Rabu, 30 November 2011

Tasawwuf dan Thoriqoh

BEBERAPA
PERSOALAN YANG BERHUBUNGAN DENGAN TASHAWWUF DAN THARIQAH


1. Apakah
tashawwuf itu ?….dan apa hubungannya dengan thariqah?…. Apakah termasuk bid’ah
atau tidak dalam pandangan Islam?…

Jawab

: Pada prinsipnya, tashawwuf adalah istilah untuk sebuah disiplin ilmu

dan amaliyah yang muncul sekitar abad kedua – ketiga hijriyah, tergugah

oleh rasa prihatin para ulama’ shalihin pada saat itu, dimana ummat

Islam mengalami kemunduran yang disebabkan berbagai peristiwa baik

sosial, politik, ekonomi maupun budaya. Sehingga nilai nilai Islam

cenderung diabaikan karena begitu kuatnya obsesi duniawi. Bahkan para

ulama’ shalihin dijadikan musuh baik oleh masyarakat maupun pejabat.

Diantara mereka banyak yang dibunuh karena dianggap opposan.Untuk
itulah banyak ulama’ yang shalih menyinggkir kepinggiran kota bahkan kegunung
gunung dan membuat zawiyah (pusat kegiatan pendidikan dan riyadhah ruhani)
dengan disiplin yang ketat mengacu pada kehidupan Rasulullah SAW dan para
sahabatnya (ahlus shuffah). Dimana mereka berusaha menata dan memelihara hati
agar terhindar dari sifat sifat tercela dan menghias dengan sifat sifat terpuji seperti ihlas, qonaah,
sabar dll. Intinya adalah mengatur hati agar tidak dikuasai dunia tapi harus menguasai dunia.

Dari
para ulama’ yang sekaligus Auliya’ (pada masing masing daerah dan

zaman) itulah muncul metode metode khusus untuk mendekatkan diri kepada Allah
SWT. dimana didalamnya sarat dengan amalan amalan baik berupa bacaan bacaan dan
disiplin latihan atau riyadhah ruhani dengan tata caradan syarat syarat
tertentu yang mereka tetapkan. Amalan amalan ini bersumber dari Rasulullah SAW
dengan sanad jelas atau silsilah yang sambung. Amalan seperti inilah yang selanjutnya disebut thariqah. Adapunthariqah yang mu’tabar / mempunyai sanad yang sambung sampai pada Baginda Nabi Muhammad SAW jumlahnya sekitar 360 thariqah.


Jadi
Tashawwuf itu adalah teori dan praktek Al Islam dengan acuan utama
mencontoh cara hidup dan kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Sedangkan thariqah adalah amalan resminya. Pada zaman Nabi Muhammad SAW istilah
tashawwuf mungkin belum ada, tapi prakteknya sudah ada. Ya sama dengan nama teori
dan praktek mengajarkan baca tulis Al Qur’an, ada Qiroati, Iqro’, Al Barqi dll.
Pada zaman Nabi tidak ada tapi selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan
juga bertambah maka lahirlah istilah dan nama nama tersebut dalam hasanah dunia
Islam. Mengapa tidak dicap bid’ah?….

Kalau
setiap hal baru seperti tashawwuf dicap bid’ah karena tidak ada di zaman Nabi, maka seluruh organisasi yang ada saat ini bid’ah semua. Seperti organisasi Islam NU, Muhammadiyah, PERSIS, Hamas, Fatah, FPI, Lasykar
Jihad, Jamaah Islamiyah dan lain sebagainya itu bid’ah juga. Jika setiap bid’ah dhalalah dan masuk neraka, maka semuanya dhalalah dan masuk neraka.

Demikian
juga praktek menentukan awal dan ahir bulan pada zaman Nabi tidak pakaihisab
dan tidak pakai computer. Berarti yang pakai hisab dan computer itu bid’ah –
dhalalah dan masuk neraka semua. Al Qur’an di zaman Nabi tidak dibukukan,
dizaman sahabat dibukukan diatas lembaran dari bahan kulit dan ditulis tangan
kemudian disimpan tidak di letakkan dimasjid untuk dibaca umum. Sekarang
dicetak offset dalam jumlah masal kemudian disebar di masjid masjid dan
mushalla. berarti tidak sama dengan zaman Nabi dan sahabat. Apakah tidak bid’ah
juga ?….

Kesimpulannya,

jika tashawwuf dan thariqah kita lihat hanya dari sebatas nama yang mana hal itu tidak ada dizaman nabi. Kemudian setiap yang tidak ada di zaman nabi itu bid’ah dhalalah, maka tashawwuf itu termasuk bid’ah
dhalalah, termasuk bid’ah dhalalah juga organisasi NU, Muhammadiyah, PERSIS dan lain lain karena tidak ada dizaman nabi.Jika tashawwuf dan amalannya (thariqah) kita lihat dari segi isinya, yang
mengacu pada kehidupan Rasulullah dan para sahabatnya, sedangkan thariqah adalah amalan yang jelas sanadnya sambung pada Rasulullah SAW. maka tashawwuf dan thariqah adalah bagian terpenting dalam Islam yang harus kita perjuangkan dan pelihara eksistensinya.

2.Dari mana asal usul wirid thariqah dan apa rahasianya sehingga mempunyai
keutamaan beda dengan wirid selain thariqah ?…

Sebuah bacaan rutin / wirid baru disebut sebagai wirid thariqah jika bacaan tersebut berasal dari Rasulullah SAW dengan sanad yang jelas dan shahiih. Wirid ma’tsur yang ada dasar pengambilannya baik dari Al Qur’an
maupun hadits yang disusun dan dibaca oleh seseorang tanpa sanad yang sambung sampai baginda Nabi SAW seperti bacaan bacaan setelah shalat (Subhanallah 33X, Alhamdulillah 33X, Allaahu akbar 33X ) dan berbagai bacaan lainnya yang dibaca sekedar hasil niru saja atau hasil dari membaca kitab kitab / buku buku lalu disusun sendiri hukumnya bukan thariqah.

Termasuk juga dzikir yang dibaca di berbagai majlish dzikir yang disusun oleh seorang tokoh
seperti Ustadz Arifin Ilham dengan Adz Dzikra, maupun oleh tokoh besar seperti Syaikhul Islam Al Imam Al Ghazali misalnya, juga bukan thariqah. Akan tetapi wirid tersebut tetap mempunyai keutamaan
sesuai janji Allah dan Rasul-Nyaj juga sesuai dengan derajat perintis dan pembacanya. Sedangkan wirid thariqah disamping mendapatkan keutamaandan pahala sebagaimana tersebut diatas, juga mendapatkan pahala dan keutamaan tambahan, yaitu pahala dan keutamaan serta keistimewaan dari sanad yang sambung
dengan Rasulullah SAW.

Sanad
thariqah ada dua macam. Yaitu sanad hissy dan sanad barzakhy. Sanad hissy
artinya sanad ijazah / izin yang diberikan oleh Rasulullah SAW ketika beliau masih hidup. Seperti sanad Thariqah Qadiriyah asalnya dari Rasulullah SAW kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallaahu
wajhahu, sedangkan Sayyidi Syeikh abdul Qadir Al Jailani hanyalah pelanjut, dimana dia mendapatkan ijazah dari Wali yang menjadi guru beliau kemudian beliau amalkan dan kembangkan sehingga selanjutnya
amalan tersebut dinisbatkan pada beliau.
Demikian juga Thariqah Naqsyabandiyah, aslinya yang mendapatkan langsung adalah Sahabat
Abu Bakar Al Shiddiq ra. yang selanjutkan diijazahkan kepada S. Salman Al
Farisy lalu pada Imam Ja’far Shadiq yang ahirnya sampai pada Sayyidi Syeikh
Bahauddin Al Naqsyabandy. Beliau menghidupkan lagi dan memasyrakatkannya dengan
gencar. Sehingga selanjutnya disebut thariqah Al Naqsyabandiyah.

Adapun
sanad barzakhy adalah sanad ijazah wirid yang diperoleh dari Rasulullah SAW
melalui pertemuan langsung dalam sadar / bukan mimpi setelah beliau wafat.
Sanad barzakhy diakui dan diyakini kebenaran dan keabsahannya oleh kalangan
muhaqqiqiin dan ‘arifiin.

Diantara thariqah yang sanadnya didapat secara barzakhi adalah thariqah At Tijany. Hal
ini yang menjadi salah satu keistimewaan thariqah At Tijany,yaitu sanadnya langsung dari Rasulullah SAW kepada Sayyidi Syeikh Ahmad AtTijani ra, tanpa perantara (bukan dari sesama Wali) sehingga sanad yang sampai pada kitapun sangat dekat dengan Baginda Rasulullah SAW.

World Clock