Sabtu, 14 April 2012

Asumsi Adalah


Asumsi adalah sebuah perkiraan yang biasa dibuat oleh manusia untuk menyederhanakan suatu masalah.  Biasanya ia digunakan ketika menganalisa suatu masalah dikarenakan adanya variabel-variabel tertentu yang tidak terukur / diketahui.  Asumsi juga biasa digunakan untuk menyingkat waktu penyelesaian masalah dan biasanya amat erat terkait dengan pengalaman pribadi penggunanya.

Pada titik ini, barangkali asumsi terlihat sangat tidak ilmiah, padahal tidak demikian.  Asumsi justru sangat berhubungan dengan penyelesaian masalah secara ilmiah dan digunakan secara luas dalam sains.  Sederhananya, Anda tidak mungkin menemukan aspek dalam sains yang tidak melibatkan asumsi, meskipun sains sudah kadung ‘dipuja-puji’ sebagai ilmu pasti.

Pada dasarnya ilmu pasti itu tidak ada (atau lebih tepatnya : ilmu pasti itu hanya milik Allah SWT).   Dalam perhitungan, biasanya kita menggunakan nilai percepatan gravitasi yang sama untuk semua tempat di muka bumi, padahal tidak demikian adanya.  Segala perhitungan harus didasarkan pada sebuah asumsi, yaitu bahwa segala kondisi yang diinginkan mesti tercapai.  Kita bisa saja mengestimasi produktifitas sebuah pabrik dalam sehari, namun segala perhitungan yang kita buat akan kehilangan akurasinya ketika terjadi pabrik diguncang gempa besar, generatornya meledak, atau disapu habis oleh tsunami. Jangankan force majeur, kecelakaan yang terjadi pada salah seorang operator mesin saja bisa menyebabkan produktifitas pabrik anjlok drastis.

Untuk mengatasi masalah yang tak teramalkan ini, digunakanlah asumsi.  Setiap pengelola pabrik pasti memiliki persiapan untuk menghadapi masalah-masalah seperti ini.  Oleh karena itu, jika pabrik itu seharusnya berproduksi tiga ratus hari dalam setahun, misalnya, maka sebaiknya pengelola pabrik bersiap menanggulangi kerugian yang mungkin terjadi ketika pabrik terpaksa berhenti berproduksi.  Sebagai asumsi, katakanlah, dalam setahun terjadi 4 hari penuh ketika pabrik tidak berproduksi.  Maka perkiraan kerugian pun diperkirakan, dan kemudian perencanaan pun akan lebih matang karena melibatkan dua buah asumsi : perkiraan keuntungan dan perkiraan kerugian.  Semuanya berdasarkan asumsi.  Perencanaan apa yang bisa Anda rencanakan jika tidak menggunakan asumsi?

Meskipun sama sekali tidak ‘eksak’, namun contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa asumsi itu sendiri sebenarnya amat bermanfaat jika kita tahu cara menggunakannya.  Secara sederhana, sebuah asumsi digunakan untuk kemaslahatan manusia, bukan sebaliknya.

Dari kacamata ilmiah, sesungguhnya sama sekali tidak ada alasan untuk melarang pornografi dan pornoaksi, karena asumsi-asumsi yang digunakan oleh para penentang aturan tersebut sama sekali tidak tepat.  Asumsi-asumsi yang mereka gunakan antara lain adalah sebagai berikut :
  • Ada kerancuan ketika memisahkan antara ‘sensualitas’ dengan ‘pornografi’.  Sesuatu yang ‘sensual’ dapat disebut sebagai karya seni oleh sebagian orang, namun juga bisa membangkitkan birahi sebagian yang lain, dan karenanya juga bisa disebut sebagai ‘pornografi’.
  • Seorang perempuan yang berpakaian minim tidak boleh dipersalahkan, karena ia (diasumsikan) tidak memiliki niat buruk dengan pakaiannya itu. Memang ada orang yang merasa terganggu dengan gaya pakaiannya, tapi ada pula yang tidak.
 Jadi, ketika sebuah gambar yang mengumbar aurat ‘dilempar’ ke publik, maka ada dua kemungkinan respon publik, yaitu merasa terganggu atau tidak.  Adayang menganggapnya ‘sensual’, ada pula yang menganggapnya tak pantas. Anggaplah semua orang mampu menyatakan pendapatnya secara jujur. Sekarang, solusi apa yang cocok bagi kemaslahatan masyarakat?

Ketika mendesain sebuah konstruksi bangunan, seorang engineer teknik sipil pasti membayangkan yang buruk-buruk ; topan badai, hujan salju, air bah, gempa, dan sebagainya.  Bangunan yang didesain dengan asumsi tidak akan terjadi bahaya apa pun terhadapnya adalah bangunan yang sangat buruk.  Karena bencana alam tak dapat diramal, maka digunakanlah asumsi.  Bangunan pun dikonstruksi dengan persiapan yang dianggap cukup untuk menghadapi bahaya yang diasumsikan itu.  Jelaslah bahwa logika ilmiah menghendaki kita untuk mempersiapkan diri menghadapi bencana sebelum ia benar-benar terjadi.  Kata orang : hope for the best, but prepare for the worst.  Pola yang sama harus pula diterapkan dalam menangani masalah pornografi dan pornoaksi.

Anggaplah memang ada manusia yang menganggap aurat lawan jenisnya sebagai objek sensualitas belaka dan sama sekali tidak melampaui garis batas kepantasan.  Akan tetapi, asumsi tetaplah harus digunakan pada sisi kemungkinan terburuknya.  Kalau memang orang-orang tidak menjadi terangsang dengan pengumbaran aurat, maka tentu takkan ada masalah.  Tapi justru disitulah masalahnya ; kita harus mengasumsikan adanya masalah!

Masalah itu memang benar-benar ada.  Fakta menunjukkan bahwa banyak sekali manusia di muka bumi ini yang pikirannya mudah teralihkan akibat aurat lawan jenis yang tersaji di depan matanya.  Ketertarikan yang cuma sekilas bisa mengundangnya untuk melihat lebih jauh, dan kemudian menguasai pikirannya sehingga ia tergoda untuk melakukan hal-hal yang tidak baik.  Ini adalah sebuah fakta, dan ia harus digunakan sebagai sebuah asumsi, jika memang menginginkan kemaslahatan bagi masyarakat.  Asumsi bahwa manusia tidak terganggu dengan ‘sensualitas’ sama sekali tidak bermanfaat, karena pada kenyataannya ada dan seringkali terjadi masalah karena hal itu.  Satu-satunya pemecahan logis yang bisa kita ambil adalah dengan menggunakan the worst case scenario, yaitu bahwa manusia secara umum akan terganggu oleh pengumbaran aurat.  Oleh karenanya, penyelesaian logisnya adalah persis sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam sejak belasan abad yang lalu. Aurat harus ditutup dari pandangan manusia yang tak berhak melihatnya, tak peduli bagaimana respon manusia secara individu.

Ironisnya, mereka yang mengklaim dirinya sebagai kaum yang intelek, rasionalis, ilmiah dan terpelajar justru sering terjebak dengan asumsi yang tidak mendatangkan keuntungan baginya.  Mereka menggunakan asumsi-asumsi yang tidak akan menolongnya, karena tidak memandang kemungkinan terburuk yang akan terjadi.  Mereka terlalu berani mengambil ‘ijtihad’ tanpa merasa khawatir akan terperosok dalam sebuah kesalahan yang amat buruk dan memalukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

World Clock