian murid.[24]
5.      Sifat dan peranan guru dalam PBM
Guru adalah publik figur yang akan dijadikan panutan para pelajarnya. Oleh sebab itu, perilaku guru baik yang bersifat personal maupun sosial, senantiasa dijadikan parameter sebagai sosok guru. Al-Ghazali menyebutkan beberapa sifat dan peranan yang dapat diperankan oleh guru antara lain sebagai berikut; a) sifat-sifat guru, yaitu berakal sempurna, berakhlak luhur, pantas diserahi amanat mengajar anak, b) peranan guru, yaitu sebagai pengajar dan pembimbing, sebagai pengkaji sejarah; khususnya sejarah pendidikan, sebagai pembimbing kehidupan keagamaan murid, sebagai panutan murid, sebagai suri tauladan, sebagai orang yang dapat memahami perbedaan individual, sebagai orang yang mengenali pribadi murid, sebagai pemegang prinsip-prinsip dasar.[25]
Bertolak dari sifat dan peran guru tersebut, maka gur harus memiliki akhlak yang luhur karena ia menjadi publik figur yang patut diteladani dan diberi amanat untuk membimbing murid dalam rangka mencapai tujuan pendidikan, yaitu kesempurnaan manusia di dunia dan akhirat. Oleh sebab itu, pembinaan dan pembimbingan dari guru yang berakhlak luhur sangat menentukan terbentukknya perilaku sebagai pencerminan dari akhlak al-karimah.
Penutup
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan menurut al-Ghazali adalah menghilangkan akhlak yang buruk dan menanamkan akhlak yang baik karena dalam diri manusia terdapat empat unsur yang harus diperbaiki secara keseluruhan dan terintegrasi yaitu kekuatan ilmu, kekuatan ghadhab (marah), kekuatan syahwat, dan kekuatan keadilan. Dengan terintergrasinya keempat unsur tersebut diharapkan dapat melahirkan keindahan watak manusia. Oleh sebab itu, menurutnya tujuan pendidikan adalah taqarrub kepada Allah dan kesempurnaan manusia untuk mencapai kebahagian dunia dan akhirat.
Kurikulum pendidikan menurut al-Ghazali dirancang dengan mendasarkan tinggi rendahnya materi pendidikan, untuk itu kurikulum harus dibagi meliputi kurikulum tingkat dasar, tingkat menengah dan tingkat tinggi. Sedangkan dalam proses belajar mengajar dia berpendapat bahwa transformasi ilmu pengetahuan dimulai dari Allah kepada Malaikat Jibril, kepada Nabi (Muhammad) dan kemudian para guru sampai sekarang. Dengan demikian, guru dalam pengertian akademik menurut al-Ghazali adalah seorang yang menyampaikan sesuatu pada orang lain atau seorang yang menyertai suatu institusi untuk menyampaikan ilmu pengetahuan kepada para pelajarnya. Dalam kitab lain al-Ghazali juga memberikan definisi guru seorang yang menyampaikan sesuatu yang baik, positif, kreatif atau membina kepada seseorang yang berkemauan tanpa melihat umur walaupun terpaksa melalui berbagai cara dan strategi dengan tanpa mengharapkan ganjaran atau gaji.
M. Djunaidi Ghony[*]

[*] Penulis adalah Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Malang


Catatan Akhir
[1] Ensiklopedi Islâm, 1994. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve. Hlm. 25.
[2] Busyairi Madjidi, 1997. Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, Yogyakarta: al-Amin Press. Hlm. 80.
[3] W. Mongemery Watt, 1987. Pemikiran Teologi dan Filsafat Islâm (terjm. Umar Basahin, Jakarta: P3M. 139.
[4] Mustafa Amin, 1974. Tarikhut al-Tarbiyah, Mesir: al-Ma’arif. Hlm. 175-176.
[5] Abu Bakar Aceh, 1980. Sejarah Filsafat Islâm, Semarang: Ramadhani. Hlm. 135.
[6] Muhammad Luthfi Jum`ah, tt. Tarikh falasifatil Islâm, Mesir: Najid Metri. Hlm. 68.
[7] Fathiyah Hasan Sulaiman, 1986. Alam pikiran al-Ghazali mengenai pendidikan dan Ilmu. Bandung: CV. Diponegoro. Hlm. 30.
[8] Busyairi, 1997. Op.Cit. Hlm. 83.
[9] Ibid. Hlm. 83.
[10] Fathiyah, Op. Cit. Hlm. 21.
[11] Busyairi , Op. Cit., Hlm. 86.
[12] Busyairi, Ibid., Hlm 86.
[13] Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad, Ihyâ Ulûm al-Dîn, Jilid III,  Mesir: tth, Maktabah Tijâriah Kubra, Hlm. 12 Bandingkan dengan pandapat Fathiyah, Op cit. Hlm.31
[13] Busyairi, Ibid., Hlm 86.
[13] Al-Ghazali, Ihyâ Ulûm al-Dîn, Jilid III,  Mesir: tth, Maktabah Tijariah Kubra, Hlm. 12.  Bandingkan dengan pandapat FathiyahOp cit. Hlm.31
[14] Quraisi, Al-Mansur, 1983. Some Aspects Of Muslim Education, Lahore: Universal Book. Hlm 11-15
[15] Al-Ghazali, Ihya Ulumuddin, Op. Cit. Hlm. 76.
[16] Al-Ghazali, Ibid. Hlm. 77.
[17] Al-Ghazali, The Book of Knowledge, [Terjm]. Nabih Amin Farish. Lahore: Sh. Muhammad Ashraff. Hlm. 15.
[18] Mubarak, Zakki, tth. Al-Akhlâk `Inda al-Ghazali, Mesir: Dâr al-Kutb al-`Arabi. Hlm. 22.
[19] Hamid Fahmi Zarkasy, 1980. Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Kuala Lumpur: Harian Sdn. Berhad. Hlm. 65-69.
[20] Ibid. Hlm. 70.
[21] Al-Ghazali, Op. Cit. Hlm. 13.
[22] Ibid. Hlm. 49.
[23] Ibid. Hlm. 49.
[24] Fathiyah, Op.Cit. Hlm. 58-66.
[25] Ibid. Hlm. 49-55.

Daftar Pustaka
Abu Bakar Aceh, 1980. Sejarah Filsafat Islam, Semarang: Ramadhani.
Al-Ghazali, Abu Hamid Muhammad, tth. Ihyâ Ulûm al-Dîn, Jilid III,  Mesir: Maktabah Tijariah Kubra.
_______,The Book of Knowledge, [terj]. Nabih Amin Farish. Lahore: Sh. Muhammad Ashraff.
Amin, Mustafa,1974. Tarikhut al-Tarbiyyah, Mesir: al-Ma’arif.
Busyairi Madjidi, 1997. Konsep Kependidikan Para Filosof Muslim, Yogyakarta: al-Amin Press.
Ensiklopedi Islam, 1994. Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve.
Jum`ah, Muhammad Luthfi, tth. Târikh Falâsifat al-Islâm, Mesir: Najid Metri.
Mubarak, Zakki, tth. Al-Akhlâk `Inda al-Ghazali, Mesir: Dâr al-Kutb al-`Arabi.
Quraisi, Al-Mansur, 1983. Some Aspects of Muslim EducationLahore: Universal Book.
Sulaiman, Fathiyah Hasan. 1986. Alam Pikiran Al-Ghazali Mengenai Pendidikan dan Ilmu. Bandung: CV. Diponegoro.
Watt, W. Mongemery, 1987. Pemikiran Teologi dan Filsafat Islam [Terj]. Umar Basahin, Jakarta: P3M.
Zarkasy, Hamid Fahmi.1980. Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, Kuala Lumpur: Harian Sdn. Berhad.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

World Clock