Selasa, 29 November 2011

Makalah Rohn (Gadai)


BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
        Dengan melihat fenomena yang terjadi diera globalisasi dan pengaruh westerinasi khususnya pada bidang fiqih muamalat, dimana orang sekarang kurang memperhatikan akan peraturan-peraturan yang tertera pada fiqih muamalat, sehingga terkadang menimbulkan kejanggalan, seperti contoh berhutang dengan menggunakan jaminan, banyak terjadi kesalah pahaman , terkadang orang menganggap barang jaminan itu telah menjadi miliknya, padahal tidak demikian. Maka dari itu kami mencoba mengangkat masalah atau problem ini untuk kami jadikan suatu bahasan.
B. Rumusan Masalah
    1. Apa pengertian gadai  dalam ilmu fiqih ?
    2. Bagaimana pendapat para ulama fiqih tentang gadai ?
C. Tujuan
    1. Untuk mengetahui pengertian gadai dalam ilmu fiqih.
    2. Untuk mengetahui pendapat –pendapat yang telah diutarakan oleh para ahli
        fiqih  mengenai gadai







BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Ar- Rahn ( الرهن )
Secara etimologi الرهن adalahالثبوت  yaitu tetap dan ada juga yang mengatakan   للاءحتباسا                   yaitu pengekang.
Sedangkan berdasarkan terminilogi terdapat  beberapa perbedaan pendapat para ulama :
1.      Ulama fiqih syafi’yah
جعل عين وثيقةبدين يستوفى منهاعندتعدروفانه
                    Menjadikan suatu benda sebagai jaminan hutang yang dapat dijadikan      pembayaran ketika berhalangan dalam membayar hutang.
2.      Ulama fiqih hanabilah


 المال الدي يجعل وتيقةبالدين ليسثوفى من تمنه ان ثعدراسثفاؤه ممن هواله
Harta yang dijadikan jaminan hutang sebagai pembayaran harga atau nilai hutang ketika yang berhutang berhalangan atau tidak mampu membayar hutangnya kepada pemberi pinjaman.
Dari pendapat diatas bisa diambil kesimpulan bahwa jaminan adalah suatu barang yang dijadikan penguat kepercayaan dalam hutang piutang atau yang lebih populer dengan sebutan gadai.dengan catatan barang yang digadaikan harus barangnya sendiri bukan barang ghasab atau pinjaman. Barang tersebut boleh dijual jika sang peminjam tidak dapat membayar hutang, hanya saja penjualan itu hendaknya dengan keadilan ( dengan harga yang berlaku pada waktu itu). Jika terdapat sisa dari penjualan barang tersebut untuk membayar hutang maka sisanya di kembaikan pada pemilik.  

B. Hukum gadai
Gadai menggadai hukumnya boleh (mubah) sepanjang memenuhi syarat dan rukunya. Dalam AL qur’an disebutkan :
وان كنتم على سفرولم تجدواكاتبافرهان مقبوضة
Jika kamu dalam perjalanan  sedangkan kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada barang jaminan yang dipegang (Al Baqarah 283)
Sedangkan pada masa rosulullah gadai menggadai menjadi salah satu jalan alternatif untuk memenuhi kebutuhan hidup, Rosulullah sendiri pernah melakukanya.
Sabda Rosullah Saw :
عن انس قال لقدرهن رسول الله صلى الله عليه وسلم درعه عند يهودي باالمدينةفاخدمنه شعيرلأهله رواه احمدوالبخاريوالنسائوابن ماجه
Dari anas ia berkata : rosulullah SAW, benar-benar telah menggadaikan baju besi beliau kepada seorang yahudi di madinah, diwaktu beliau berhutang sya’ir atau gandum dari seorang yahudi untuk keluarganya.
Dari hadis beliau jelaslah bagi kita, bahwa agama islam dalam urusan muamalat tidak membedakan antara pemeluknya dengan yang lain.
C.Rukun Ar-rahn
Rukun gadai ada 4 :
1.       وهما الراهن والمرتهن
Orang yang menggadaikan dan orang yang menerima gadai (yang berhutang dan yang memberi hutang)
2.      المرهن
Barang yang di gadaikan.barang yang boleh di jual boleh di gadaikan dengan syarat barang itu tidak rusak sebelum jatuh tempo.
3.      المرهن به
Barang atau uang yang di pinjam.
4.      صيغة
Lafadz (kalimat akad)
D. Syarat Ar-rahn
Syarat gadai ada 3 :
1.      Kedua belah pihak sah jual belinya ( anak kecil dan orang gila tidak sah melakukan akad gadai)
2.      Barang yang digadaikan adalah barang yang dapat dikuasai oleh penerima gadai (bukan barang yang berada dalam penguasaan orang lain)
3.      Memenuhi ketentuan administrasi, apabila di kelola oleh instansi tertentu.
Apabila barang yang di gadaikan itu rusak atau hilang, maka penerima gadai tidak wajib mengganti karena barang gadaian itu adalah sebagai penguat dan saling percaya, kecuali jika sebab kelalaian.
E. Memanfa’atkan barang yang di gadaikan
Pada dasarnya tidak boleh terlalu lama memanfaatkan barang gadaian sebab hal itu akan menyebabkan barang rusak atau hilang. Dalam hal ini terdapat prebedaan diantara para ulamak :
a.       Ulamak hanafiyah berpendapat bahwa rahin (orang yang menggadaikan ) tidak boleh memanfaatkan barang gadaian tanpa seizin murtahin ( orang yang menerima gadai), begitu pula sebaliknya. Mereka beralasan bahwa barang gadaian harus tetap dikuasai oleh murtahin, sebab manfaat yang ada dalam barang gadaian pada dasarnya termasuk rahn. Hal ini sependapat dengan ulama Hanabilah.
b.      Ulama Malikiyah berpendapat bahwa jika murtahin mengizinkan rohin untuk memanfaatkan barang gadaian maka akad menjadi batal,adapun murtahin boleh memanfaatkan barang gadaian sekedarnaya itupun atas tanggungan rahin.
c.       Ulama syafiiyah berpendapat bahwa rahin di perbolehkan untuk memanfaatkan marhun, jika tidak menyebabkan marhun berkurang tidak perlu minta izin, akan tetapi bila marhun berkurang harus meminta izin murtahin.
Dari keterangan diatas bisa di simpulkan bahwasanya   
Memanfaatkan barang yang di gadaikan itu di perbolehkan, atas izin yang punya dengan tidak merusak atau tidak megurangi nilai barangnya.sabda nabi :
عن ابي هريرة رض قال رسولالله صلعم الراهن يركب بنفقته ادا كان مرهوناولبن الد ريشرب بنفقته ادا كان مرهوناوعلى الدي يركب ويشرب النفقته. رواهالبخاري
Dari Abu Hurairah, Rosulullah Bersabda : Binatang tunggangan jika tergadai boleh ditunggangi karena memberinya makan, susunya boleh diminum jika binatang itu tergadai, karena memberinya makan, dan wajib atas orang yang menunggang dan meminum susunya memberi makan binatang tersebut.( HR. Bukhari)
Adapun bagi orang yang mempunyai barang berhak mengambil manfaat dari barang yang di gadaikan,bahkan semua manfaatnya tetap milik dia walaupun tanpa seizin orang yang menerima gadai, kerusakan barangpun atas tanggunganya. Tetapi usaha untuk menghilangkan miliknya atau mengurangi harga barang itu tidak diperbolehkan kecuali atas izin orang yang menerima gadai, maka menjual atau menyewakan barang yang sedang di gadaikan hukumnya tidak sah.  
Rosulullah Bersabda :
لايغلق الرهن من صا حبهالدى رهنه له غدمه وعليه غرمه ( روه الشا فعى والدار قطنى)
Barang gadaianmu tidak menutup pemiliknya dari manfaat barang itu faedahnya kepunyaan dia, dan dia wajib membayar dendanya.
Adapun bagi orang yang memegang barang gadaian diperbolehkan juga mengambil manfaat barang tersebut dengan sekedar ganti kerugianya untuk menjaga barang itu.
Sabda Rosulullah Saw :
Apabila seekor kambing digadaikan, maka yang memegang barang  gadaian itu boleh meminum susunya sekedar sebanyak makanan yang di berikannya pada kambing itu. Jika lebih dari itu, maka lebihnya adalah riba.(HR. Hammad bin salmah)
F. Bertambahnya barang yang digadaikan  
1. Tambahan yang terpisah
     Tambahan yang terpisah seperti telur, buah, atau anak yang lahir sesudah digadaikan, tidak termasuk barang yang di gadaikan, tetapi tetap kepunyaan orang yang menggadaikan.
2 . tambahan yang tidak dapat dipisahkan
Tambahan yang tidak dapat dipisahkan seperti tambah gemuk, tambah besar, dan anak yang masih dalam kandungan, semuanya itu termasuk dalam barang jaminan.
Jadi apabila seseorang mengadaikan sawah, pohon kelapa, pohon mangga,dan semua penghasilanya diambil orang yang menerima gadai, maka hal itu tidak sah dan tidak halal sebab gadai itu hanya berguna untuk menambah kepercayaan orang yang memberi hutang kepada orang yang berhutang, bukan untuk mencari keuntungan bagi yang berpiutang.
Nabi bersabda :  
كل قرض جر منفعه فهو وجه من وجو ه الربا
Tiap-tiap piutang yang mengambil manfaat, maka itu salah satu dari beberapa macam riba   (riwayat Baihaqi)                                




BAB III
KESIMPULAN

Jaminan atau gadai adalah suatu barang yang dijadikan penguat keprcayaan dalam hutang piutang. Mengambil manfaat barang yang di gadaikan, di perbolehkan  bagi yang memegang barang dengan hanya sekedar ganti kerugianya untuk menjaga barang jaminan tersebut atas izin yang punya barang, dengan tidak merusak dan tidak mengurangi nilai barang tersebut. Karena pada dasarnya manfaat barang jaminan itu tetap kepunyaan orang yang menggadaikan
Sedangkan bertambahnya barang gadaian ada dua macam:
1.      Tambahan yang terpisah bukan termasuk barang jaminan
2.      tambahan yang tak terpisah termasuk dalam barang jaminan.





DAFTAR PUSTAKA
Ø  Al- Quran  Al-karim, QS Ai-Baqarah : 283
Ø  Asyatiri, Sayyid Ahmad Ibnu Umar, Alyaqutu Annafisa Fi Madzhabi Ibnu Idris, Maktabah Alhidayah, Surabaya.
Ø  Algazi, Muhammad Ibnu Qasim, Fathu Al-Qarib Al-mujib, Al-Haramain, halaman 32
Ø  Asyafi’i, Imam Taqiyyudin abi Bakrin Ibnu muhammad alhusaini alhusni addimisyaqi, Kifayatu Al- Ahyar, Syirkah Maktabah Ahmad Ibnu Sa’id Ibnu Nabhan waauladuhu, Surabaya, jiz I, hlm 263.
Ø  Syafi’i Rahmad, Fiqh Muamalah, Prof. Dr. H.MA, cv Pustaka Setia, Bandung, 2001,
    

3 komentar:

World Clock