Senin, 02 April 2012

ALIRAN QODARIYAH DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH ILMU KALAM


MAKALAH
ALIRAN QODARIYAH
DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH
ILMU KALAM

Dosen Pembimbing :
Dra. Hj. Ninik Masruroh. M.Pd.I

 







Disusun Kelompok III :
Fio Rentianingsih Wijaya
Lailatul Rosida
M. Saikhu
Wasita

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM
PANCAWAHANA BANGIL
2011/2012

KATA PENGANTAR
            Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Robbul 'Alamin Allah SWT, yang telah memberikan karunia-Nya dan berkah-Nya kepada kami semua sehingga dapat menyelesaikan tugas penulisan makalah dengan baik dan lancar.Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Al-Amin Baginda Rasulullah Muhammad SAW, para keluarga.sahabatnya yang telah membebaskan manusia dari sifat binatang dan belenggu kebodohan menjadi manusia yang sebenarnya,sesuai ajaran Al-Qur'an dan Al-Hadist.
            Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang harus kami penuhi dalam mempelajari Ilmu Kalam.Dengan adanya penulisan makalah ini kami dapat mengetahui  dan mengurangi sedikit kebodohan yang ada pada diri kami, sehingga kami dapat menyibak tabir – tabir  yang menghalangi kami dalam rangka taqorrub kepada Allah SWT  serta lebih memperdalam keimanan dan ketaqwaan kami kepada Allah SWT.
            Ucapan terima kasih yang besar, kami tujukan kepada seluruh dosen khususnya kepada pembimbing kami yaitu Ibu Dra. Hj. Ninik Masruro. MPd.I yang dengan sabar membimbing dan memberi masukankepada kami sehingga bisa menimbilkan keinginanyang besar untuk mengikuti beliau untuk menciptakan wawasan keilmuan yang lebih luas terutama bidang kajian ilmu kalam.
            Kami selalu mengharapkan saran, kritik, atas kesalahan dan kekurangan yang ada ada dalam penyusunan makalah ini. Akhirnya, semoga makalah ini bermanfaat bagi pembaca dan menjadikanamal saleh bagi kami. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

                                                                                                   Bangil, Maret 2012                                                                                                                             Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang Masalah
Sebelum kita membahas masalah aliran Qodariyah lebih dulu kita mengetahui pengertian Ilmu Kalam.Ilmu Kalam adalah ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil – dalil aqliyah ( rasional ilmiah ) dan sebagai tameng terhadap segala tantangan dari para penantang.Adapun mengenai pengertian Ilmu  Kalam,ada beberapa tokoh yang berpendapat yaitu :
1)     Al-Farabi mendefinisikan Ilmu Kalam yaitu disiplin ilmu yang membahas Dzat dan Sifat Allah beserta eksistensi yang mungkin, mulai yang berkenaan dengan masalah dunia sampai masalah setelah kematian yang berlandaskan doktrin Islam. Penekanan akhirnya adalah menghasilkan ilmu ketuhanan secara filosofis.
2)     Ibnu Khaldun mendefinisikan Ilmu Kalam yaitu disiplin ilmu yang mengandung berbagai argumentasi tentang akidah imani yang di perkuat dalil-dalil rasional.
3)     Musthafa Abdul Raziq berpendapat bahwa Ilmu Kalam bersandar pada argumentasi – argumentasi rasional yang berkaitan dengan aqidah imaniah, ata sebuah kajian tentang aqidak islamiyah yang bersandar pada nalar.
Menurut Ahmad Hanafi, di dalam nash-nash kuno tidak terdapat perkataan al-Kalam yang menunjukkan suatu ilmu yang berdiri sendiri sebagaimana yang diartikan sekarang..Arti semula dari istilah al-Kalamadlah kata kata yang tersusunyang menunjukkan suatu maksud.Kemudian di pakai untuk menunjukkan salah satu sifat tuhan, yaitu berbicara.
Sebagai salah satu sumber ilmu kalam, pemikiran manusia berasal dari pemikiran umat Islam sendiri dan pemikiran yang berasal dari luar umat Islam.Didalam Al-Qur'an, banyak sekali terdapat ayat-ayat yang memerinyahkan manusia untuk berfikir dan menggunakan akalnya.
B. Rumusam Masalah
  1. Bagaimana Asal-usul Kemunculan Qodariya?
  2. Apa sajakah Ciri-Ciri Paham Qodarihah?
  3. Bagaiman Doktrin-Doktrin Qadariyah?
  4. Siapa Pendiri Aliran Qodariyah?
C. Tujuan Penulisan
  1. Mengetahui Asal-usul Kemunculan Qodariya?
  2. Mengetahui Ciri-Ciri Paham Qodarihah?
  3. Memahami Doktrin-Doktrin Qadariyah?
  4. Mengerti Pendiri Aliran Qodariyah?





















BAB II
PEMBAHASAN

A.  Asal-usul Kemunculan Qodariyah
Qodariyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata qadara yang artinya kemampuan dan kekuatan.[1] Adapun menurut pengertian terminologi, Qodariyah adalah suatu aliran yang percaya bahwa segala tindakan tidak diintervensi oleh Tuhan. Aliran ini berpendapat bahwa tiap-tiap orang adalah pencipta bagi segala perbuatannya; Ia dapat berbuat sesuatu atau meninggalkanya atas kehendaknya sendiri. Aliran Qodariyah dipakai untuk suatu nama aliran yang memberi penekanan atas kebebesan dan kekuatan manusia dalam mewujudkan perbuatan-perbuatanya. Dalam hal ini, Harun Nasution menegaskan bahwa kaum Qodariyah berasal dari pengertian bahwa manusia mempunyai Qudrah atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya,dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk dari qadar Tuhan.[2]
Seharusnya, sebutan Qodariyah diberiakan kepada aliran yang berpendapat bahwa qadar menentukan segala tingkah laku manusia, baik yang bagus maupun yang jahat. Namun, sebutan tersebut telah melekat pada kaum sunni, yang percaya bahwa manusia mempunyai kebebasan berkehendak. Menurut Ahmad Amin,sebutan ini diberikan pada para pengikut faham qadar oleh lawan mereka dengan merujuk hadist yang menimbulkan kesan negatif bagi nama Qodariyah.[3]
Hadis itu berbunyi:
القدرية مجوس هذه الآمة
Artinya:
“ Kaum Qodariyah adalah majusinya umat ini “
Menurut Ahmad Amin, ahli teolagi mengatakan bahwa Qodariyah pertama sekali dimunculkan olah Ma’bad Al-Jauhani (Seorang taba’i yang dapat dipercaya dan pernah berguruh pada Hasan Al-Basri). danGhailan Ad-dimasyqy (seorang orator berasal dari damaskus dan ayahnya menjadi maula Usman bin Affan.
Berkaitan dengan persoalan pertama kalinya Qodariyah muncul, Ada baiknya bila meninjau kembali pendapat Ahmad Amin yang menyatakan kesilitan untuk menentukannya. Para peneliti sebelumnyapun belum sepakat mengenai hal ini karena penganut qodariyah saat itu banyak sekali. Sebagian terdapat di Irak dengan bukti bahwa gerakan ini terjadi pada pengajian Hasan Al-Basri. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibn Nabatah bahwa yang mencetuskan pendapat pertama tentang masalah ini adalah seorang kristen dari irak yang telah masuk islam pendapat itu di ambil oleh Ma’bad Bin Ghailan. Sebagian lain berpendapat bahwa faham ini muncul di dimaskus. Diduga disebabkan oleh pengaruh orang-orang Kristen yang banyak di pekerjakan di Istana-istana Khalifah.[4]
Faham Qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam ketika itu, ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinua reaksi keras ini. Pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat arab sebelum islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Mereka selalu terpaksa mengalah kepada keganasan alam. Panas yang menyengat, serta tanah dan gunung yang gundul. Mereka merasa dirinya lemah dan tak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya.faham itu terus dianut kedatipun mereka telah beragama islam, karena itu , ketika faham Qadariyah di kembangkan , mereka tidak dapat menerimanya, faham Qadariyah itu dianggap bertentangan dengan doktrin islam.
Kedua tantangan dari pemerintah ketika itu. Tantangan itu sangat mungkin terjadi karena para pejabat pemerintahan menganut faham Jabariyah. Ada kemungkinan juga pejabat pemerintah menganggap gerakan faham Qadariyah sebagai suatu usaha menyebarkan faham dinamis dan daya kritis rakyat, yang pada gilirannya mampu mengkritik kebijakan-kebijakan mereka yang dianggap tidak sesuai, dan bahkan dapat menggulingkan mereka dari tahta kerajaan.
B. CIRI-CIRI PAHAM QODARIHAH
Di antara ciri-ciri paham Qadariyah adalah sebagai berikut :
1)    Manusia berkuasa penuh untuk menentukan nasib dan perbuatannya, maka perbuatan dan  nasib manusia itu dilakukan dan terjadi atas kehendak dirinya sendiri, tanpa ada campur tangan Allah SWT.
2)    Iman adalah pengetahuan dan pemahaman, sedang amal perbuatan tidak mempengaruhi iman. Artinya, orang berbuat dosa besar tidak mempengaruhi keimanannya.
3)    Orang yang sudah beriman tidak perlu tergesa-gesa menjalankan ibadah dan amal-amal kebajikan lainnya.[5]
C. DOKTRIN-DOKTRIN QADARIYAH
Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal, pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan.[6]
Harun Nasution menjelaskan pendapat Ghailan tentang doktrin Qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya. Mansuia sendiri pula melakukan atau menjauhi perbuatan atau kemampuan dan dayanya sendiri. Salah seorang pemuka Qadariyah yang lain , An-Nazzam , mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.
Dari beberapa penjelasan diatas ,dapat di pahami bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakun segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memproleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.
Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.
Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu.Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah.[7]
Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah mailiki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan. Seperti gajah yang mampu mambawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkan mempunyai daya pikir yang kreatif.
Demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu ,dengan daya pikir yang kreatif dan anggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan. Sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia juga dapat membuat benda lain yang dapat membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah. Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimiliki manusia.[8]
 Dengan pemahaman yang seperti ini, kaum Qodariyah berpendapat, bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai pijakan dalam dokrtin Islam sendiri. Banyak ayat Al-Qur’an yang dapat mendukung pendapat ini, misalnya dalam surat Ar-Ra’d 11 (Juz 13)
                                                                                                                
إِنَّ اللهَ لاَ يُغَيِّرُ مَـا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَـا بِأَنْفُسِهِمْ                                                       

Artinya: Sesungguhnya Allah tiada mengubah keadaan suatu bangsa,
kecuali jika merubah keadaan mereka sendiri (Q.S. Ar-Ra’d: 11)



D. PENDIRI ALIRAN QODARIYAH
Orang yang mula-mula memfatwakan ialah Ma’bad Al Juhaini dan Ghailan Ad Dimasyqi. Ma’bad Al Juhaini adalah seorang tabi’in, yaitu generasi yang kedua sesudah Nabi Muhammad saw. Ia pernah belajar dengan Wahsil bin Atha’ (imam kaum Mu’tazilah) kepada Syeikh Hasan Basri di. Basrah.
Ia dihukum mati oleh Hajaj seoarang penguasa di basrah ketika itu, karena fatwa-fatwanya yang salah. Sampai sekarang, walaupun Ma’bad sudah dihukum mati sekitar permulaan abad ke II H. tetapi pahamnya masih ada yang menganutnya, juga di Indonesia ada gejala- gejala penganut paham Qodariyah ini. Adapun Ghailan Ad Dimasyqi adalah penduduk kota Dimsyaq (Syiria). Bapaknya seorang yang pernah bekerja pada Khalifah Utsman Bin ‘Affan. Kedua duanya Ma’bad Al Juhaini dan Ghailan Ad Dimasyqi dihukum mati karena menganut paham yang salah itu. Ada pendapat tentang (markas) bergejolaknya paham Qodariyah ini pada mulanya. Ada yang mengatakan di Iraq, ada yang mengatakan di Damaskus, tetapi melihat jalan sejarahnya maka kemungkinan pada kedua-dua kota itu ada, karena Bagdad dan Damsyik dulunya pada abad ke I, II, dan III.
            Imam paham Qodariyah ini yang besar adalah imam Mu’tazilah Ibrahim Bin Sayar An Nazham (meninggal 211H), yang menfatwakan juga bahwa. “ijmak” sahabat atau “ijmak” imam mujtahid tidak dapat menjadi dalil dan Qur’an suci dipandang dari segi susunannya, lafazhnya, hurufnya tidaklah mukjizt Nabi, tetapi mukjizatnya terletak karena Al-Qur’an itu banyak menggambarkan hal-hal yang ghoib.[9]



BAB III
KESIMPULAN
  
   Dalam kitab Al-Milal wa An-Nihal , pembahasan masalah Qadariyah disatukan dengan pembahasan tentang doktrin-doktrin Mu’tazilah, sehingga perbedaan antara kedua aliran ini kurang begitu jelas. Ahmad Amin juga menjelaskan bahwa doktrin qadar lebih luas di kupas oleh kalangan Mu’tazilah sebab faham ini juga menjadikan salah satu doktrin Mu’tazilah akibatnya, orang menamakan Qadariyah dengan Mu’tazilah karena kedua aliran ini sama-sama percaya bahwa manusia mempunyai kemampuan untuk mewujudkan tindakan tanpa campur tangan tuhan
   Faham Qadariyah mendapat tantangan keras dari umat islam ketika itu, ada beberapa hal yang mengakibatkan terjadinua reaksi keras ini. Pertama, seperti pendapat Harun Nasution, karena masyarakat arab sebelum islam kelihatannya dipengaruhi oleh faham fatalis. Kehidupan bangsa arab ketika itu serba sederhana dan jauh dari pengetahuan. Mereka selalu terpaksa mengalah kepada keganasan alam. Panas yang menyengat, serta tanah dan gunung yang gundul. Mereka merasa dirinya lemah dan tak mampu menghadapi kesukaran hidup yang ditimbulkan oleh alam sekelilingnya.faham itu terus dianut kedatipun mereka telah beragama islam, karena itu , ketika faham Qadariyah di kembangkan , mereka tidak dapat menerimanya, faham Qadariyah itu dianggap bertentangan dengan doktrin islam.





DAFTAR PUSAKA

-Drs. H. Sahilun A. Nasir, Pengantar Ilmu Kalam, PT. Raja Grafindo, Jakarta, 1996.
-Dr. Abdul Rozak M.Ag. Ilmu Kalam. CV. Pustaka Setia. Bandung: 2003.
-K.H. Siradjuddin Abbas, I’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Pustaka Tarbiyah, Jakarta: 2003.
-Anwar, Rosihan, Ilmu Kalam, (Bandung: Puskata Setia, 2006), cet ke-2
-Asmuni, Yusran, Dirasah Islamiyah: Pengantar Studi Sejarah Kebudayaan Islam dan Pemikiran, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996)
-Daudy, Ahmad, Kuliah Ilmu Kalam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1997)
-Hadariansyah,AB, Pemikiran-pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam, (Banjarmasin: Antasari   Press, 2008)
-Maghfur, Muhammad, Koreksi atas Pemikiran Kalam dan Filsafat Islam, (Bangil: al-Izzah, 2002)
-http://sherikay.blogspot.com/2008/11/aliran-qadariyah.html.
-http:///D:/Ilmu%20Kalam/aliran%20qodaryah.htm






[1] Luis Ma’luf Al-Yusu’I, Al-Khatahulikiyah, Beirut, 1945, hlm.436.
[2] Nasution,Teolegi Islam…..hlm.436.
[3] Ahmad Amin,Fajr Al-Islam,maktabah An-Nahdhah Al-Misriyah Li ashhabiha Hasan Muhammad wa Aulahidi,Kairo, 1924,hlm.25.
[4] Ahmad Amin, op.cit..hlm.286
[6] Ahmad Amin, op.cit..hlm.278.
[7] Yunan Yusuf. Alam Pikiran Islam. Jakarta.1990.hlm.25.
[8] http://sherikay.blogspot.com/2008/11/aliran-qadariyah.html
[9] http:///D:/Ilmu%20Kalam/aliran%20qodaryah.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

World Clock