Minggu, 01 April 2012

Skripsi QUANTUM TEACHING- LEARNING


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING- LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS I PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MADARASAH IBTIDA’IYAH MIFTAKHUL ULUM DUSUN KELATAAN DESA DAYU REJO KECAMATAN PRIGEN
KABUPATEN PASURUAN

SKRIPSI
 











Oleh :

NURUL CHIKMAH
NIM : 07.A.60.053
NIMKO : 2007.4.060.0001.1.01180

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PANCAWAHANA
(STAIPANA) BANGIL
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (TARBIYAH)

23 Sya’ban 1432 H
25 Juli 2011 M


PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING- LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS I PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MADARASAH IBTIDA’IYAH MIFTAKHUL ULUM DUSUN KELATAAN DESA DAYU REJO KECAMATAN PRIGEN
KABUPATEN PASURUAN

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Sebagai  Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I) dalam Ilmu Tarbiyah di
Sekolah Tinggi Agama Islam Pancawahan
Bangil Pasuruan Jawa Timur
 










Oleh :

NURUL CHIKMAH
NIM : 07.A.60.053
NIMKO : 2007.4.060.0001.1.01180

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM PANCAWAHANA
(STAIPANA) BANGIL
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (TARBIYAH)
23 Sya’ban 1432 H
25 Juli 2011 M


Motto

“Hiasan ilmu adalah rendah hati dan sopan”
(Syaikh Muhammad Syakir)

(Djupri, Ghoziadin, 19)


LEMBAR PERSETUJUAN SKRIPSI
Judul Skripsi               : PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA KELAS 1 PADA MATA PELAJARAN AQIDAH AKHLAK DI MI MIFTAKHUL ULUM DUSUN KELATAAN DESA DAYU REJO KECAMATAN PRIGEN KABUPATEN PASURUAN.
Nama Penyusun          : NURUL CHIKMAH.
NIM                            : 07.A.60.053
NIMKO                      : 2009.4.060.0001.1.01180
Tanggal                       : 01 April 2011
Penilaian                      : -


Pembimbing I


Dra.Hj.Siti Romlah,M.PdI
Di setujui oleh :


Pembimbing II


Drs.H.M.Sholihin,M.Ag





LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi oleh Nurul Chikmah ini telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi
Bangil, 29 Juli 2011



Mengesahkan,
Ketua STAIPANA,




DR. H. M. SJA’RONI, M.Ag

Ketua,





Drs. H. M. ZAINUL MUSTA’IN, M,Pd.I


Penguji Utama






M. KHAIRIL MUSTOFA, M. Pd.I


ABSTRAK

Nurul chikmah, 2011 Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning terhadap minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum, Dusun Kelataan, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan.
Pembimbing 1    : Dra.Hj.Siti Romlah,M.PdI
Pembimbing II   : Drs.H.M.Sholihin,M.Ag

Anak lahir dalam pemeliharaan orang tua dan dibesarkan didalam keluarga. Orang tua tanpa ada yang memerintah langsung memikul tugasa sebagai pendidik baik bersifat sebagai pemelihara, sebagai pengasuh, sebagai pembimbing, sebagai Pembina, maupun sebagai guru dan pemimpin terhadap anak – anaknya. Ini adalah tugas kodrati tiap – tiap manusia sebagai orang tua. Karena anak adalah suatu amanah dari Tuhan, kepada Ibu dan Bapaknya. Lalu bagaimana dengan pendidikan yang ada disekolah dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan formal.
Seotang guru ditingkat SD atau MI, harus mampu untuk menjalankan tugas gandanya selain menjadi pendidik beliau juga harus mampu menjadi seorang pembimbing bagi peserta didik, untuk itu perlu kiranya ditiap – tiap lembaga pendidikan meilih dan menentukan metode yang tepat dalam setiap pembelajaran.
Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning terbilang tepat jika dugunakan dalam suatu pengajaran di sekolah, hal ini bertujuan agar pelaksanaan proses belajar mengajar bisa menyenangkan dan mengatasi rasa kejenuhan pada peserta didik akibat cara belajar yang monoton.
Penelitian ini bertujuan untuk ; 1. Mengetahui bagaimana pelaksanaan model pembelajaran quantum teaching – learning di MI Miftahul ulum dayu rejo prigen. 2. Untuk mengetahui minat belajar siswa kelas 1 khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak. 3. untuk mengetahui adakah pengaruh dari model pembelajaran Quantum Teaching – Learning terhadap peningkatan minat belajar Aqidah akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum dusun kelataan, desa Dayurejo, Kec. Prigen, Kab. Pasuruan.
Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif cara memperoleh data dengan observasi, interview, dan dokumentasi. Serta metode kuantitatif dengan mengunakan rumus  prosentase dan Julius Q dalam menganalisa data – data yang diperoleh.
Hasil penelitian dapat disimpulka bahwa ada pengaruh dari model pembelajaran Quantum Teaching – Learning terhadap peningkatan minat belajar Aqidah akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum dusun kelataan, desa Dayurejo, Kec. Prigen, Kab. Pasuruan.


KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillahirobbil ‘Alamin.
Puji Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan berkah, rohmat, dan hidayahNya dimuka bumi ini, sehingga penyusunan proposal ini bisa terselesaikan.
Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah mengarahkan kita kepada jalan yang terang dan memancarkan cahaya sinar Akhlakul karimah, yakni agama islam.
Penyusunan proposal ini adalah sebagai gambaran permasalahan dari pokok pikiran dalam melakukan penelitian ilmiah sebagai salah satu upaya pemecahan masalah nantinya.
Proposal ini tidak akan mudah terselesaikan tanpa adanya campur tangan berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penyusun ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada 
1.      Ibu Dra. Hj. Siti Romlah, M.PdI selaku dosen pembimbing I.
2.      Bpk Drs. H. M. Sholihin, M.Ag selaku dosen pembimbing II.
3.      semua pihak yang telah membantu dan berjasa pada keberhasilan dalam penyusunan proposal ini.
Kami sadar bahwa proposal ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu dengan besar hati penyusun memohon atas segala kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan dimasa yang akan datang.

Akhir kata semoga penyusunan proposal ini bisa bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Amin.
Bangil, 01 April 2011


Penyusun







DAFTAR ISI
Halaman Judul
Motto
Persembahan
Lembar Persetujuan
Lembar Pengesahan
Abstrak
Kata Pengantar …………………………………………………………..    i
Daftar Isi …………………………………………………………………    iii
Daftar Tabel ……………………………………………………………..     v
Daftar Gambar …………………………………………………………...    vi
Bab I   : Pendahuluan
  1. Latar Belakang …………………………………………………...    1
  2. Rumusan Masalah ………………………………………………..    3
  3. Tujuan Dan Manfaat ……………………………………………..     4
  4. Hipotesis …………………………………………………….........   5
  5. Variabel Penelitian ………………………………………………..   5
  6. Definisi Operasional ………………………………………………  6
  7. Metode Penelitian …………………………………………………  8
  8. Sistematika Pembahasan ………………………………………….   12
Bab II  : Landasan Teori
  1. Pembelajaran Quantum Teaching ………………………………..    13
a. Penerapan Quantum Learning dalam pembelajaran…………...      18
b. Penerapan konsep Pembelajaran Quantum Teaching – Learning..   23
  1. Pembelajaran Quantum Learning ………………………………..     16.
  2. Pengertian Dan Faktor yang mempengaruhi minat dalam belajar…  27
Bab III            : Laporan Hasil Penelitian
  1. Gambaran umum Objek penelitian…………………………….        33
  1. Letak geografif Madarasah Ibtida’iyah Miftahul ulum………..        33
  2. Sejarah Madarasah Ibtida’iyah Miftahul ulum…………………       33
  3. Struktur kepengurusan MI Miftahul ulum……………………..        36
  4. Data Keadaan guru dan karyawan MI Miftahul  ulum…………      39
  5. Data Keadaan siswa Madarasah Ibtida’iyah Miftahul ulum……      40
  1. Penyajian Data.
  1. Pelaksanaan Model Pembelajaran Quantum
Teaching – Learning siswa kelas 1 MI Miftahul ulum………..          45
  1. Minat belajar Aqidah Akhlak Siswa kelas 1
Madarasah Ibtida’iyah Miftahul ulum…………………………        48
  1. Analisa Data……………………………………………………       49
  2. Interprestasi…………………………………………………….       56
BAB IV PENUTUP
  1. Kesimpulan …………………………………………………….       58
  2. Saran – saran ……………………………………………………      59
Daftar Pustaka
Lampiran - lampiran



DAFTAR TABEL
Tabel 1. Keadaan guru ……………………………………………….          40
Tabel 2. Keadaan siswa ……………………………………………..           41
Tabel 3 Sarana dan Prasarana ………………………………………            44
Tabel 4 Prosentase Kesadaran siswa terhadap Pendidikan Agama Islam … 51
Tabel 5 Prosentase Perhatian siswa dalam belajar Pendidikan
Agama Islam ……………………………………………………...   52
Tabel 6 Prosentase Pengaruh Model Pembelajaran
Quantum Teaching – Learning Terhadap
minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1
MI Miftahul Ulum ………………………………………………..   52
Tabel 7 Kesadaran siswa terhadap Pendidikan Agama Islam ……………   54
Tabel 8 Perhatian siswa dalam belajar Pendidikan
Agama Islam ……………………………………………………...   54
Tabel 9 Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching –
Learning Terhadap minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1
MI Miftahul Ulum ………………………………………………..   54
Tabel 10 adakah Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching –
Learning terhadap minat belajar siswa kelas 1 MI Miftahul
Ulum………………………………………………………….          53
Tabel 11 Derajat besar hubungan 2 Variabel ………………………...          54




DAFTAR GAMBAR
Gambar I Struktur organisasi sekolah ………………………………..          37










 BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
     Setiap manusia dilahirkan memiliki potensi yang berbeda-beda. Keberadaan tersebut dijadikan dasar atau tolak ukur dimana manusia hidup bermasyarakat, berinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi antara manusia satu dengan manusia lainnya.
     Potensi yang terdapat pada diri seseorang mendorong suatu semangat yang bisa dijadikan sebagai kekuatan diri untuk terus menghadapi tantangan hidup, lebih cepat menciptakan solusi permasalahan hidup, lebih percaya diri, dan welcome terhadap kehidupan.
Sikap kreatif, berfikir kreatif bisa mengukur seberapa besar dan arah potensi apa yang sebenarnya dimiliki seseorang.
Daya peka berfikir yang berusaha melatih otak untuk mengolah, menyusun dan menemukan sesuatu hal yang baru merupakan modal utama bagi seseorang yang ingin maju dan sukses.
Dalam dunia pendidikan, pola berfikir kreatif senantiasa diperlukan. Sebab, suatu system pendidikan dapat dikatakan bermutu, jika proses pembelajaran berlangsung secara menarik dan menantang, sehingga peserta didik dapat belajar sebanyak mungkin melalui proses belajar yang berkelanjutan.
Proses pendidikan yang bermutu akan membuahkan hasil pendidikan yang bermutu dan relevan dengan pembangunan. Untuk mewujudkan pendidikan yang efisien, perlu disusun dan dilaksanakan program-program pendidikan yang mampu membelajarkan peserta didik secara berkelanjutan. Karena dengan kualitas pendidikan yang optimal, diharapkan akan dicapai sumber daya manusia yang dapat menguasai pengetahuan, keterampilan, dan keahlian sesuai dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang terus berkembang.
     Untuk mencapai tujuan pendidikan yang berkualitas, diperlukan manajemen pendidikan yang dapat memobilisasi segala sumber daya pendidikan. Manajemen pendidikan yang terkait dengan manajemen peserta didik yang berisi pengelolahan dan pelaksanaannya.
Kreatifitas merupakan kemampuan untuk mencipta daya cipta perihal berkreasi. ( Triyanto dkk, 2009 : 3 )
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil kreatifitas antara lain :
1.      Faktor Raw input ( seseorang itu sendiri, dimana mempunyai kondisi fisiologis dan psikologis yang berbeda ).
2.      Faktor Enviromental input ( Lingkungan ).
3.      Faktor Instumental input ( Kurikulum / bahan pengajaran, sarana, dan fasilitas, serta tenaga pengajar ).
( Ahmadi dan Prasetya, 2005 : 103 )
Kekreatifan seseorang, terutama guru sangat ditentukan oleh keleluasaan dan kedalaman pengetahuan dan wawasan. Oleh sebab itu, menjadi guru yang ideal haruslah selalu membiasakan untuk membelajarkan diri memahami bidang studinya, juga mendalami pengetahuan lainnya sebagai khazanah dirinya.
Banyak terdengar keluhan guru-guru, ada yang mengeluhkan badan kurang enak karena sakit kepala, sakit perut, dan sebagainya. Dimana ini semua adalah kompensasi dari bentuk rasa bosan. Mereka bosan untuk menunaikan tanggung jawab dan penyebab lain dari rasa bosan ini adalah karena umumnya guru-guru kurang kreatif dan terkadang salah dalam menentukan metode pembelajaran yang sesuai. Sehingga mereka jarang menjadi guru professional.
Fakta-fakta yang ditemukan dilapangan menjelaskan bahwa guru-guru atau tenaga pengajar di MI Miftakhul Ulum, dusun kelataan Desa Dayu Rejo Kecamatan Prigen, rata-rata menerapkan peranan tradisional dalam mengajar. Mereka bersifat bahwa guru masih sebagai sumber ilmu dan dalam penguasaan ilmu, siswa harus menyalin catatan guru dan menghafalnya tanpa melupakan titik komanya sekalipun.
Mengingat betapa erat hubungan antara metode mengajar dalam pendidikan, maka penulis ingin menuangkan dalam karya ilmiah tentang seberapa besar pengaruh dari model pembelajaran Quantum Teaching- learning terhadap minat belajar Aqidah Akhlak, dengan sebuah penelitian yang dilaksanakan di Madrasah Ibtida’iyah Miftakhul Ulum dusun kelataan desa Dayu rejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan.
B.   Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas. Maka dapat diambil beberapa rumusan masalah, antara lain :
  1. Bagaimana model pembelajaran Quantum Teaching- Learning siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen ?
  2. Bagaimana minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen ?
  3. Adakah pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching- Learning terhadap minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen ?
C.   Tujuan Dan Manfaat
Tujuan Penelitian
  1. Mengetahui model pembelajaran Quantum Teaching- Learning siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
  2. Mengetahui minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
  3. Mengetahui adakah pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching- Learning terhadap minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
Manfaat Penelitian
1.    Mengetahui model pembelajaran Quantum Teaching- Learning dalam menumbuhkan minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
2.    Mengetahui secara langsung minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
3.    Mengetahui pengaruh dari model pembelajaran Quantum Teaching- Learning terhadap minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
4.    Sebagai prasyarat penyelesaian tugas akhir S1 PAI.
D.   Hipotesis
Berangakat dari pengalaman sementara yang penulis dapatkan maka dapat ditarik suatu hipotesis sebagai berikut :
( Ha ) Ada pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching- Learning terhadap minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
( Ho ) Tidak ada pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching- Learning terhadap minat belajar siswa kelas 1 pada mata pelajaran Aqidah Akhlak di MI Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu rejo Kecamatan Prigen.
E.   Variabel Penelitian
Adapun yang menjadi variabel penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Variabel bebas adalah pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching- Learning.
  2. Variabel terikat adalah minat belajar siswa.

F.    Definisi Operasional
Skripsi ini berjudul “PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING- LEARNING TERHADAP MINAT BELAJAR AQIDAH AKHLAK DI MADARASAH IBTIDA’IYAH MIFTAKHUL ULUM DUSUN KELATAAN DESA DAYU REJO KECAMATAN PRIGEN KABUPATEN PASURUAN”.
     Judul Proposal skripsi diatas, secara umum memberi gambaran tentang bagaimana pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching- Learning terhadap minat belajar anak pada mata pelajaran Aqidah Akhlak.
     Agar pengertian judul skripsi ini tidak menimbulkan pemahaman yang berbeda dan supaya lebih jelas, maka perlu adanya penjelasan pada judul tersebut, dengan penegasan sebagai berikut :
-          Pengaruh.
Daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang, benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang.
(Kamus besar Bahasa Indonesia, 1990 : 664)
Dalam hal ini adalah seberapa besar model pembelajaran Quantum Teaching- Learning mempengaruhi minat belajar siswa kelas 1 MI Miftakhul Ulum Dayu rejo Prigen pada mata pelajaran Aqidah Akhlak.
-          Model.
Pola (contoh, acuan, ragam, dan sebagainya) dari sesuatu yang akan dibuat atau dihasilkan.
(Kamus besar Bahasa Indonesia, 1990 : 589)

-          Quantum.
Interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya.
(DePorter dkk, 2009 : 5 )
-          Learning (Learn + ing ).
Mempelajari.
(Tim penyusun, kamus lengkap Inggris- Indonesia : 186)
-          Teaching (Teach + ing).
Mengajar.
(Tim penyusun, kamus lengkap Inggris- Indonesia : 257)
-          Minat.
Perhatian yang mengandung unsur-unsur perasaan, yang menyebabkan seseorang berbuat aktif dalam suatu pekerjaan.
(Shalahuddin, 1990 : 95)
Dari uraian diatas maka yang dimaksud minat dalam penelitian ini adalah minat belajar mata pelajaran Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftakhul Ulum Dayu rejo Prigen.
-          Belajar
Proses perubahan tingkah laku pada diri seseorang berkat pengalaman dan pelatihan.
(Ahmadi dan Prasetyo, 2005 : 121)
-          Aqidah
Kepercayaan ; Keyakinan.
(Kamus besar Bahasa Indonesia, 1990 : 15)

-          Akhlak
Budi pekerti ; kelakuan.
(Kamus besar Bahasa Indonesia, 1990 : 15)
  1. Metode Penelitian.
1.      Penentuan Populasi Dan Sampel.
a.  Populasi.
Pengerrtian populasi adalah keseluruhan objek iang menjadi pusat perhatian penelitian.
       (Tim Dosen Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta, 2005 : 67)
       Adapun nantinya dalam penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa Madrasah Ibtida’iyah Miftakhul Ulum dusun Kelataan Desa Dayu Rejo Kecamatan Prigen yang berjumlah 10 guru dan 77 siswa.
b.  Sampel.
Sampel adalah beberapa bagian dari suatu keseluruhan yang dipilih secara khusus untuk mewakili keseluruhan itu. (Tim Dosen Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta, 2005 : 67)
Dalam menentukan besarnya sampel yang harus diambil dari suatu populasi pada dasarnya tidak ada ketentuan yang pasti, namun Suharsimi Arikunto memberikan pedoman sebagai berikut :
     “Untuk sekedar ancer-ancer apabila subjeknya kurang dari 100 maka lebih baik diambil semua. Sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika subjeknya besar maka dapat diambil 10%-15% atau 20%-25% atau lebih.
(Ari Kunto, 1996 : 120)
Akan tetapi dengan mempertimbangkan daya kreatif keadaan siswa, maka penulis menggunakan tehnik pengambilan classific sample yang memfokuskan untuk meneliti 1 kelas. Dengan demikian pengambilan sampel dalam penelitian, juga bisa dikatakan sebagai sampel populasi, dengan memakai 17 siswa dan 1 guru sebagai objek penelitian dalam satu kelas.
2.      Metode Pengumpulan Data
Data adalah unsure pokok dalam penelitian, karena dengan adanya data maka akan dapat ditentukan keberhasilan tujuan penelitian. Untuk memperoleh data yang representative sudah barang tentu digunakan metode pengumbulan data yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun metode tersebut sebagai berikut :
  1. Observasi.
Metode pengumpulan dengan cara mengamati secara langsung dilapangan. Mengamati bukan hanya melihat, melainkan juga merekam, menghitung, mengukur, dan mencatat kejadian. (Tim Dosen Sosiologi, 2005 : 68)
Metode ini digunakan untuk mengamati kondisi baik secara fisik (bangunan Madrasah Ibtida’iyah Miftakhul ulum Dayurejo), maupun non fisik (siswa, guru, dan proses belajar mengajar).
  1. Pengisian Angket.
Angket merupakan suatu daftar yang berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. (Tim Dosen Sosiologi, 2005 : 72)
Metode ini merupakan penunjang dan secara tidak langsung sebagai tambahan tentang objek yang diteliti.
Metode ini dilakukan untuk mengetahui pentingnya mempelajari PAI, kesadaran siswa memahami PAI, mengetahui perhatian siswa tentang PAI, dan mengetahui tanggapan siswa terhadap guru PAI yang mendidik mereka dikelas.
  1. Interview (Wawancara).
Wawancara adalah teknik komunikasi langsung antara peneliti dan subjek penelitian, dengan jalan Tanya jawab yang dikerjakan dengan sistematik dan berlandaskan pada tujuan penyelidikan. (Tim Dosen Sosiologi, 2005 : 70)
Metode ini merupakan metode yang analisanya dapat diperoleh secara objektif, untuk mendapatkan informasi yang penulis butuhkan yang sukar diperoleh dengan teknik yang lain.
Metode ini juga dugunakan untuk mengetahui letak geografis dan sejarah berdirinya MI Mftahul Ulum Dayurejo Prigen.
  1. Dokumentasi.
Pengumpulan, pemilihan, pengolahan, dan penyimpanan informasi dibidang pengetahuan atau pengumpulan bukti-bukti dan keterangan-keterangan (seperti gambar, kutipan, guntingan koran, dan bahan refrensi lain. (Kamus besar Bahasa Indonesia, 1990 : 211)
Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang :
-          Profil lokasi penelitian.
-          Minat belajar siswa.



3.      Pengolahan Data.
Data yang telah terkumpul dalam tahap pengumpulan data perlu di olah dahulu, tujuannya untuk menyederhanakan seluruh data yang terkumpul, menyajikannya dalam susunan yang baik dan rapi, untuk kemudian di analisis.
4.      Analisa Data.
Proses selanjutnya setelah pengolahan data adalah menganalisa data untuk menyederhanakan data-data yang sudah ada dan sebagai cara mudah dalam penafsiran data-data yang diperoleh. Adapun teknik analisa data pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
  1. Bersifat Kualitatif.
Merupakan data yang bersumber dari deskripsi yang luas dan berlandaskan kukuh serta memuat penjelasan tentang suatu proses yang terjadi dalam lingkup setempat.
(Tim Dosen Sosiologi, 2005 : 81)
  1. Bersifat Kuantitatif.
Merupakan data yang diolah dan dianalisis secara statistik.
(Tim Dosen Sosiologi, 2005 : 74)
Adapun rumus yang akan digunakan adalah rumus frekuensi relatif yang dituangkan dalam bentuk angka persenan (Prosentase).
(Sudjiono, 2003 : 40)
P =  F  x 100%
       N


Selain itu penulis juga menggunakan rumus “Julius Q” yang berbunyi :
Q =  ad – bc
        ad + bc
(Koentjaningrat, 1997 : 286-287)
5.      Penafsiran Hasil Analisis.
Langkah berikutnya adalah menafsirkan hasil analisis untuk menarik kesimpulan penelitian yang telah dilaksanakan. Penarikan kesimpulan ini dilakukan dengan cara membandingkan hipotesis yang telah dirumuskan dengan hasil analisa yang didapat.
Dengan demikian, peneliti akhirnya memperoleh kesimpulan pokok. Yaitu menerima atau menolak hipotesis yang telah dirumuskan.
  1. Sistematika Pembahasan
Agar memperoleh gambaran yang jelas dan akhirnya mendapatkan kesimpulan yang benar, maka penulis menguraikan pembahasan skripsi sebagai berikut :
Bab I      : Pendahuluan berisi tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, Definisi operasional, metode penelitian, dan sistematika pembahasan.
Bab II     : Landasan teori yang berisi tentang pembahasan pembelajaran quantum teaching (asas utama, prinsip, unsure dan kerangka perancangan), pembahasan pembelajaran Quantum Learning serta penerapannya, dan di akhiri dengan pembahasan minat belajar siswa.
Bab III   : Penyajian dan analisa data, yang membahas tentang gambaran umum lokasi penelitian, penyajian data dan analisa data.
Bab IV   : Penutup, yang berisi kesimpulan dan saran.
BAB II
LANDASAN TEORI
  1. Pembelajaran Quantum Teaching.
Quantum Teaching adalah pengubahan belajar yang meriah, dengan segala nuansanya. Dan Quantum Teaching juga menyertakan segala kaitan, interaksi, dan perbedaan yang memaksimalkan momen belajar. Quantum Teaching berfokus pada hubungan dinamis dalam lingkungan kelas- interaksi yang mendirikan landasan dan kerangka untuk belajr. (DePorter, 2009 : 3 )
Quantum Teaching menguraikan cara – cara baru yang memudahkan proses belajar lewat pemanduan unsur seni dan pencapaian – pencapaian yang terarah, apapun mata pelajaran yang diajarkan.
  1. Asas Utama.
Quantum Teaching bersandar pada konsep “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Inilah asas utama- alasan dasar dibalik segala strategi, model, dan keyakinan Quantum Teaching.
Segala hal yang dilakukan dalam kerangka Quantum Teaching- setiap interaksi dengan siswa, setiap rancangan kurikulum, dan setiap metode instruksional dibangun diatas prinsip “Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka.
Beginilah maksudnya bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka, mengingatkan kita pada pentingnya memasuki dunia murid, sebagai langkah pertama, untuk mendapatkan hak mengajar, pertama-tama anda harus membangun jembatan autentik memasuki kehidupan murid.
Sertifikat mengajar atau dokumen yang mengizinkan anda mengajar atau melatih hanya berarti bahwa anda memiliki wewenang untuk mengajar. Hal ini tidak berarti bahwa anda harus mempunyai hak mengajar. Mengajar adalah hak yang harus diraih, dan diberikan oleh siswa, bukan Departemen Pendidikan. Belajar dari segala definisinya adalah kegiatan full contact. Dengan kata lain, belajar melibatkan semua aspek kehidupan manusia, pikiran, perasaan, dan bahasa tubuh. Disamping pengetahuan, sikap, dan keyakinan sebelumnya serta persepsi masa mendatang. Dengan demikian, karena belajar berurusan dengan orang secara keseluruhan, hak untuk memudahkan belajar tersebut harus diberikan oleh pengajar dan diraih oleh guru. (DePorter,2009 : 6)
Jadi masuki dahulu dunia mereka. Mengapa ? Karena tindakan ini akan memberi anda izin untuk memimpin, menuntun, dan memudahkan perjalanan mereka menuju ilmu pengetahuan yang lebih luas. Bagaimana caranya ? Dengan mengaitkan apa yang anda ajarkan dengan sebuah peristiwa, pikiran, atau perasaan yang diperoleh dari kehidupan rumah, sosial, atletik, musik, seni, rekreasi, atau akademis mereka. Setelah kaitan itu terbentuk, anda dapat membawa mereka kedalam dunia anda, dan memberi mereka pemahaman anda mengenai isi dunia itu. Disinilah kosakata baru, model mental, rumus, dan lain – lain diberikan. Seraya menjelajahi kaitan dan interaksi, baik siswa maupun guru mendapatkan pemahaman baru dan “Dunia kita” diperluas mencakup tidak hanya para siswa, tetapi juga guru. Akhirnya, dengan pengertian yang lebih luas dan penguasaan lebih mendalam ini, siswa dapat membawa apa yang mereka pelajari kedalam dunia mereka dan menerapkannya pada situasi baru.
Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Begitulah dinamika manusia. Dan seperti itulah asas utama Quantum Teaching.
  1. Prinsip – prinsip
a.       Segalanya berbicara.
b.      Segalanya bertujuan.
c.       Pengalaman sebelum pemberian nama.
d.      Akui setiap usaha.
e.       Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan.
  1. Unsur – unsur.
a.       Konteks adalah latar untuk pengalaman anda :
1.     Suasana yang memberdayakan.
2.     Landasan yang kukuh.
3.     Lingkungan yang mendukung.
4.     Rancangan belajar yang dinamis.
(DePorter,2009 : 9)
b.    Isi adalah keterampilan penyampaian :
1.      Penyajian yang prima.
2.      Fasilitas yang luwes.
3.      Keterampilan belajar untuk belajar.
4.      Keterampilan hidup.
4.    Kerangka Perancangan Quantum Teaching.
T = Tumbuhkan (Sertakan diri mereka, pikat mereka, puaskan AMBAK “Apa Manfaat BagiKu”).
A = Alami (Berikan mereka pengalaman belajar ; tumbuhkan “Kebutuhan untuk mengetahui”).
N =  Namai (Berikan “Data”, tepat saat minat meuncak).
D = Demonstrasikan (Berikan kesempatan bagi mereka untuk mengaitkan pengalaman dengan data baru, sehingga mereka menghayati dan membuatnya sebagai pengalaman pribadi.
U =  Ulangi (Rekatkan gambaran keseluruhannya).
R =  Rayakan (Ingat, jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan).
  1. Pembelajaran Quantum Learning.
Menurut Porter dan Hernacki (2001:15) Quantum learning adalah seperangkat metode dan falsafah belajar yang terbukti efektif disekolah dan bisnis untuk semua tipe orang dan segala usia.Quantum learning pertama kali digunakan disuper camp,yang menggabungkan rasa percaya diri,keterampilan belajar,dan keterampilan berkomunikasi dalam lingkungan yang menyenangkan . quantum learning didefinisikan sebagai interaksi-interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Semua kehidupan adalah energi . rumus yang terkenal dalam fisika kuantum adalah massa kali kecepatan cahaya kuadrat sama dengan energi atau biasa dikenal dengan E=mc². Tubuh kita secara ,materi diibaratkan sebagai materi, sebagai pelajar tujuan kita adalah meraih sebanyak mungkin cahaya: interaksi,hubungan,inspirasi agar menghasilkan energi cahaya. (Silberman, 2006 : 15).
Quantum learning berakar dari upaya lozanov,seorang pendidik yang berkebangsaan Bulgaria yang bereksperimen dengan apa yang disebut dengan “Suggestology” atau “Suggestopedia”. Prinsipnya adalah bahwa sugesti dapat dan pasti mempengaruhi hasil situasi belajar,dan setiap detail apapun memberikan segesti positif yaitu mendudukan murid secara nyaman,memasang musik latar didalam kelas,meningkatkan partisipasi individu,menggunakan media pembelajaran untuk memberikan viesan besar sambil menonjolkan informasi,dan menyediakan guru-guru yang terlatih.
( Porter dan Hernacki,2001:14 )
Menurut De Porter dan Hernacki(2001:16) Quantum learning menggabungkan sugestologi,teknik pemercepatan belajar dan NLP (program neurolinguistik) dengan teori,keyakinan dan metode kami sendiri.termasuk diantaranya konsep-konsep kunci dan berbagai teori dan strategi belajar yang lain seperti :
1.    teori otak kanan atau kiri.
2.    teori otak 3 in 1
3.    pilihan mudalitas ( Visual,auditorial dan kinetik )
4.    teori kecerdasan ganda
5.    pendidikan holistic ( menyeluruh )
6.    Belajar berdasar pengalaman
7.    belajar dengan symbol (metaphoric learning )
8.    simulasi atau permainan.
Suatu proses pembelajaran akan menjadi efektif dan bermakna apabila ada interaksi antara siswa dan sumber belajar dengan materi kondisi ruangan, fasilitas, penciptaan suasana dan kegiatan belajar yang tidak monoton diantaranya melalui penggunaan musik pengiring.
Interaksi ini berupa keaktifan siswa dalam mengikuti proses belajar.
Menurut deporter dan hernacki (2001:12) dengan belajar menggunakan Quantum learning akan didapatkan berbagai manfaat yaitu :
1.      Bersikap positif.
2.      Meningkatkan motivasi dan minat.
3.      keterampilan belajar seumur hidup.
4.      kepercayaan diri
5.      sukses atau hasil belajar yang meningkat.
(Silberman, 2006 : 15)
a. Penerapan Quantum Learning dalam pembelajaran.
Dalam kegiatam belajar dikelas Quantum learning menggunakan berbagai macam metode ceramah,Tanya jawab, diskusi,demonstrasi,kerja kelompok,eksperimen,dan metode pemberian tugas. (Wenger, Win, 2004 : 10)
Menurut Surachmad dalam sunarya (2001:3) Metode ceramh bermanfaat untuk mengetahui fakta yang sudah diajarkan dan proses pemikiran yang telah diketahui serta untuk merangsang siswa agar mempunyai keberanian dalam mengemukakan pertanyaan,menjawab atau mengusulkan pendapat. Metode Demonstrasi membantu siswa dalam memahami proses kerja suatu alat atau pembuat sesuatu,membuat peljaran menjadi jelas dan lebih kongkrit serta menghindari verbalisme,merangsang siswa untuk lebih aktif mengamati dan dapat mencobanya sendiri.
Metode kerja kelompok akan membuat siswa aktif mencari bahan untuk menyelesaikan tugasa dan menggalang kerja sama dan kekompakan dalam kelompok.
Metode eksperimen membantu siswa untuk mengerjakan sesuatu,mengamati prosesnya,dan mengamati hasilnya,membuat siswa percaya pada kebenaran kesimpulan percobaannya sendiri.
Metode pemberian tugas akan membina siswa untuk mencari dan mengolah sendiri informasi dan komunikasi serta dapat membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya.
Metode yang telah dikemukakan diatas tidak ada yang sempurna bila berdiri sendiri,sehingga harus digunakan secara bergantian untuk saling melengkapi kekurangan-kekurangan yang ada.
Penggunan berbagai metode penyajian pelajaran secara bergantian akan membuat siswa menikmati kegiatan belajarnya dan tidak merasakan belajar yang monoton,serta perbedaan karakteristik pada siswa dapat terlayani dengan baik.
Menurut Eggen dan Kauchak yang dikutipoleh sunaryo (2001:1) siswa belajar secara efktif bila siswa secara aktif terlibat dalam pengorganisasian penemuan pertalian-pertalian dalam informasi yang dihadapi.
Siswa dikatakan aktif jika ikut serta mempersiapkan pelajaran,gembira dalam belajar,mempunyai kemauan dan kreatifitas dalam belajar,keberanian menyampaikan gagasan dan minat,sikap kritis dan ingin tahu, kesungguhan bekerja sesuai dengan prosedur pengembangan penalaran induktif dan pengembangan penalaran deduktif.
Adapun langkah-langkah yang dapat diterapkan dalam pembelajaran melalui konsep Quantum learning dengan cara :
1.      Kekuatan Ambak.
Ambak adalah motivasi yang didapat dari pemilihan secara mental antara manfaat dan akibat-akibat suatu keputusan.
(Deporter dan Hernacki 2001 : 49 ).
 Motivasi sangat diperlukan dalam belajar karena dengan adanya motivasi maka keinginan untuk belajar akan selalu ada. Pada langkah ini siswa akan diberi motivasi oleh guru dengan memberi penjelasan tentang manfaat apa saja setelah mempelajari suatu materi.
2.      Penataan lingkungan belajar.
Dalam proses belajar dan mengajar diperlukan penataan lingkungan yang membuat siswa merasa betah dalam belajarnya, serta dapat mencegah kebosanan belajar dalam diri siswa.
3.    Memupuk sikap juara.
Memupuk sikap juara perlu dilakukan untuk lebih memacu dalam belajar siswa,seorang guru hendaknya jangan segan-segan untuk memberikan pujian pada siswa-siswa yang telah berhasil dalam belajarnya tetapi juga jangan pernah mencemooh siswa yang belum mampu menguasai materi. Dengan memupuk sikap juara ini siswa akan merasa lebih dihargai.
4.    Bebaskan gaya belajarnya.
Ada berbagai gaya belajar yang dipunyai oleh siswa antara lain ; Visual, auditorial, dan kinestetik.
Visual              : Aku melihat maksudmu. Jelas sekarang
                           Gambarkan hal ini, lihat ! Bayangkanlah.
Auditorial        : Bunyinya cocok. Suaranya bagus.dengarkan!
                           Katakanlah lagi !
Kinestetik        : Tangkaplah ini. Rasanya cocok.kerjakan ini !
( Deporter.2009 : 117 )
Dalam Quantum learning guru hendaklah memberikan kebebasan dalam belajar pada siswanya dan janganlah terpaku pada suatu gaya belajar saja.         
5.      Membiasakan mencatat.
Belajar akan benar-benar dipahami sebagai aktifitas kreasi ketika sang siswa tidak hanya bisa menerima,melainkan bisa mengungkapkan kembali apa yang didapatkan menggunakan bahasa hidup dengan cara dan ungkapan sesuai gaya belajar siswa itu sendiri. Hal tersebut dapat dilakukan dengan memberikan simbol-simbol atau gambar yang  mudah dimengerti oleh siswa itu sendiri. Simbol-simbol tersebut bisa berupa tulisan.


6.    Membiasakan membaca.
Salah satu aktivitas yang cukup penting adalah membaca. Karena dengan membaca akan menambah perbendaharaan kata,pemahaman,menambah wawasan dan daya ingat akan bertambah.
Seorang guru hendaknya membiasakan siswa untuk membaca,baik buku pelajaran maupun buku-buku yang lain.
7.      Jadikan anak lebih kreatif.
Siswa yang kreatif adalah siswa yang selalu ingin tahu,suka mencoba dan senang bermain. Dengan adanya sikap kreatif yang baik siswa akan mampu menghasilkan ide-ide yang segar dalam belajarnya.
8.      Melatih kekuatan memori anak.
Kekuatan memori sangat diperlukan dalam belajar anak,sehingga anak perlu dilatih untuk mendapatkan kekuatan memori yang baik.
(Wenger, Win, 2004 : 10)
Salah satu cara meyakinkan untuk mengetahui apakah pembelajaran itu benar – benar tepat sesuai dengan yang diharapkan adalah menyertakan waktu untuk meninjau kembali apa yang telah dipelajari. Materi yang telah ditinjau ulang oleh peserta didik akan disimpan lima kali lebih kuat dari pada materi yang tidak ditinjau. Peninjauan kembali (Review) memudahkan peserta didik mempertimbangkan informasi dan mempercepat peserta didik menemukan cara – cara untuk menyimpan memori didalam otaknya. Disamping membuat siswa menjadi aktif, strategi peninjauan kembali membantu peserta didik mengenang pengalaman belajar dan menghitung satu demi satu perolehan kekayaan pengalaman belajar. Strategi ini menantang peserta didik untuk mengingat kembali setiap topic pada unit pelajaran yang dipelajari. Proses ini menjadi cara terbaik mengawal peserta didik mengunjungi kembali pengalaman – pengalaman baru yang telah di dapat. Peninjauan kembali pada apa yang telah dikecap adalah proses perenungan untuk mengunci perolehan pembelajaran sebagai harta kekayaan belajar dan menghantarkan siswa mengatakan “good bye” dengan tersenyum sebelum memasuki pokok bahasan baru.
            (Fifi dkk, 2010 : -)
b. Bagaimanakah konsep pembelajaran Quantum teaching – learning ?
             Apa yang diajarka kepada peserta didik dengan sangat cepat terkadang berdampak beda. Peserta didik bahkan akan lebih cepat melupakan apa yang telah diajarkan kepada mereka. Pembelajaran pasif tidak akan mampu menuju makna belajar yang sebenarnya, apa lagi tahan lama. Ada beberapa alasan kenapa kebanyakan peserta didik cenderung melupakan apa yang mereka dengar. Salah satu alasan menarik adalah perbedaan tingkat kecepatan bicara pengajar dengan tingkat kecepatan siswa mendengarkan. Kita kutip pernyataan confusius sebagai konsep pembelajaran Quantum Teaching – learning :
What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa)
What I see, I remember (apa yang saya lihat, saya ingat)
What I do, I Understand (apa yang saya lakukan saya paham)
             Tiga pernyataan sederhana diatas menjadi bobot penting dalam proses pembelajaran Quantum Teaching – learning. Yang kemudian dimodifikasi dan diperluas oleh Mel Silberman menjadi ;
What I hear, I forget (apa yang saya dengar, saya lupa)
What I hear and see, I begin to understand (apa yang saya dengar dan lihat, saya ingat sedikit)
What I hear, see, discuss, and do, I acquire knowledge and skill (apa yang saya dengar, lihat, diskusikan, dan lakukan, saya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan). What I teach to another, I master (apa yang saya ajarkan pada orang lain saya menguasainya).
(Tim fokus, 2010 : - ).
             Belajar bukan merupakan konsekuensi otomatis dari penyampaian informasi kepada peserta didik. Ya, ada banyak hal yang dapat diajarkan dan bukan sekedar diberitahukan. Penjelasan dan peragaan instruktur belumlah cukup menuju kearah belajar yang sebenarnya.
             Kegiatan belajar akan menjadi aktif apabila peserta didik melakukan sebagian besar pekerjaan belajar yang harus dilakukan. Mereka menggunakan otaknya untuk mempelajari gagasan – gagasan, memecahkan berbagai masalah, menerapkan konsep – konsep yang mereka pelajari, meragamkan langkah – langkah dengan cepat, menciptakan atmosfir menyenangkan dan secara pribadi menarik hati.
             Kegiatan belajar yang baik harus mampu menstimuli memori dalam sirkuit otak menjadi kuat dan milyaran syaraf – syaraf otak mampu menciptakan ruang baru untuk menampung pengetahuan baru. Masing – masing pengetahuan itu akan membentuk lorong – lorong yang saling berhubungan dan melahirkan gagasan – gagasan asosiatif, sintetis, dialektis, dan lain – lain.
             Model pembelajaran Quantum Teaching – Learning bersifat dinamis dan emansipatif yang dap[at mengantarkan peserta didik menjadi pribadi merdeka dan senantiasa tumbuh berkembang.
(Titik S dkk, 2010 : - ).
             Untuk mempelajari sesuatu dengan baik, langkah – langkah model pembelajaran Quantum Teaching – Learning, membantu mendengar, melihat, menanyakan, mendiskusikan, memecahkan masalah, menemukan contoh – contoh, mencoba keterampilan – keterampilan dan melakukan tugas – tugas yang harus dicapai. Peserta didik akan berada dikondisi belajar terbaiknya jika mereka tahu cara melakukan metode pembelajaran dan mengembangkannya sesuai karakteristiknya masing – masing. Bagaimana menemukan dan mengembangkan model pembelajaran Quantum Teaching – Learning ? terus berlatih dengan berbagi macam strategi yang dirancang mampu menghidupkan dan memeriahkan ruang kelas. Ada begitu banyak strategi belajar dalam model pembelajaran Quantum Teaching – Learning yang kesemua diarahkan dan dimaksudkan untuk mendalami kegiatan belajar dan ingatan. Strategi – strategi yang ditemukan dan mampu menciptakan “Flow” harus diulang –ulang agar menjadi kebiasaan yang selanjutnya berubah secara otomatis menjadi sebuah karakter. Tentunya kita sadar dan tahu bahwa tidak ada suatu keberhasilan atau kesuksesan bisa dicapai tanpa ada karakter kuat yang mewujudkannya. Karakter menjadi kata kunci dari segala tujuan dan cita – cita. Karakter dan kesuksesan identik dua sisi mata uang yang melekat satu sama lain.
(Fathoni A.F. dkk, 2010 : - )
Lantas apa yang dimaksud dengan “ Flow “ ?
             Flow adalah keadaan sadar yang didalamnya seseorang bisa betul – betul terbenam dalam sebuah aktifitas secara total melibatkan seluruh panca indera sehingga dia tidak bisa merasakan waktu berlalu.
             Untuk dapat merasakan flow seseorang harus mencurahkan energi mental dan emosional tambahan. Kehidupan yang dipenuhi dengan pengalaman flow yang menarik akan jauh lebih berharga dari pada kehidupan yang dihabiskan untuk menikmati kesenangan secara pasif.
             Tujuan jangka panjang bagi siswa yang mengerti dan mengalami flow adalah mereka berkesempatan besar memenuhi semangat yang bisa mengarahkan mereka untuk mengusahakan tercapainya tujuan dan cita – cita. Siswa yang mengalami flow akan sanggup belajar sepanjang masa dan lebih mau mengambil kesempatan, teguh dalam menghadapi tantangan, sanggup mengatasi ketakutan, kekhawatiran dan kesulitan. Denga memanfaatkan kekuatan flow yang mereka miliki, siswa akan mampu menikmati kehidupan pribadi penuh dengan kecerdasan.
             Flow bisa lebih mudah terealisasi manakala siswa mengalami kesenangan serius (serious fun). Pembelajaran Quantum Teaching – Learning yang menekankan pada “kesenangan serius” dapat membantu siswa memusatkan perhatian, meningkatkan kesenangan belajar dan mampu mengatur suasana agar pengalaman flow tetap terjadi.
(Makruf H. dkk, 2010 : - )
  1. Pengertian Dan Faktor Yang Mempengaruhi Minat Dalam Belajar.
Minat adalah perhatian yang mengandung unsur – unsur perasaan, maka minat adalah menentukan suatu sikap yang menyebabkan seseorang berbuat aktif dalam suatu pekerjaan. Dengan kata lain, bahwa minat dapat menjadi sebab dari suatu kegiatan.
(Shalahuddin, 1990 : 25)
            Adapun asal usul minat antara lain :
1.      Fungsi kebutuhan-kebutuhan.
Minat dalam pengertian umumnya dapat digerakkan oleh adanya kebutuhan. Minat seseorang dalam bidang politik misalnya, dapat timbul karena kebutuhan seseorang itu untuk menyalurkan aspirasi – aspirasinya, atu kebutuhan untuk dapay mencapai hak – haknya serta menunaikan kewajiban – kewajibannya.
Berkaitan dengan minat belajar, hal ini dapat tumbuh karena kebutuhan seseorang akan informasi, ilmu pengetahuan, kebutuhan akan sesuatu keterampilan dan kecakapan tertentu, serta kebutuhan seseorang untuk mengembangkan nilai serta sikap – sikap hidup yang lebih maju dan dinamis.
2.      Keinginan dan cita-cita.
Keinginan, lebih – lebih sudah merupakan cita – cita, dapat menjadi pendorong munculnya minat terhadap sesuatu atau hal – hal yang berhubungan dengan sesuatu itu. Keinginan dan cita – cita seseorang untuk menjadi dokter misalnya, dapat mendorong munculnya minat seseorang terhadap ilmu – ilmu kesehatan, seperti pengetahuan tentang berbagai jenis penyakit, berbagai jenis obat, bahkan minat untuk mendalami ilmu – ilmu yang mempelajari masalah itu.
Demikian pula jika seseorang mempunyai keinginan dan cita – cita untuk mendalami ilmu agama, maka akan menjadi pendorong yang besar untuk lahirnya minat – minat yang berkaitan dengan ilmu keagamaan islam termasuk minat – minat untuk mempelajari ilmu agama itu.
3.      Pengaruh kebudayaan.
Muslim yang sejak kecilnya dibiasakan oleh orang tuanya untuk secara tertib dan istiqomah menjalankan ajaran – ajaran isla itu sesempurna mungkin. Bahkan ini dapat menumbuhkan motivasi yang kuat dalam dirinya untuk memperjuangkan agamanya.
Minat belajar siswa juga demikian akan timbul karena kebiasaannya melakukan kegiatan – kegiatan belajarnya seperti, membaca, menulis, menggambar, melukis, melakukan latihan, mengerjakan sesuatu, dan sebagainya.
Selain itu minat belajar siswa bisa juga tumbuh karena budaya yang dikembangkan secara terkondisi (condition cultural) baik dirumah maupun disekolah. Lebih dari itu kebudayaan sesungguhnya membentuk kerangka kepribadian, dan minat termasuk adalah satu aspek dalam strukturnya.
4.      Beberapa kemungkinan memperkembangkan minat dan pengalaman.
Pengalaman sebagai faktor penumbuh erat hubungannya dengan faktor kebudayaan. Kata orang pengalaman adalah guru yang baik (Experience is the best teacher) dan bahkan (Experience is the best educator) yang dengan begitu dapat menggerakkan perilaku seseorang baik berprilaku minat, bakat, dan intelegensinya. Bahkan pengalaman dapat mengarahkan perilaku itu.
Pengalaman seseorang menjagi guru misalnya, dapat menumbuhkan minat orang itu untuk menekuni bidang – bidang yang berkaitan dengan keguruannya.
Pengalaman siswa menjadi penegak pramuka disekolah misalnya, dapat memotivasi niatnya kearah kepramukaan itu. Demikian halnya ketika siswa pernah menjadi Imam sholat atau ketua kelompok pengajian ini dapat menumbuhkan keinginan yang besar untuk mempelajari agama, baik itu disekolah maupun dirumahnya.
(Shalahuddin, 1990 : 90)
Faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak :
  1. Faktor Indogin ialah faktor yang datang dari diri pelajar atau mahasiswa sendiri faktor ini meliputi :
a.     Faktor Biologis (faktor yang bersifat jasmaniah).
b.    Faktor Psychologis (Faktor yang bersifat rohaniah).
  1. Faktor Exogin, ialah faktor yang datang dari luar pelajar atau mahasiswa. Faktor ini meliputi :
a.     Faktor lingkungan keluarga.
Allah SWT berfirman :
      ﻴﺄﻴﻬﺎﺍﻟﻨ ﻴﻦﺀﺍﻤﻨﻮﺍﻗﻮﺍﺍﻨﻔﺴﻜﻢ ﻭﺃﻫﻠﻴﻜﻢ ﻧﺎﺭﺍﻭﻗﻮﺪﻫﺎﺍﻠﻨﺎﺲﻮﺍﻠﺤﺠﺎ ﺭﺓ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﻠﺌﻜﺔﻏﻼ ﻈ ﺷﺪﺍﺪﻻﻴﻌﺼﻮﻦﺍﷲ ﻤﺎﺃﻣﺮﻫﻢ ﻮﻳﻔﻌﻠﻮﻦ ﻣﺎﻳﺆﻣﺮﻮﻦ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu : penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah SWT terhadap apa yang dipeintakan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S.At – Tahrim : 6 )
Faktor ini meliputi orang tua, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga :
1.    Faktor Orang Tua.
Faktor Orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap kemajuan belajar anak. Orang tua yang dapat mendidik anak-anaknya dengan cara memberikan pendidikan yang baik tentu akan sukses dalam belajarnya. Sebaliknya orang tua yang tidak mengindahkan pendidikan anak-anaknya, acuh tak acuh, bahkan tidak memperhatikan sama sekali tentu tidak akan berhasil dalam belajarnya. Misalnya anak tidak disuruh belajat secara teratur, tidak dibelikan alat-alat belajar, dan sebagainya. Mungkin anak itu sebetulnya pandai, tetapi karena tidak teratur belajarnya dan tidak ada bimbingan, akhirnya menemui kesulitan belajar dan kemudian segan untuk belajar.(Ahmadi dkk, 2003 : 287)

2.    Faktor Suasana Rumah
Lingkungan keluarga yang lain yang dapat mempengaruhi usaha belajar anak adalah faktor suasana rumah.
Suasana rumah yang terlalu gaduh atau terlalu ramai tidak akan memberikan anak belajar dengan baik. Misalnya rumah dengan keluarga besar atau banyak sekali penhuninya.
Begitu juga dengan suasana rumah tangga yang terlalu tegang, selalu banyak cekcok di antara anggota-anggotanya. Anak merasa sedih, bingung dirundung kekecewaan serta tekanan batin yang terus menerus. Akibatnya anak suka keluar rumah mencari suasana baru. Yang mungkin dapat membuat anak jadi malas belajar karena pengaruh negative dari luar.
(Ahmadi dkk, 2003 : 289)
3.    Faktor ekonomi keluarga
Faktor ekonomi keluarga banyak menentukan juga dalam belajar anak. Misalnya anak dari keluarga yang mampu dapat membeli alat-alat sekolah dengan lengkap, sedangkan dari keluarga kurang mampu tidak dapat membeli alat-alat itu, sehingga berpengaruh pada kondisi jiwa anak karerna rasa kecewanya. (Ahmadi dkk, 2003 : 290)
b.    Faktor lingkungan sekolah.
Yang termasuk dalam faktor ini antara lain :
·       Cara penyajian pelajaran yang kurang baik.
·       Hubungan guru dan murid yang kurang baik.
·       Hubungan antara sesama murid yang kurang baik.
·       Bahan pelajaran yang terlalu tinggi di atas kemampuan anak.
·       Alat-alat belajar disekolah yang serba tidak lengkap.
·       Jam-jam pelajaran yang kurang baik.
(Ahmadi dkk, 2003 : 290)
c.     Faktor lingkungan masyarakat.
Yang termasuk dalam faktor ini antara lain :
·         Penggunaan Mass-media yang terlalu berlebihan.
·         Teman-teman dalam bergaul.
·         Corak kehidupan tetangga sekitar.
(Ahmadi dkk, 2003 : 291)





























BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A.      Profil Umum Obyek Penelitian
1.      Letak Geografis
MI Miftakhul Ulum  yang beralamat Jl. Indrokilo Gang Sidodadi berada di tengah-tengah Dusun Klataan Desa Dayurejo Kecamatan Prigen yang sangat strategis karena berdampingan dengan Masjid Hidayatullah Klataan merupakan sentral dakwah untuk mengembangkan pendidikan agama islam sehingga dapat menjalin kerjasama dengan ketua ta’mir masjid sebagai tempat praktikum dalam pembelajaran Al-Qur’an Hadits.
            (sumber data interview Bapak H.M.Agus salim,15-04-11)
2. Sejarah singkat
MI Miftakhul Ulum berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Sosial Miftakhul Ulum Klataan Akte Notaris : Imawati Odang SH No.02 Th 1999 diketuai oleh Bpk. Yakur (Almarhum) di Dusun Klataan Desa Dayurejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan didirikan pada tahun 1998 oleh sekelompok masyarakat yang terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat maupun tokoh agama Islam yang  memiliki kepedulian terhadap pendidikan khususnya pendidikan yang berciri khas Islam berkumpul dengan seluruh masyarakat setempat untuk menghendaki adanya tanah untuk didirikan madrasah dengan jalan mengadakan penggalangan dana dari sebagian besar  masyarakat untuk dikumpulkan agar bisa diusahakan adanya tanah, berhasil mendapatkan tanah kemudian warga masyarakat minta dibangunnya gedung Madrasah Klataan Dayurejo Prigen dari pihak PT. The Taman Dayu melalui tukar dengan jalan dusun di daerah Taman Dayu.
 Seiring berjalannya waktu pada tahun 1999 yang dipelopori oleh Drs. Musyafak beserta tokoh masyarakat maupun tokoh agama mendirikan lembaga formal MI Miftakhul Ulum yang bisa berdiri dibawah naungan DEPAG SK (Surat Keputusan) nomor Mm.17/PP.00/652/SK/2000 tertanggal 31 Juli 2000. Gedung madrasah ini selanjutnya di waqafkan atas nama Bapak Mustahal (Almarhum) seluas 410,556 M². Berdasarkan kesepakatan tokoh-tokoh Dusun Klataan Desa Dayurejo serta seluruh masyarakat setempat, maka mereka sepakat mengangkat Bapak H. M. Agus Salim sebagai Kepala Sekolah dan langsung dengan Bapak Sucipto sebagai Ketua Komite MI Miftakhul Ulum. Sehingga mulai tahun itulah mulai belajar menata diri untuk menjadi lembaga pendidikan formal yang mampu mendidik, membina dan  membelajarkan siswa meskipun dengan segala keterbatasan maupun sumber daya yang dimiliki untuk memenuhi segala tuntutan pendidikan.
            (sumber data interview Bapak H.M.Agus salim,15-04-11)
Perkembangan MI Miftakhul Ulum sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang berdiri diwilayah kecamatan Prigen yang telah dipandang mampu menjalankan proses belajar mengajar yang baik, pada tahun pada tahun 2004 MI Miftakhul Ulum Klataan Dayurejo terdaftar sebagai  anggota Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Bangil  wilayah Jawa Timur dengan Nomor : B-02320063 tanggal 30 Januari 2004
Dalam kurun waktu selama 12 tahun (sejak berdiri hingga sekarang) banyak perubahan yang terjadi di MI Miftakhul Ulum Klataan Dayurejo Prigen, berkat perjuangan, pengorbanan, kerjasama dan kesabaran yang tinggi dari seluruh pengurus dan dewan guru (struktur organisasi sekolah dan Pengurus terlampir). Akhirnya MI Miftakhul Ulum Klataan ini menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Dusun Klataan Desa Dayurejo, hal ini dapat dibuktikan dengan kepercayaan masyarakat setempat dan sekitarnya terhadap madrasah ini yang mampu secara konsisten mendidik siswa dengan pendidikan agama sebagai landasan, Imtaq dan ilmu pengetahuan sebagai tuntutan.
            (sumber data dokumentasi MI Miftahul Ulum Dayu rejo.18-04-2011)
1.         Tujuan Berdirinya Sekolah MI Miftakhul Ulum Dayurejo
Tujuan berdirinya MI Miftakhul Ulum di Dusun Klataan Desa Dayurejo Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan ini tercantum dalam visi, misi dan motto sekolah, yaitu :
-            Visi Sekolah :
Mewujudkan miftakhul ulum yang unggul dan mandiri.
-            Misi Sekolah :
Membina dan mengembangkan pelayanan pendidikan modern yang islami.

( Sumber data wawancara Bapak H. Agus Salim,15-04-2011 )
Didiklah anak-anakmu dengan baik karena mereka diciptakan masa yang berbeda dengan masamu.
2.         Identitas Sekolah
Nama Sekolah                        :  MI Miftakhul Ulum
NSM / NPSN                         : 111235140166 / 20547976
Dusun                                     : Klataan
Desa / Kelurahan                    : Dayurejo
Jalan                                       : Indrokilo Gg. Sidodadi
Kecamatan                             : Prigen
Otonomi Daerah                     : Pasuruan
Propinsi                                  : Jawa Timur
Status Sekolah                        : Swasta
Akreditasi                               : C
Surat Keputusan/SK.Nomor : C/Kw.13.4/MI/2455/2006
                                                  Tanggal 24 Februari 2006
Tahun Berdiri Sekolah           : Tahun 1999
Nomor SK                              : Kd.13.14/05.00/PP.00.4/1277/SK/2010[1]
                                                 Tanggal 29 Juni 2010
(sumber data dokumentasi MI Miftahul Ulum Dayu rejo.20-04-2011)
3.         Struktur Organisasi MI Miftakhul Ulum Klataan Dayurejo Prigen
Struktur organisasi sekolah ini merupakan salah satu unsur sekolah yang harus ada pada setiap lembaga formal yang berfungsi untuk melancarkan proses belajar mengajar, yang secara sistematis diatur dalam bentuk struktur organisasi sekolah seperti pada gambar dibawah.
            (sumber data dokumentasi MI Miftahul Ulum Dayu rejo.25-04-2011)
































YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL
 “MIFTAKHUL ULUM ”
AKTE NOTARIS : IMAWATI ODANG, SH NO. 02 / 1999
Jl. Indrokilo Gg. Sidodadi Klataan Dayurejo Kec. Prigen Kab. Pasuruan Kode Pos 67157

SUSUNAN PENGURUS YAYASAN


Pelindung I    : Kepala Desa Dayurejo
                     II      Kepala Dusun Klataan
Ketua          I    : H. Misbahul Munir
                    II    : Drs.H. Musyafak
Sekretaris   I    : M. Abdul Ghofur
                    II    : M. Nawari
Bendahara I    : Ahmad Arifin
                    II    : Nurul Huda

Penasehat      :
1.    Ketua Ranting NU Dayurejo
2.    Ketua Ranting NU Klataan
3.    H. M. Amir Mahmud
4.    M. Salim
5.    Ust. Muliyono
6.    Mustari
7.    Tohir Efendi
8.    H. Ro’ib
9.    Ali Mufti

Bidang bidang :
Pembangunan :
1.  Poniman
2.  Abi Wiyono
3.  Dakiron
Humas             :
1.  M. Khadist
2.  Husaini
3.  Mali
4.  Ponijan
5.  Warto
6.  Usman
7.  Li’in
8.  Hasim Asy’ari



4.         Keadaan pendidik
Untuk tenaga edukatif, MI Miftakhul Ulum Dayurejo Prigen memiliki 11 orang tenaga pendidik yang sebagian telah mempunyai sertifikasi S1. hal ini sebagaimana telah dijelaskan oleh Bapak Kepala Sekolah MI Miftakhul Ulum Dayurejo pada wawancara tanggal 9 April 2011:
Tenaga pendidik (guru) yang mengajar di MI Miftakhul Ulum Klataan Dayurejo ini semua guru swasta atau Guru Tetap Yayasan (GTY) yang diangkat dari Yayasan, (hasil wawancara dengan Bapak H. M. Agus Salim pada tanggal 6 April 2009)”

Dari hasil wawancara tersebut bisa diketahui bahwa tenaga edukatif yang berada di MI Miftakhul Ulum Klataan Dayurejo merupakan tenaga pengajar yang diangkat oleh Yayasan, dimana mereka berstatus sebagai guru swasta atau GTY sebanyak 11 orang, sedangkan tenaga pengajar yang sudah sertifikasi sebanyak 1 orang. Adapun nama-nama tenaga pengajar dapat dilihat pada tabel berikut:
            (sumber data dokumentasi MI Miftahul Ulum Dayu rejo.25-04-2011)









TABEL 1
DATA GURU MI MIFTAKHUL ULUM DAYUREJO PRIGEN
TAHUN PELAJARAN 2010-2011
No.
NAMA
L/P
PENDIDIKAN TH.
JABATAN
STATUS Kepegawaian
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
H. M. Agus Salim
Uswatun H, S.Pd.I
Kasiyono, A.Ma.Pd
M. Basori, A.Ma
Ainun Khakimah, S.PdI
Emma Novialla SP
Fahrur Rozi, S.Sos
Maskur Afandi, S.si
Ahmad Rifai
Ety Susiowati
Lailatun Nahdiah
L
P
L
P
P
P
L
L
L
P
P
Paket B. 2009
S1.2004
D2.2009
D2.2007
S1.2003
SMU.2001
S1.2009
S1.2009
SMU.2006
SMK.2002
SMA.2010
Kepala Sekolah
Guru Agama
Guru Kelas
TU
Guru Kelas
Guru Kelas
Guru Kelas
Guru Kelas
Guru ORKES
Guru Seni
Unit Perpus
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY
GTY

5.         Keadaan Siswa
Jumlah peserta didik (siswa) di MI Miftakhul Ulum Klataan Desa Dayurejo Kecamaatan Prigen pada tahun ajaran 2010/2011 mulai Kelas I sampai Kelas VI sebanyak 77 orang siswa, yang terdiri dari kelas I sebanyak 18 siswa, kelas II 11 siswa, kelas III 11 siswa, kelas IV 10 siswa, kelas V 15 siswa dan kelas VI 12 siswa. Dan jumlah keseluruhannya ada 6 kelas. Adapun perinciannya dapat dilihat pada tabel berikut :
            (sumber data dokumentasi MI Miftahul Ulum Dayu rejo.25-04-2011)


TABEL 2. 
KEADAAN SISWA MI.MIFTAKHUL ULUM DAYUREJO
TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011
Kelas
Siswa
Tingkat
Jumlah
L
P
Jumlah
I
II
III
IV
V
VI
1
1
1
1
1
1
7
7
7
7
8
4
11
4
4
3
7
8
18
11
11
10
15
12
Jumlah
6
40
37
77

Segala yang menyangkut bidang kesiswaan harus diperhatikan dengan sungguh-sungguh. MI. Miftakhul Ulum Dayurejo sangat memperhatikan masalah yang berhubungan dengan kesiswaan dan segala hal yang menyangkut kegiatan belajar mengajar. Proses belajar mengajar dilakukan seperti Institusi pendidikan pada umumnya kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Masing-masing kegiatan ini saling mengisi dan mendukung demi tercapainya tujuan yang diinginkan.
Kegiatan Intrakurikuler
Kegiatan Intrakurikuler yang telah ditentukan terealisasi dalam bentuk program harian, program mingguan, dan program semester dalam waktu 1 tahun yang dituangkan dalam bentuk jadwal pelajaran. Materi kegitan ini lebih terarah untuk pengembangan aspek kognitif disamping juga tidak melupakan aspek-aspek efektif dan psikomotorik.
Sesuai dengan tujuan pendidikan nasional maka materi pelajaran yang ada di MI. Miftakhul Ulum Dayurejo disesuaikan dengan kurikulum yang mengacu pada standart nasional pendidikan. Adapun materi pelajaran yang diberikan MI. Miftakhul Ulum Dayurejo meliputi :
1)        Pendidikan Agama
a.       Al-Qur’an Hadits
b.      Aqidah Akhlaq
c.       Fiqih
d.      Sejarah Islam
e.       Bahasa Arab
2)        PPKn
3)        Bhs. Indonesia
4)        Bahasa Inggris
5)        Matematika
6)        IPA
7)        IPS
8)        KTK (Kerajinan Tangan dan Kesenian)
9)        Penjaskes
10)    Muatan Lokal
a.       Aswajah
b.      Bahasa Jawa
c.       BTQ


Kegiatan Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan tambahan yang sangat menunjang bagi siswa baik dari segi keterampilan, keilmuan, pengetahuan, sekolah. Kegiatan ini bertujuan menambah wawasan dan pengalaman bagi siswa.
Adapun kegiatan ekstrakurikuler tersebut antara lain :
1)        Pramuka
2)        Komputer
3)        Drumband
4)        Sepak bola, voli, sepak takraw, Basket, Badminton, dan atletik
5)        Seni Baca Al-Qur’an
6)        PHBI, diisi dengan lomba-lomba keagamaan seperti : Kaligrafi, Pidato, Diba’an ke rumah-rumah anak didik
7)        Sholat Dhukha dan Dhuhur berjama’ah
8)        Istighosah
9)        Baca Surat
10)    Baca Surat Yasin dan Tahlil
11)    Pondok Romadhon
(Hasil interview dengan H. M. Agus Salim kepala Sekolah MI. Miftakhul Ulum Klataan pada tanggal 22 April 2011).
Kegiatan-kegiatan tersebut diharapkan dapat menambah pemahaman, dan kecintaan terhadap Islam, serta mampu memperkuat keimanan siswa.
6.         Sarana dan Prasarana
Agar pelaksanaan proses belajar mengajar dapat berjalan lancar dan baik, diperlukan adanya sarana dan prasarana yang cukup memadai. Dalam hal ini MI. Miftakhul Ulum Klataan Dayurejo telah menyediakan fasilitas yang cukup. Selanjutnya dapat dilihat pada tabel beirkut :
            (sumber data dokumentasi MI Miftahul Ulum Dayu rejo.02-05-2011)
TABEL 3. 
SARANA DAN PRASARANA MI. MIFTAKHUL ULUM KLATAAN PRIGEN TAHUN PELAJARAN 2010 / 2011
No
Nama Barang
Jumlah
Keterangan
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Gedung kelas
Ruang guru dan kepala sekolah
Printer
Kamar Mandi / WC Siswa dan Guru
Perpustakaan & Koperasi
Praktek IPA
Bola Voli
Bola Takraw
Komputer
Alat Drumband
Tongkat Pramuka
6
1
4
2
1
2
2
1
4
1 set
10
3 Baik, 3 Cukup
Baik
1 Baik, 3 rusak
Cukup
Baik
Baik
1 Baik, 1 rusak
baik
2 Baik, 2 rusak
Baik
Baik

Dan untuk sarana lainnya yang berupa peralatan pembelajaran sudah cukup memadai sebagai pelengkap prasarana yang ada.




B.      Penyajian Data
  1. Pelaksanaan Model Pembelajaran Quantum Teaching Learning.
Seiring dengan kemajuan zaman, dunia pendidikan membutuhkan berbagai macam sugesti. Khususnya sugesti positif yang bisa mempengaruhi kelancaran dunia pendidikan khususnya pendidikan formal diantara sugesti – sugesti itu, salah satunya adalah penggunaan model pembelajaran yang dilakukan guru pada siswa. Hal ini berarti pemilihan dan penggunaan metode atau model pembelajaran sangat besar pengaruhnya bagi keberhasilan suatu proses pembelajaran.
Model pembelajaran Quantum Teaching – Learning bersifat elastis dan fleksibel bisa dilaksanakan setiap saat, pada awal pelajaran dimulai sampai akhir pelajaran. Karena pembelajaran model Quantum Teaching – Learning tidak hanya menawarkan materi yang mesti dipelajari siswa namun juga emosional siswa dala belajar.
      Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Uswatun hasanah, S.PdI selaku guru pengajar mata pelajaran Aqidah Akhlak siswa kelas 1 di MI.Miftahul Huda Prigen. Beliau menyatakan :
“ Landasan teori metode ini, sangat cocok diterapkan dalam proses pembelajaran di tingkat SD atau MI, malah lebih bisa mengenal karakter siswa masing – masing, elastis dan fleksibel lingkungan yang mendukung dan proses pembelajaran yang menyenangkan dan menggairahkan dapat menciptakan serta meningkatkan motivasi dan minat siswa SD atau MI untuk belajar sehingga keluhan – keluhan seperti bosan, jenuh, kurang bergairah, dan tidak menarik yang selama ini sering di dengungkan dari siswa dalam proses pembelajaran di sekolah dapat teratasi melalui metode ini “.
      Berikut hasil pengamatan yang dilakukan peneliti tentang salah satu contoh pelaksanaan Quantum Teaching – Learning oleh Ibu Uswatun hasanah, S.pdI. pada mata pelajaran Aqidah Akhlak kelas 1 MI Miftahul ulum Prigen.
Ø Materi pembelajaran   : Kalimat Thoyyibah / Subhanallah ( 2x35 )
Ø Kegiatan pembelajaran  :
A.    Pendahuluan ( 10 menit )
-          berdo’a dan hafalan syair 99 Asmaul Husna
B.     Penyajian ( 50 menit )
1.         Menyebutkan contoh – contoh makanan lezat
( Subhanallah ) ---------------------------------------------Tingkatkan minat.
2.         Memancing pemikiran siswa untuk menjelaskan Selera rasa dari berbagai makanan lezat. ( Subhanallah ) ----------------------------Aktifkan minat.
3.         Menjelaskan bahwa tiap – tiap makanan itu
Rasanya berbeda –beda ( Bukti keagungan Allah ) -----Namai Konsep
4.         Menampilkan contoh konkrit dari berbagai makanan lezat
( indera perasa ) ----------------------------------------------Demonstrasi
5.         Evaluasi secara lisan ----------------------------------------Ulangi
6.         Nilai, pujian atau tepuk tangan ( Input siswa ) ----------Rayakan
C.     Penutup 10 menit
Kesimpulan bahwa adanya berbagai makanan lezat menandakan keagungan Allah SWT
Proses pembelajaran Quantum Teaching – Learning di MI Miftahul ulum prigen khususnya pada siswa kelas 1, senantiasa terlihat saat awal pelajaran Aqidah Akhlak dimulai. Untuk membangkitkan semangat dan mengajak siswa – siswi agar mau fokus pada mata pelajaran Aqidah Akhlak, Ibu Uswatun hasanah selaku pengajar mata pelajaran Aqidah akhlak kelas 1 di MI Miftahul ulum prigen, menggunakan pertanyaan positif yang singkat dan menyenangkan. Menurut beliau pertanyaan – pertanyaan tersebut bagus digunakan, sebab bisa memberi stimulus siswa untuk bersemangat belajar dan siap menerima pelajaran dikelas.
Berikut pertanyaan yang digunakan sebelum memulai pelajaran       :
Ibu guru    : Apakah kalian pintar ?
Siswa        : Kami pintar !
Ibu guru    : Seberapa pintar ?
Siswa        : Sangat pintar !
Ibu guru    : Bagaimana kalian memperlakukan guru ?
Siswa        : Dengan hormat !
Ibu guru    : Kalian siap menerima pelajaran hari ini ?
Siswa        : Siiiap!
     Ibu Uswatun hasanah juga menambahkan bahwa dalam proses pembelajaran Quantum Teaching – Learning, seorang guru sangat diharapkan sebagai aktor yang mampu memainkan berbagai gaya belajar siswa – siswi. Dan dalam Quantum Teaching – Learnig tidak ada siswa yang bodoh, yang ada adalah siswa yang belum berkembang karena titik sentuhnya belum cocok dengan titik sentuh yang diberikan guru.
     Maka disini seorang guru diharapkan mampu nutuk mencari dimana titik sentuh yang cocok dengan keadaan siswa tersebut, sehingga materi yang diberikan dapat diterima oleh siswa dan ketika jam pelajaran selesai maka hanya ada senyuman pada diri siswa dan siswa siap untuk materi selanjutnya.
  1. Minat belajar siswa kelas 1 MI Miftahhul Ulum prigen pada mata pelajaran Aqidah Akhlak.
Siswa – siswi di MI Miftahul ulum prigen pada umumnya mempunyai minat untuk belajar Aqidah Aklak yang terbilang tinggi, apa lagi jika ditinjau dari lingkungan tempat tinggal yang berdekatan tak jauh dari Pondok Pesantren belum lagi dengan adanya pendidikan non formal seperti madrasah diniyah yang sudah menjadi aktifitas kunjungan mereka sehari – hari.
Sedangkan dalam pendidikan formalnya, siswa – siswi di MI Miftahul Ulum, sebagian besar terlihat meminati adanya pendidikan Agama islam. Terlihat dari cara bergaul mereka dengan teman – temannya, sikap mereka ketika berhadapan dengan gurunya yang terlihat sopan santun.
Kecenderuangan terhadap pendidikan Agama islam ( Aqidah Akhlak ) juga terlihat didalam ruangan kelas terutama diruangan kelas 1. mayoritas siswa – siswi berhasil menghafal 99 Asmaul husnah sekaligus dengan alunan nada dan syairnya yang begitu jelas dan indah. Seperti yang dinyatakan oleh ibu Uswatun hasanah : “ Bahwa ilmu pendidikan Agama Islam sudah termasuk kategori “kebutuhan” bagi siswa – siswi MI Miftahul ulum, terutama siswa kelas 1, yang dikenal mempunyai potensi dan prestasi tinggi dalam bidang pendidikan Agama islam. Suatu kemudahan juga bagi saya, dalam 3x pertemuan saja, mereka sudah menghafal 99 Asmaul Husnah, namun demikian bukan berarti saya akan merasa puas dengan keadaan tersebut tapi hal ini justru akan menjadi motivasi bagi saya didalam mempertahankan dan mengembangkan potensi anak, tentunya pemilihan metode dalam strategi pembelajaran menjadi kewajiban yang harus saya lakukan”.
Minat seseorang tidak timbul secara tiba – tiba / spontan. Melainkan timbul akibat dari partisipasi, pengalaman, kebiasaan pada waktu belajar atau bekerja.
Oleh sebab itu, minat akan selalu berkaitan dengan kebutuhan dan keinginan dalam pembelajaran model Quantum Teaching yang penting adalah bagaimana menciptakan kondisi tertentu agar siswa itu selalu butuh dan ingin terus belajar.
Penerapan prinsip pembelajaran Quantum Teaching dapat meningkatkan ketuntasan belajar siswa dalam proses pencapaian tujuan pembelajaran, dan menjadikan suasana kelas belajar lebih menarik dan menyenangkan sehingga materi yang disampaikan dapat ditangkap dan diterima oleh siswa.
Dorongan biologis alamiah itu sederhana, kemampuan atau keterampilan baru akan berkembang jika diberikan lingukngan model yang sesuai. Disini berarti guru harus mampu menciptakan lingkungan model yang sesuai dengan situasi.
  1. Analisa Data.
Untuk mengetahui adakah pengaruh Model Quantum Teaching – Learning dalam meningkatkan minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 di MI Miftahul ulum Dayu rejo prigen, akan disajikan data – data yang otentik tentang beberapa cerminan atau model pembelajaran Quantum Teaching Learning ataupun juga bisa dikatakan sebagai usaha guru mengolah waktu, materi, kondisi kelas atau siswa saat mengajar dalam menumbuhkan minat belajar Agama islam, khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak sebagi hasil penelitian yang dilakukan selama ini.
Dalam laporan penelitian ini, penulis sajikan dalam bentuk uraian dari pengolahan data berikut kesimpulan beserta analisanya dengan mengambil siswa dari keseluruhan siswa kelas 1 di MI Miftahul ulum sebagai populasi dan sampel. Sebagai kelengkapan data kami juga membuat catatan tentang dokumen yang dimiliki oleh MI Miftahul Ulum. Penulis juga melakukan pengamatan secara cermat terhadap situasi dan kondisi dari semua aktifitas sekolah. Disamping itu kami juga mengadakan interview kepada ibu Uswatun hasanah, S.PdI sebagai guru Aqidah akhlak kelas 1 MI Miftahul Ulum dusun kelataan, desa Dayurejo, kecamatan Prigen, kabupaten Pasuruan. Sebagai recheck dari hasil questioner yang kami berikan kepada responden. Dengan demikian data yang penulis peroleh cukup lengkap tanpa mengganggu proses belajar mengajar di MI Miftahul ulum, hal ini juga salah satu bentuk upaya dalam mengantisipasi kesimpang siuran informasi yang mengakibatkan kurang akuratnya data yang diperoleh. Kemudian sebagaimana yang tertulis dalam rumusan masalah dan tujuan penelitian, maka dalam hal ini penulis membagi pembahasan dalam tiga kelompok pertanyaan, yaitu :
1.      Kesadaran siswa untuk mempelajari Pendidikan Agama Islam khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak.
2.      Perhatian siswa dalam belajar Pendidikan Agama Islam khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak.
3.      Pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching – Learning terhadap minat belajar Pendidikan Agama Islam khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Dayurejo Prigen.
Berikut ini akan dipaparkan mengenai hasil angket minat belajar siswa serta pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching – Learning terhadap minat belajar Pendidikan Agama Islam khususnya pada mata pelajaran Aqidah akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Dusun Kelataan, Desa Dayurejo kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, yang penulis sajikan dalam bentuk tabel – tabel.
Pertama adalah hasil angket yang di isi oleh responden yang berisi beberapa pertanyaan yang berkenaan dengan ketertarikan hati siswa untuk belajar. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut :
TABEL 4
KESADARAN SISWA
DALAM BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Jawaban

No
a
b
c
d
N

F
%
F
%
F
%
F
%

1
2
3
4
20
20
19
15
86,95
86,95
82,60
65,21
1
1
1
2
4,34
4,34
4,34
8,69
0
0
0
2
0
0
0
8,69
2
2
2
4
8,69
8,69
8,69
17,39
17
17
17
17



TABEL 5
PERHATIAN SISWA
DALAM BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

Jawaban

No
a
b
c
d
N

F
%
F
%
F
%
F
%

1
2
3
4
10
10
15
13
43,47
43,47
65,21
56,52
3
4
5
4
13,04
17,39
21,73
17,04
2
4
0
4
8,69
17,04
0
17,04
8
5
3
2
34,78
21,73
13,04
8,64
17
17
17
17

TABEL 6
MINAT SISWA
SAAT MODEL PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING - LEARNING
DALAM BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DILAKSANAKAN

Jawaban

No
a
b
c
d
N

F
%
F
%
F
%
F
%

1
2
3
4
5
10
8
8
21,73
43,47
34,78
34,78
10
8
5
5
43,47
34,78
21,73
21,73
1
2
1
3
4,34
8,69
4,34
13,04
7
3
9
7
30,43
13,04
39,13
30,43
17
17
17
17

Dari tabel diatas maka bisa diketahui bahwa siswa kelas 1 di MI Miftahul ulum pada dasarnya sangat meminati terhadap Pendidikan Agama Islam disekolahnya, hal ini diperkuat juga dengan hasil interview dengan ibu Uswatun Hasanah, S.PdI selaku guru Aqidah akhlak kelas 1 sebagai berikut :
“ Iya, sebagian siswa – siswi sangat berminat mempelajari Pendidikan Agama Islam, apalagi jika saya lihat pada usia siswa – siswi khususnya kelas 1 itu berada antara 7 dan 8 tahun. Nah, biasanya usia seperti ini adalah usia untuk mencari kecenderungan bersenang – senang, sehingga mengharuskan saya untuk memilih metode yang tepat dalam artian menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa. “
      Untuk mengetahui adakah pegaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning terahadap minat belajar siswa kelas 1 di MI Miftahul ulum, maka penulis menggunakan analisa kwantitatif dengan memakai rumus “Julius Q” yang berbunyi :
Q = ad – bc
       ad + bc
( Koentjoningrat, 1997 : 286 – 287 )
      Untuk menganalisa data dengan menggunakan rumus tersebut, maka terlebih dahulu penulis menjelaskan tabel minat belajar dan pengaruh model pembelajaran Quantum Teaching – Learning dalam meningkatkan minat belajar siswa kelas 1 Madrasah Ibtida’iyah Miftahul Ulum, Dusun Kelataan, Desa Dayu Rejo, Kecamatan Prigen Kabupaten Pasuruan terhadap mata pelajaran Aqidah Akhlak, dengan mengambil nilai rata – rata angka dari jawaban responden ( positif dan negatif ) terhadap pengisian angket yang dilakukan . Hasil penelitian tersebut kami sajikan kedalam bentuk tabel - tabel sebagai berikut :
TABEL 7
KESADARAN SISWA
DALAM BELAJAR AQIDAH AKHLAK
Responden
N
Alternatif
F
%
Siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Kelataan, Prigen
17
a.       Ya
b.      Tidak
15
1,75
88,23
10,29

TABEL 8
PERHATIAN SISWA
DALAM BELAJAR AQIDAH AKHLAK

Responden
N
Alternatif
F
%
Siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Kelataan, Prigen
17
a.       Ya
b.      Tidak
11,25
5,75
66,17
33,82


TABEL 9
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN
QUANRUM TEACHING - LEARNING
TERHADAP MINAT BELAJAR SISWA
PADA MATA PELAJARAN  AQIDAH AKHLAK

Responden
N
Alternatif
F
%
Siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Kelataan, Prigen
17
    1. Ya
    2. Tidak
8,25
8,75
48,52
51,47

      Untuk mengetahui dan menjawab pertanyaan “ Adakah pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teachimg – Learning dalam meningkatkan minat belajar aqidah akhlak siswa kelas 1 di MI Miftahul ulum Dayurejo Prigen, dan sesuai dengan tujuan penelitian yang penulis lakukan selama ini maka untuk lebih jelasnya penulis uraikan dalam tabel dan perhitungan sebagai berikut :
TABEL 10
 ADAKAH PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN
QUANRUM TEACHING - LEARNING
DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA KELAS 1 MI MIFTAHUL ULUM DAYUREJO PRIGEN
PADA MATA PELAJARAN  AQIDAH AKHLAK


Hasil

Ada
Tidak
Minat Bealajar
Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching - Learning
  1. 77,2

c.   48,52
b. 22,05

d. 51,47

KET : Angka hasil diambil dari nilai rata – rata (Positif dan Negatif ) dari nilai tabel minat belajar dan Pengaruh Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning dalam meningkatkan minat belajar aqidah akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum, Dayu rejo Prigen.
      Langkah berikutnya adalah lakukan perhitungan dengan rumus Julius Q, sebagai hasil akhir untuk menarik suatu kesimpulan.



Q = ad – bc
       ad + bc
= ( 77,2 x 51,47 ) – ( 22,05 x 48,52 )
   ( 77,2 x 51,47 ) + ( 22,05 x 48,52 )
= 3973,48 – 1069,86
   3973,48 + 1069,86
= 2903,62
   5043,34
= 0,57
  1. Interprestasi
Adalah kesepakatan bahwa derajat besarnya hubungannya antara dua variable itu selalu di ukur dengan lambang bilangan seperti yang tertera dalam tabel berikut :
TABEL 11
DERAJAT BESAR HUBUNGAN
2 VARIABEL
Hasil
Hubungan Variabel
0,00
1,00 atau – 1,00
Tidak ada
Ada
( Koentjoningrat,1997 : 287 )
Berdasarkan perhitungan dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning dalam kegiatan belajar mengajar, memberikan pengaruh didalam memotivasi minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Dayurejo, Prigen. Dengan hasil nilai 0,57.
Hal ini sekaligus memberikan bukti kebenaran terhadap hipoptesa kerja ( Ha ) yang telah dirumuskan peneliti pada halaman sebelumnya bahwa “ ada pengaruh didalam memotivasi minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Dayurejo, Prigen, Kabupaten Pasuruan. “
Bahkan data – data tersebut diperkuat dengan hasil wawancara peneliti dengan Ibu Uswatun hasanah,S.PdI selaku pengajar Aqidah akhlak kelas 1 di MI Miftahul ulum Dayurejo Prigen. Beliau menyatakan :
“ Sebuah kreatifitas dalam bentuk Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning senantiasa mutlak dimiliki oleh seorang guru dalam mengolah dunia pendidikan. Guru yang mempunyai kreatifitas tinggi dalam menyampaikan suatu mata pelajaran baik berupa daya imajinasai, tehnik, atau metode yang dipakai dalam mengajar, potensi, dan gaya individu atau pembawaan guru itu sendiri yang luwes, fleksibel, dan pandai memanfaatkan waktu yang dimilikinya saat mengajar sangat mempengaruhi minat siswa itu  sendiri. Apalagi kalau kreatifitaas itu datang dari seorang guru Agama Islam. Pertumbuhan minat seorang siswa ataupun siswi bisa berajalan sempurna karena selain cerdas dalam ilmu pengetahuan dan tehnologi ( IPTEK ), siswa juga cerdas dalam Iman dan Taqwa kepada Allah SWT ( IMTAQ ).
Jadi bisa disimpulkan bahwa ada pengaruh dari Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning didalam memotivasi minat belajar Aqidah Akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum Dayurejo, Prigen, Kabupaten Pasuruan.


BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Sebagai hasil kajian teori penelitian dibawah ini penulispaparkan sebuah kesimpulan dari apa yang penulis dapatkan selama ini, sebagai berikut :
  1. Pelaksanaan Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning di MI Miftahul ulum, Kelataan, Dayurejo, Prigen. Dilaksanakan dan diberikan oleh para guru/wali kelas masing – masing. Dan yang memberikan Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning di kelas 1 MI Miftahul ulum Dayurejo, Prigen adalah Ibu Uswatun hasanah, S.PdI.
  2. Minat belajar Aqidah akhlak kelas 1 MI Miftahul ulum Dayurejo, Prigen.
Dari hasil penelitian yang dilakukan selama ini,dengan perolehan data baik melalui dokumen – dokumen, Interview dengan pendidik hingga pengisian angket pada pesrta didik, maka peneliti berkesimpulan bahwa minat belajar kelas 1 MI Miftahul ulum pada mata pelajaran Aqidah akhlak terbilang sangat tinggi, dengan kata lain para siswa kelas 1 sangat meminati terhadap pelajaran Aqidah akhlak disekolah.
  1. Ada pengaruh dari Model Pembelajaran Quantum Teaching – Learning terhadap minat belajar Aqidah akhlak siswa kelas 1 MI Miftahul ulum dusun Kelataan, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan. Dengan nilai Interprestasi sebesar 0,57 melalui perhitungan seperti dibawah ini :
Q = ad – bc
       ad + bc
= ( 77,2 x 51,47 ) – ( 22,05 x 48,52 )
   ( 77,2 x 51,47 ) + ( 22,05 x 48,52 )
= 3973,48 – 1069,86
   3973,48 + 1069,86
= 2903,62
   5043,34
= 0,57
Serta berdasarkan kesepakatan bahwa derajat besarnya hubungannya antara dua variable itu selalu di ukur dengan lambang bilangan seperti yang tertera dalam tabel berikut :
Hasil
Hubungan Variabel
0,00
1,00 atau – 1,00
Tidak ada
Ada
( Koentjoningrat,1997 : 287 )
B.     Saran – saran
  1. Saran untuk Kepala Madrasah.
Dalam rangka peningkatan minat belajar siswa, Kepala MI Miftahul ulum Dayurejo, Prigen hendaknya terus mempertahankan dan mengembangkan kualitas yang telah dimiliki, dengan meningkatkan wawasan demi peningkatan kualitas mutu yang lebih maju sesusai dengan tuntutan Ilmu pengetahuan dan tehnologi.
  1. Guru Kelas/Guru Mata pelajaran.
Sebagai seorang guru dituntut untuk selalu menjaga hubungan yang harmonis baik dengan sesama guru ataupun siswa.
Untuk menjawab tuntutan diatas maka, tiap – tiap guru yang ada dalam suatu lembaga pendidikan hendaknya :
  1. Memperbanyak wawasan dengan sering membaca banyak literatur dan berusaha mengikuti informasi – informasi  yang tengah berkembang.
  2. Berusaha selalu menjaga hubungan yang baik dengan sesama guru dan para siswa Sebagai syarat terjalinnya suatu komunikasi yang baik serta suasana kerja yang harmonis, menyenangkan dan menggairahkan.
  3. Seorang pendidik hendaknya selalu intropeksi diri terhadap perilaku sehari – hari, terutama dihadapan anak didik sehingga dapat diteladani.
  4. Mempertahankan sikap keikhlasan dalam tiap – tiap pengajaran. Sebab kunci sukses dari suatu keberhasilan adalah “ IKHLAS” dan merupakan modal utama bagi para pendidik.
  5. Membina diri dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan keprofesionalannya sebagai persiapan diri dalam menanggapi perubahan – perubahan dalam culture masyarakat yang semakin berkembang.
  1. Bagi Madrasah.
. Dalam upaya pencapaian Visi, Misi serta Tujuan pendidikan, maka suatu lembaga pendidikan hendaknya :
a.       Selalu meningkatkan kedisiplinan kepada seluruh Keluarga besar lembaga tersebut. Baik siswa, guru, ataupun seluruh pegawai yang ada didalam lembaga tersebut.
Hal ini merupakan  modal utama dalam upaya pencapaian Visi, Misi, serta tujuan pendidikan.
b.      Mempertahankan dan mengembangkan program – program yang ada demi peningkatan mutu dan kualitas pengajaran yang ada. Sekaligus untuk menjawab tuntutan dari perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.
c.       Selalu berusaha untuk mencari ide – ide baru didalam upaya peningkatan dan pencapaian tujuan pendidikan yang ada dilembaga tersebut.
d.      Mempertahankan jalinan hubungan yang baik dengan masyarakat khususnya dengan para tokoh masyarakat yang ada disekitar, agar lembaga bisa mengikuti perkembangan atau perubahan yang terjadi dilingkungan masyarakat sekitar.
e.       Selalu berusaha untuk memenuhi kebutuhan pengajaran, artinya pemenuhan terhadap fasilitas pembelajaran, dalam upaya menciptakan system pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, dan menyenangkan.

DAFTAR PUSTAKA
Afifudin dkk. 1988. Psikologi Pendidikan Anak Usia Sekolah Dasar. (Solo : Harapan Massa) 92.

Ahmadi, Abu dkk. 2002. Psikologi Sosial. (Jakarta : Rineka cipta) 283

Ahmadi dan Prasetya. 2005. SBM Strategi Belajar Mengajar. (Bandung : Pustaka setia) 103 dan 121.

Arikunto, Suharsimi. 1996 Prosedur penelitian suatu pendekatan praktek. (Jakarta : Rineka cipta) 120

DePorter, Bobbi dkk. 2009. Quantum Teaching. (Bandung : Mizan Pustaka) 3, 4, 5.

Djupri, Ghoziadin. Nasehat Bapak Kepada Anak. (Surabaya : Apollo)

Fathoni, dkk. 2010 Fokus Ilmu Pengetahuan Alam (Solo : CV.Sindunata).

Fifi, dkk. 2010 Fokus Pendidikan Kewarganegaraan (Solo : CV.Sindunata).

Koentjaningrat. 1997. metode-metode penelitian masyarakat. (Jakarta : Gramedia Pustaka utama) 286 dan 287.

Makrus H, dkk. 2010 Fokus Ilmu Pengetahuan Alam (Solo : CV.Sindunata).

Shalahuddin, Mahfudh. 1990. Pengantar Psikologi Pendidikan. (Surabaya : Bina Ilmu Offest) 95.

Silberman, Melvin L. 2006. Quantum Learning. (Bandung : Nusamedia) 15.

Sudjiono, Anas, 2003. Pengantar Statistik Pendidikan. (Jakarta : Raja Grafindo Persada) 40.

Tim Dosen Sosiologi Universitas Negeri Yogyakarta, 2005. Sosiologi. (Yogyakarta : Macanan Jaya Cemerlang) 67, 68, 70,72,74, dan 81.

Tim Penyusun, Kamus Lengkap Inggris- Indonesia. (Surabaya : Mekar) 257.

Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta : Balai Pustaka) 15, 211, 589, dan 664.

Tim Penyusun STAIPANA. 2006. Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi. Bangil.

Tim Fokus. 2010 Fokus Bahasa Inggris (Solo : CV.Sindunata).

Titik S. dkk. 2010 Fokus Ilmu Pengetahuan Sosial (Solo : CV.Sindunata).

Triyanto dkk. 2009. Seni budaya dan Keterampilan kelas XI. (Jakarta : Graha Pustaka).

Wenger, Win. 2004. Beyond Teaching & Learning. (Bandung : Nuansa) 10.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

World Clock